Salam

Banyak Duit tapi Rakyat Miskin

Tiga daerah di Aceh, yakni Kabupaten Singkil, Gayo Lues, dan Pidie Jaya tercatat paling banyak penduduknya yang berkategori miskin

Banyak Duit tapi Rakyat Miskin
THINKSTOCKS/Kompas.com
Ilustrasi rupiah dan dollar AS 

Tiga daerah di Aceh, yakni Kabupaten Singkil, Gayo Lues, dan Pidie Jaya tercatat paling banyak penduduknya yang berkategori miskin. Catatan tahun lalu, penduduk miskin di Singkil mencapai 22,11 persen, Gayo Lues (Galus) 21,97 persen, dan Pidie Jaya (Pijay) 21,82 persen dari total penduduknya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Drs Wahyudin MM, mengatakan, secara nasional periode Maret 2018, Aceh menempati peringkat keenam termiskin dari seluruh Indonesia dengan angka 15,97 persen. Persentase penduduk miskin tertinggi tercatat di Papua sebesar 27,74 persen, dan persentase penduduk miskin terendah di DKI Jakarta sebesar 3,57 persen.

Dan, sampai tahun ini, ternyata pedesaan masih menjadi kantong-kantong penduduk miskin di Aceh. Danm, jumlah penduduk miskin di desa mencapai hampir dua kali lipat dari penduduk msikin yang ada di perkotaan. Hingga kini, ada 18,49 persen penduduk miskin di pedesaaan, sedangkan di perkotaan hanya 10,44 persen.

Tingginya angka kemiskinan di pedesaan karena di perkotaan segala kebutuhan sudah tersedia. Sedangkan di pedesaan belum semuanya tersedia, sehingga untuk mendapatkan sesuatu harus ke kota. “Selain itu, sebagian besar masyarakat di pedesaan bergerak di bidang pertanian. Sebagian masyarakat miskin itu ada di usaha pertanian, karena mereka menjadi petani penggarap yang tidak memiliki lahan sendiri,” kata pejabat Kantor Statistik Aceh itu.

Lebih memprihatinkan lagi, menurut guru besar ekonomi Unsyiah, Prof Dr Raja Masbar Msc, dana desa yang diberikan lebih kurang mencapai Rp 1 miliar per desa ternyata belum mampu mengurangi angka kemiskinan. “Ini terjadi karena persoalan elite desa, yakni struktur kekuasaan di desa yang berkaitan dengan keluarga, bisnis, politik dan akumulasi aset. Maka selesaikan dulu masalahnya,” ujar sang professor.

Kepala Bappeda Aceh, Azhari SE Msi justru menyebut dua hal yang menyebabkan angka kemiskinan di Aceh tetap tinggi. Pertama ia menuding, keterlambatan penetapan APBA hampir setiap tahun menjadi salah satu sebab sulitnya menurunkan angka kemiskinan. Dan, kedua, perencanaan program tidak fokus. “Maka, birokrat harus berani memfokuskan anggaran,” ujarnya.

Ya, fakta-fakta yang teranalisis secara cermat itu telah membuktikan bahwa Aceh ini miskin bukan karena kita tak punya uang, tapi kita tak pandai menggunakan uang secara cermat, selain memang banyak duit hak rakyat yang dikorup. Kita takut, jika masalah inki tak terselesaikan rakyat kita menjadi seperti tikus yang kelaparan di lumbung padi. Atau, kita benar-benar akan kelaparan kala dana-dana khusus yang selama ini kita terima sudah habis?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved