Opini

Renungan Azan

AZAN disyariatkan pada tahun pertama Rasulullah saw dan para sahabat hijrah ke Madinah

Renungan Azan
Ilustrasi Azan 

Oleh Adnan

AZAN disyariatkan pada tahun pertama Rasulullah saw dan para sahabat hijrah ke Madinah. Saat itu, kaum muslimin sering menunggu-nunggu waktu shalat di masjid, tapi tidak ada seruan untuk menunaikan shalat. Dari asbabun wurud ini, muncul perbincangan di kalangan sahabat agar adanya seruan untuk menunaikan shalat. Hingga lahirlah berbagai ide, gagasan, dan usulan tentang media seruan untuk menunaikan shalat di masjid. Semisal, meniup terompet, memukul lonceng, membakar api, menancapkan bendera, hingga menyeru dengan kalimat biasa saja: Ayo shalat! Tapi, usulan-usulan itu ditolak oleh Rasulullah saw, karena menyerupai (tasyabbuh) kaum tertentu.

Hingga para sahabat pun bermimpi tentang media seruan untuk menunaikan shalat. Di antara para sahabat yang bermimpi itu Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah Al-Anshari, Bilal bin Rabah, dan Umar bin Khattab ra. Mereka bermimpi bahwa media seruan untuk menunaikan shalat yakni azan. Lalu, mimpi itu dilaporkan kepada Rasulullah saw. Akhirnya, Rasulullah saw pun menyetujuinya, lalu menyuruh Bilal bin Rabah berdiri menghadap kiblat dan segera mengumandangkan azan. Sejak saat itulah pertama kali dalam sejarah Islam, sayup-sayup indah suara azan diperdengarkan hingga ke seluruh pelosok Madinah. Kaum muslimin dari berbagai penjuru pun berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah.

Menggerakkan massa
Sayup-sayup suara azan pun berkumandang hingga ke negeri kita saat ini. Keberadaan azan berfungsi untuk menandai masuk waktu, memanggil, dan menyeru manusia beriman untuk menunaikan shalat berjamaah di Masjid. Azan bukan hanya sekadar seruan tanpa makna yang berfungsi untuk didengar semata. Tapi, azan berfungsi untuk menggerakkan dan memobilisasi massa agar menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Jika azan tidak dikumandangkan, maka kaum muslimin akan kesulitan menandai masuk waktu shalat, mereka pun akan shalat di rumah. Sebab itu, azan dikumandangkan agar mampu mengerahkan massa menuju masjid untuk shalat berjamaah.

Sebab itu, pesan profetik bahwa shalat berjamaah lebih utama 25 hingga 27 derajat dibandingkan shalat sendirian. Azan diseru agar kaum muslimin memperoleh kebaikan, keutamaan, dan kemenangan di dunia dan akhirat. Maka untuk menggapai fungsi tersebut, azan dikumandangkan dengan suara keras (rafa’) dan dapat didengar jauh. Agar seluruh kaum muslimin, baik yang tinggal berdekatan maupun berjauhan dengan masjid, dapat mendengarkan seruan azan. Jika azan dikumandangkan secara sembunyi-sembunyi dan eksklusif, maka akan terhambat kaum muslimin memperoleh kebaikan, keutamaan, dan kemenangan secara kolektif.

Maka satu kriteria muazin adalah memiliki suara keras semisal Bilal bin Rabah. Bahkan, Rasulullah saw menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan di atas rumahnya, agar suara azan mampu menembus jarak dan dinding-dinding rumah kaum muslimin. Sabdanya, “Rumah yang paling panjang adalah rumahku. Bilal adalah orang yang mengumandangkan azan Subuh di atas rumah itu.” (HR. Abu Dawud). Kini teknologi pun semakin berkembang. Jika dulu muazin harus memanjat menara masjid untuk azan. Tapi, sekarang pengeras suaralah (speaker) yang dipasang di atas puncak menara, agar seruan azan menggema hingga ke seluruh penjuru mata angin. Speaker berfungsi sebagai penghubung suara muazin di dalam masjid.

Maka siapa saja yang mendengarkan seruan azan tanpa memiliki halangan (udzur) berkewajiban untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid. Jika ini dilaksanakan oleh kaum muslimin, maka tegaklah fungsi azan sebagai seruan untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid. Tapi, realitasnya menunjukkan bahwa fungsi azan belum terealisasi secara maksimal di negeri ini. Azan hanya sekadar dijadikan simbol-simbol Islam saja, tapi tidak diikuti seruannya. Bahkan, saat handphone (HP) berdering tanda panggilan atau pesan masuk tiba begitu cepat tangan meraba. Menghentikan sejenak aktivitas demi berbicara, membaca an membalas WA. Jika jarak HP berjauhan dengannya, maka kaki pun sigap melangkah berlarian untuk mengambilnya.

Kita merindukan kondisi itu saat seruan azan tiba. Menghentikan aktivitas sejenak dan berbondong-bondong pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Bukankah HP hanya mampu menghubungkan manusia dengan manusia saja? Azan mampu menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Bukan sekadar manusia normal dan sempurna, tuna netra saja jika ia mendengarkan seruan azan wajiblah memenuhinya. Begitulah sabda Rasulullah saw kepada Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat tuna netra, ketika meminta keringanan kepadanya agar tidak menunaikan shalat di masjid. Sabdanya, “Jika engkau dapat mendengarkan seruan azan maka penuhilah panggilan itu.” (HR. Muslim).

Patut kita membayangkan jika suatu saat azan tak lagi berkumandang. Saat itu kaum muslimin telah ingkar, atau seruan azan telah dikekang dan dilarang oleh penguasa. Bukan mustahil itu terjadi, jika kaum muslimin lalai dan tak menghiraukan keberadaan azan. Lihat saja negara-negara yang minoritas kaum muslimin, semisal Swis dan Belanda, azan diserukan secara eksklusif. Tentu kaum muslimin di sana sangat merindukan azan dikumandangkan secara inklusif dan menjadi konsumsi publik. Belum lagi di Benua yang sama sekali tidak ada seruan azan. Pasti mereka merindukan azan laksana kaum muslimin Madinah merindukan suara azan dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah yang telah bertahun ia tinggalkan pascawafat Rasulullah saw.

Bahkan, profetik berpesan bahwa banyak keutamaan (fadhilah) dalam azan. Sabdanya, “Jika seandainya manusia itu tahu tentang kelebihan azan dan berdiri pada shaf pertama saat shalat. Sungguh mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengundi terlebih dulu.” (HR. Bukhari-Muslim). Bukan sekadar itu, nilai-nilai ketauhidan dan kebaikan pun terdapat dalam kalimat azan. Pantas jika setan lari tunggang-langgang ketika azan berkumandang, sebab setan putus asa dan pupus harapan untuk menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Manusia beriman sangat merindukan seruan azan, sebab azan panggilan untuk menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya.

Seruan kebaikan
Sebab itu, azan bukanlah seruan mengganggu dan mengusik. Azan bukan pula seruan intoleran, anti-kebhinnekaan, radikalisme, teroris, dan sejumlah isu miring lainnya. Tapi, azan adalah seruan kedamaian, kebaikan, dan kemenangan. Apalagi azan dikumandangkan di wilayah atau negeri mayoritas kaum muslimin. Tentu sebuah kewajaran dan keharusan sebagai suatu identitas wilayah atau negeri tersebut. Pesan profetik bahwa hanya setan yang merasa terganggu dan terusik jika azan dikumandangkan. Sebagaimana terungkap dalam sebuah hadis, “Jika azan dikumandangkan maka berlarilah setan terbirit-birit hingga ia tidak lagi mendengarkan suara azan.” (HR. Bukhari-Muslim). Maka jika ada manusia yang terganggu dan terusik dengan seruan azan, tak ubahnya seperti setan.

Pun, jika ada penguasa yang benci dengan seruan azan, marah jika azan dikumandangkan, dan menganggap azan seruan intoleran, anti-kebhinnekaan, radikalisme, teroris, mengganggu dan mengusik, serta merusak pluralitas dan multikulturalisme dalam berbangsa, bernegara, dan beragama. Maka itu tak lebih dari ketakutan terhadap kebaikan dan kedamaian laksana setan putus harapan dalam menjerumuskan manusia ke dalam kejahatan dan kesesatan. Maka azan harus terus dikumandangkan melalui speaker pengeras suara di atas puncak menara, untuk menyeru manusia beriman menghambakan diri kepada Pencipta alam semesta. Untuk itu, kita berharap sayup-sayup seruan azan terus berkumandang di negeri ini hingga kiamat tiba. Semoga!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved