Salam

Kebijakan E-Parking Jangan Terkesan Pemko tidak Adil

Penerapan parkir eletronik (e-parking) Jalan T Panglima Nyak Makam, Banda Aceh, ternyata mendapat keluhan

Kebijakan E-Parking Jangan Terkesan Pemko tidak Adil
KENDARAAN keluar dari area electronic parking yang pertama dibangun di Jalan T Nyak Makam, Banda Aceh, Senin (8/1/2018). Saat ini pemerintah Kota Banda Aceh sedang melakukan survey untuk menambah 20 titik electronic parking lainnya di seputaran kota.

Penerapan parkir eletronik (e-parking) Jalan T Panglima Nyak Makam, Banda Aceh, ternyata mendapat keluhan dari para pemilik usaha di lokasi itu. Sejak diterapkan parkir sistem eleltronik itu, menurut mereka, omset usahanya turun drastis. Sebelumnya bisa mencapai Rp 3 juta perhari, kini hanya Rp sekitar 800 ribuan karena minimnya warga yang datang. Kondisi itu telah memaksa warung-warung kopi besar serta beberapa toko lainnya di kawasan tersebut sudah menutup usahanya.

Namun, Pemerintah Kota punya alasan yang cukup untuk menerapkan kebijakan itu. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banda Aceh, Drs Muzakir Tulot MSi menjelaskan, alasan lokasi itu dijadikan areal e-parking percontohan karena di kawasan itu dominan menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan, serta ‘merampas’ garis sepadan bangunan (GSB) sepanjang 10-15 meter dari jalan. “Tujuan kita ingin mengembalikan fungsi jalan. Lalu GSB yang selama ini disalahgunakan dapat kembali menjadi jalur pedestrian. Sehingga tujuan ke depan sepanjang Jalan TP Nyak Makam itu menjadi kawasan tertib lalu lintas,” sebut Muzakir.

Bahkan ke depan, pihaknya berencana untuk menambahkan e-parking di lima titik sepanjang Jalan TP Nyak Makam. “Tahun 2018 ini kita memang tidak ada anggaran. Tapi 2019 sudah programkan dibangun lima lokasi e-parking lagi di ruas jalan yang sama. Target Pemernmtah Kota adalah, lalu lintas di jalan itu akan tertib dan lancar, tak lagi semrawut dan sering macet seperti sekarang.

Memang, sebelumnya, di lokasi percontohan parkir elektronuk termasuk paling maju dan menyedot pengunjung, terutama karena ada lima empat warung kopi besar di sana. Dan, ini memang termasuk salah satu kawasan favorit bagi para pecandu kopi. Namun, di balik suasana suka bagi pengunjung dan pengusaha setempat, ada sisi lain yang terganggu, yakni pengguna Jalan TP Nyak Makam. Para pengunjung warung atau usaha-usaha di sana memarkir kendaraannya hingga mengambil separuh badan jalan. Macet pun tak terelakkan, terutama pada sore dan malam hari. Apalagi, jalan itu kini termasuk jalan paling padat lalu lintas di Banda Aceh.

Maka, GSB ditertibkan dan dijadikan tempat parkir, warung-warung kopi di lokasi itu kehilangan lahan tempat menampung pelanggan. Jadi, anjloknya omset para pedagang di sana, pertama karena lokasi usaha menyempit, dan kedua karena lahan parkir sudah terbatas.

Yang menjadi protes pengusaha di lokasi parkir eletronik itu karena Pemerintah Kota Banda Aceh dianggap tidak bersikap adil. “Kami mendukung kemajuan Kota Banda Aceh dalam penertiban dan pengelolaan parkir. Namun, semestinya terobosan tersebut dapat diberlakukan sama, sehingga tidak terjadi kesenjangan di antara pedagang di kawasan satu dan kawasan lainnya.

Bila saja e-parking dibangun rata di sepanjang Jalan TP Nyak Makam, mungkin tidak jadi persoalan. Namun, keberadaan e-parking di depan 28 toko sebagai areal parkir percontohan Banda Aceh itu dinilai sebagai kebijakan yang mematikan perekonomian sebagian rakyat. Maka, cepat-cepatlah bangun kawasan parkir elektronik lainnnya agar para padagang tadi tidak merasa dianaktirikan. Dan, penertiban GSB mestinya juga dilakukan secara menyeluruh, jangan sepenggal-penggal sehingga banyak pedagang yang terkena penertiban merasa “terzalimi”.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved