Pemerintah Kekurangan Obat Penyakit Ngorok

Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya kekurangan obat-obatan untuk penyakit Septicaemania Epizootika

Pemerintah Kekurangan Obat Penyakit Ngorok
DOK.HUMAS ACEH TENGAH
Kerbau Gayo 

SUKA MAKMUE - Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya kekurangan obat-obatan untuk penyakit Septicaemania Epizootika (SE), atau penyakit ngorok terhadap ternak seperti kerbau dan sapi di Nagan Raya, karena tidak dianggarkan dalam APBK tahun 2018. Namun dalam penanganan perngobatannya, ternak yang mengalami penyakit ngorok di Tadu Raya menggunakan obat yang diperuntukkan terhadap ternak kecil.

Obat tersebut dibenarkan untuk digunakan kepada ternak besar yang mengalami penyakit SE. “Pengadaan obat-obatan hanya dialokasikan sekitar Rp 21 juta tahun ini, dari jumlah tersebut untuk pengadaan obat terhadap ternak kecil sekitar Rp 5 juta dan untuk ternak unggas sekitar Rp 3 juta rupiah, selebihnya digunakan untuk keperluan medis lainnya, sedangkan pengadaan obat untuk ternakbesar tidak ada tahun ini,” kata Safizal, Kabid Peternakan pada Dinas Pertanian dan Peternakan Nagan Raya kepada Serambi, Kamis (27/9).

Ia menambahkan, tidak adanya persediaan obat untuk pengobatan ternak besar masih ada solusi penanganannya, karena masih bisa menggunakan obat yang diperuntukkan untuk pengobatan ternak kecil. Sedangkan untuk melakukan vaksin pihak dinas terkait Nagan Raya telah melaporkan hal itu kepada dinas terkait di Banda Aceh untuk membantu suplai obat ke Nagan Raya.

Disebutkan, menyangkut dengan kebutuhan obat dalam waktu dekat akan sampai ke Nagan Raya yang dikirim dari Banda Aceh, dan semua ternak nantinya akan dilakukan vaksin agar memiliki ketahanan tubuh dengan harapan ternak warga dapat terhindar dari penyakit ngorok.

“Saat ini tim kita stand by di lapangan, di daerah Tadu Raya guna kesiapan dalam menangani penyakit ngorok di wilayah itu, dan meminta masyarakat untuk melaporkan hal itu kepada petugas di Keswan yang ada di wilayah itu supaya dapat ditangani secara cepat,” jelas Safrizal.

Data Dinas Pertanian dan Peternakan Nagan Raya, sekitar 15 ternak kerbau dilaporkan mati dan dipotong paksa sekitar 18 kerbau sepanjang September 2018. Gejala penyakit yang muncul pada ternak kerbau seperti susah bernafas, bengkak pada leher, suara ngorok, suhu tubuh tinggi, hipersalivasi dan kejang-kejang dan akhirnya mati.(c45)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved