Layanan Perpustakaan Harus Luar Biasa

Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpustakaan Nasional RI, Dr Joko Santoso MHum mengatakan

Layanan Perpustakaan Harus Luar Biasa
SERAMBINEWS.COM/YARMEN DINAMIKA
Kepala Dinas Arpus Aceh, Dr Wildan MPd (kanan) menyerahkan plakat kepada Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpustakaan Nasional RI, Dr Joko Santoso MHum selaku narasumber tunggal dalam Seminar Rencana Strategis Perpustakaan di Aula Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Arpus) Aceh 

BANDA ACEH - Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpustakaan Nasional RI, Dr Joko Santoso MHum mengatakan, di era milenial ini fungsi perpustakaan harus bertransformasi dari sekadar tempat koleksi buku dan pelayanan literasi, menjadi pusat kegiatan yang menyenangkan bagi masyarakat.

Layanan perpustakaan pun tidak hanya sekadar memenuhi standar sebagai perpustakaan yang baik, tapi harus menjadi perpustakaan yang luar biasa. “Salah satu ciri perpustakaan yang luar biasa itu adalah mampu membentuk komunitas literasi,” kata Dr Joko Santoso saat menjadi narasumber tunggal dalam Seminar Rencana Strategis Perpustakaan di Aula Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Arpus) Aceh, Selasa (25/9) siang.

Acara tersebut diikuti 100 peserta yang terdiri atas tim riset, pejabat eselon III dan IV, pustakawan, dan arsiparis di lingkungan Dinas Arpus Aceh. Hadir juga Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banda Aceh dan Kabid Perencanaan Bappeda Aceh.

Acara dibuka resmi oleh Kepala Dinas Arpus Aceh, Dr Wildan MPd, sedangkan sesi seminar dimoderatori Dr Taufiq Abdul Gani selaku Kepala UPT Perpustakaan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Dalam ceramahnya yang memikat, Joko Santoso menyarankan agar pustakawan kreatif mewadahi berbagai aktivitas masyarakat yang layak dipusatkan di perpustakaan sehingga memberikan nilai tambah (value added) kepada pemustaka, sesuai kebutuhan mereka di era digital.

Joko menyebutkan, perpustakaan yang buruk adalah yang hanya menyimpan koleksi (bahan bacaan), perpustakaan yang baik hanya bertumpu pada pelayanan, sedangkan perpustakaan yang luar biasa adalah perpustakaan yang mampu membangun komunitas.

Ia tekankan agar perpustakaan harus mampu memunculkan ruang-ruang baru, mulai dari yang konvensional hingga ke virtual, untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyatakat.

“Ada 64 jenis layanan yang kini bisa diberikan perpustakaan kepada masyarakat. Termasuk sebagai tempat untuk diskusi, belajar kelompok, pelatihan kerja, mengakses internet, bedah buku, hingga arisan,” ujarnya.

Joko juga menyebutkan bahwa membaca akan membawa pengaruh positif pada wawasan seseorang, pada perilaku, bahkan kesejahteraan, dan masa depannya.

Joko Santoso mengingatkan, para pustakawan harus pula kreatif dan inovatif dalam menata perpustakaan sesuai selera dan kebutuhan pemustaka sehingga perpustakaan tetap selalu ramai dikunjungi masyarakat.

Ia sebutkan contoh bahwa di Amerika Serikat saat ini ada perpustakaan yang bukan saja mengoleksi buku untuk dipinjamkan, tetapi bahkan menyediakan barang-barang atau perlengkapan rumah tangga yang sering diperlukan masyarakat. Misalnya, menyediakan mesin pemotong rumput, gergaji mesin, gergaji listrik, gerenda, kemah, hingga mixer, dan blender.

Sementara itu, Dr Wildan mengatakan dinas yang baru dipimpinnya empat bulan lalu itu terus berbenah dengan meningkatkan jumlah anggota pustaka, menyiapkan layanan digital, dan menjadikan kantor tersebut sebagai rumah bersama bagi komunitas literasi di Aceh.

“Salah satu komunitas literasi yang tiap minggu rutin memanfaatkan aula Arpus Aceh untuk pelatihan-pelatihan literasi adalah Forum Aceh Menulis (FAMe). Komunitas literasi lainnya pun kita ajak untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di kantor ini untuk kegiatan literasi dan meningkatkan minat baca masyarakat Aceh,” demikian Wildan. (dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved