Opini

PDF Peta Baru Pendidikan Nasional

BANYAK yang belum mencermati dengan seksama perubahan peta baru satuan pendidikan di Indonesia

PDF Peta Baru Pendidikan Nasional
ist
Pemkab Aceh Singkil menggelar upacara peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) di halaman kantor bupati setempat, di Pulau Sarok, Singkil 

Oleh Teuku Zulkhairi

BANYAK yang belum mencermati dengan seksama perubahan peta baru satuan pendidikan di Indonesia. Setidaknya ini pengalaman pribadi penulis berinteraksi dengan sejumlah praktisi dan stakeholder pendidikan yang selama ini konsen dalam dunia pendidikan.

Sejak 2015, peta baru satuan pendidikan formal secara nasional telah bertambah dengan munculnya Pendidikan Diniyah Formal yang disingkat PDF. PDF ini diluncurkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia sebagai satuan baru dalam peta pendidikan formal di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) No.13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam.

Sebagai catatan, PMA ini sendiri merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah No.55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang merupakan implementasi dari UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jadi, PDF ini lahir setahun setelah keluarnya PMA tersebut. Jadi, mengingat satuan PDF yang baru muncul tiga tahun lalu, maka sangatlah dipahami alasan kenapa banyak di antara praktisi dan stakeholder pendidikan yang belum mengetahui peta baru ini.

Secara ringkas dapat dijelaskan, jika sebelumnya kita hanya mengenal pendidikan formal seperti sekolah dengan jenjang pendidikan yang dimulai dari SD, SMP, SMA dan berlanjut perguruan tinggi umum, serta madrasah yang dimulai dari MI, MTs, MA dan berlanjut ke perguruan tinggi keagamaan Islam. Maka kini peta itu bertambah dengan munculnya PDF yang dimulai dari tingkat ula (dasar), wustha (menengah), ‘ulya (tinggi) dan kemudian berlanjut ke tingkat Ma’had ‘Aly.

Istimewanya, PDF ini hanya khusus diselenggarakan oleh dan di pesantren/dayah saja, dengan persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh PMA tersebut, seperti adanya santri sebanyak 300 orang setiap tahun sejak 10 tahun terakhir. Jadi selain dayah tidak bisa menyelenggarakan satuan pendidikan ini. Penyelenggara PDF ini, di samping tentu saja memiliki tanggung jawab, namun juga memiliki hak, seperti dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), legalitas ijazah dan sebagainya yang memang hemat penulis akan sangat membantu menyukseskan penyelenggaraan pendidikan.

Maka kehadiran PDF dalam satuan pendidikan formal di Indonesia sudah seharusnya disambut dengan antusiasme dan dukungan dari berbagai stakeholder pendidikan, khususnya di Aceh. Sebab, PDF ini adalah formula baru dalam pengembangan dayah, mendapat legalitas formal dalam sistem pendidikan nasional dan di sisi lain dengan tetap menjaga ciri khas dayah yang berlandaskan pada studi turats klasik.

Belum cukup
Lahirnya PDF berawal dari fakta bahwa keberadaan sekolah dan madrasah dianggap belum cukup mampu melahirkan alumnus yang mampu menjawab tantangan dunia dengan paradigma Islam, serta dalam menyelesaikan berbagai problem yang muncul di tengah umat.

Faktanya sekolah hanya mengajarkan mata pelajaran Agama 2-3 jam pelajaran/minggu. Sementara madrasah pun mata pelajaran Agama hanya dikembangkan melalui lima mata pelajaran: Alquran-Hadis, Akidah-Akhlak, Fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab. Jika dibandingkan dengan pelajaran umum, di madrasah hanya 25% pelajaran agama dan 75% pendidikan umum.

Nah, PDF ini sebaliknya. Berdasarkan kurikulumnya yang ditetapkan PMA 75% pelajaran agama dan 25% pelajaran umum. Bahkan pelajaran umum pun akan dikemas dengan model pembelajaran kitab, yang ditulis dalam bahasa Arab. Untuk tingkat wustha, pelajaran yang diajarkan yaitu Alquran, Tafsir-Ilmu Tafsir, Hadis-Ilmu Hadis, Tauhid, Fiqh-Ushul Fiqh, Akhlak-Tasawuf, Tarikh, Bahasa Arab, Nahwu-Sharf, Balaghah, dan Ilmu Kalam. Untuk pelajaran umum, yang diajarkan di tingkat wustha adalah Pendidikan Kewarganegaraan, bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jadi di tingkat wustha ini, ada 11 mata pelajaran agama dan 4 pelajaran umum.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved