Opini

Kasta dalam Pendidikan Kita

FENOMENA perkembangan institusi pendidikan dewasa ini begitu cepat, bukan hanya menjadi institusi penyedia

Kasta dalam Pendidikan Kita
SERAMBINEWS.COM/SARI MULIYASNO
Siswa Simeulue memperlihatkan hadiah yang diraih dari berbagai lomba yang diikuti di tingkat daerah maupun di luar daerah usai upacara Hardikda ke-59 

Oleh Nailul Authar

FENOMENA perkembangan institusi pendidikan dewasa ini begitu cepat, bukan hanya menjadi institusi penyedia layanan kebutuhan akan ilmu pengetahuan, akan tetapi bertransformasi melebihi dari batas itu. Institusi pendidikan berkembang layaknya sebuah perusahaan yang hanya berorientasi pada hasil dan keuntungan material. Kini kita tidak terlalu sulit mencari kesamaan institusi pendidikan dengan perusahaan-perusahaan profit yang hanya mengejar laba dan keuntungan. Kemudian lagi, sekolah juga telah mengotakkan anak-anak pada kelas-kelas sosial tertentu.

Pertanyaan yang kemudian muncul dari transformasi institusi tersebut adalah apakah wujud institusi pendidikan sekarang ini adalah bentuk ideal sebagai jasa penyedia layanan pendidikan bagi anak-anak bangsa? Apakah institusi ini akan mengajarkan anak-anak kita bahwa dalam kehidupan ini mereka tidak hidup dalam kasta yang sama, kasta inti, kasta unggul, kasta sekolah pedalaman, kasta sekolah negeri, atau kasta sekolah swasta? Apakah anak kita akan tahu bahwa di luar kelas unggul mereka, di luar sekolah elite mereka ada anak-anak lain yang berusaha untuk mewujudkan cita-citanya satu per satu dari level nol?

Kapitalisme kehidupan
Pendidikan Indonesia sekarang terlihat seperti mengikuti kapitalisme kehidupan, di mana meraka yang memiliki modal yang lebih baik akan mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Harusya kita harus belajar dari konsep ekonomi dasar bahwa pendidikan harus dapat dikelola dengan efektif dan efisien untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Artinya pendidikan yang bermutu tidak selalu harus berbiaya mahal.

Konstistusi kita telah membangkai dengan baik bahwa setiap anak memiliki hak yang sama dalam mengakses pendidikan yang bermutu. Klasifikasi pendidikan pada kelas-kelas tertentu dengan label inti atau unggul secara tidak langsung telah memilah-milah kualitas pendidikan kita pada level yang berbeda-beda. Bukankah awalnya kita sepakat dalam konstitusi kita bahwa semua anak mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan?

Di era penjajahan Belanda, Ki Hadjar Dewantara telah dengan tegas mengkritik melalui lembaga Taman Siswanya mengenai regulasi pemerintah kolonial Belanda yang hanya memberikan akses pendidikan terbatas hanya bagi kaum priyayi, bangsawan, dan berdarah campuran saja. Merdekanya Indonesia, tentunya juga memerdekakan akses pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia dengan kualitas yang sama. Sejarah juga telah membuktikan bahwa model pendidikan seperti ini hanya akan memajukan kelas-kelas masyarakat tertentu saja. Di lain sisi pendidikan sangat dibutuhkan pada dasarnya oleh kaum marginal atau rakyat yang tingkat kesejahteraannya rendah sebagai saluran dalam mobilitas sosial mereka. Artinya, pendidikan adalah suatu corong yang paling memungkinkan bagi masyarakat kelas rendah kita untuk memiliki kehidupan yang lebih baik ke depannya.

Akses pendidikan yang terbatas bagi mereka ini yang kemudian akan menjadi hambatan masyarakat kelas ini untuk berkembang dan maju. Masyarakat kelas bawah telah menjadi orang nomor dua dalam semua segmen kehidupan berbangsa mereka hari ini. Hampir di segala bidang, mulai dari akses layanan kesehatan, makanan, hingga akses pendidikan yang seharusnya bisa menjadi harapan utama masyarakat kelas ini untuk bergerak ke atas.

Dengan munculnya kelas-kelas sosial tertentu dalam masyarakat yang sengaja dibentuk dalam pendidikan akan berimplikasi pada berdirinya sekolah-sekolah yang hanya untuk menampung anak-anak pada kelas tertentu saja, lahirnya sekolah elite berbiaya tinggi yang hanya bisa diakses oleh masyarakat kelas atas, telah membentuk kelompok anak-anak kelas atas pada ruang pergaulan yang sama. Apakah kemudian kita berpikir bahwa kapan anak-anak dari kelas elite ini akan belajar bahwa ada masyarakat kelas bahwa yang hidupnya serba kekurangan yang juga hidup di antara kita? Kapan anak-anak tersebut akan belajar tentang makna berbagi apabila mereka semuanya berkelebihan?

Stratifikasi sosial
Di lain sisi stratifikasi sosial nyata kehidupan akan terlihat sulit muncul, karena bentuk kelas sosial buatan ini. Akibatnya akan sulit kita lihat suasana anak-anak dari kelas ekonomi yang baik bergaul dengan anak-anak dari kelas ekonomi rendah. Anak-anak akan kesulitan juga untuk mengadaptasi perbedaan kelas yang ada pada masyarakat. Bukankah pendidikan menyajikan pelajaran dari berbagai sisi yang menyeluruh, mengajarkan bahwa kita hidup pada bentuk kelas sosial yang berbeda-beda? Ada yang berhasil secara ekonomi dan meraih pendidikan tinggi dan ada sebagian masyarakat kelas ekonomi rendah yang masih berjuang untuk mewujudkan kesejahteraannya.

Satu hal lagi yang luput adalah pendidikan kita tidak terlalu berupaya untuk menggeneralisir semua anak-anak pada level yang sama. Padahal, seyogianya anak-anak datang ke sekolah dari bermacam-ragam latar belakang. Tidak mungkin semua anak datang ke sekolah dalam kondisi yang ideal dan normal.

Melihat kondisi Indonesia hari ini, sangat memungkinkan anak-anak datang ke sekolah dengan berbagai macam latar belakang masalah. Ada yang bermasalah secara ekonomi, ada yang memiliki masalah keluarga, trauma kekerasan dalam rumah tangga, konflik daerah, dan lain sebagainya. Ini kemudian harus dilihat secara berbeda penanganannya oleh institusi pendidikan kita hari ini. Bukannya pendidikan kita untuk semua anak dan tak ada seorang pun yang ditinggalkan.

Urgensi pendidikan kita hari ini adalah bagaimana kita bisa membangun kualitas pendidikan yang sama di semua wilayah Indonesia dengan penguatan system pendidikan dan penguatan kualitas tenaga pendidik. Dengan kualitas yang sama ini semua anak akan mendapatkan pelayanan pendidikan dengan kualitas yang sama tanpa adanya kesenjangan kualitas. Bagaimana kita mengharapkan putra-putri daerah yang kompeten, tapi sekolah atau gurunya hanya datang seminggu dalam sebulan. Fenomena-fenomena ini harus menjadi bahan evaluasi untuk mewujudkan pendidikan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

* Nailul Authar, Guru Sekolah Sukma Aceh. Email: nailulauthar@hotmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved