Selasa, 2 Juni 2026

ESDM Pastikan  Ada Gas Metan

Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh memastikan bahwa semburan lumpur di Dusun Rukun

Tayang:
Editor: hasyim
di lubang semburan lumpur di Karangbaru, Aceh Tamiang, Jumat (5/10/2018). Dipastikan semburan mengandung gas metan. serambi/Rahmad Wiguna 

* Di Semburan Lumpur Desa Bundar

KUALASIMPANG - Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh memastikan bahwa semburan lumpur di Dusun Rukun, Desa Bundar, Karangbaru, mengandung gas metan. Diperkirakan semburan ini akan berhenti sendiri seiring dengan habisnya gas.

Kesimpulan ini diperoleh setelah tim Dinas ESDM Aceh mengecek sumber semburan lumpur pada Jumat (5/10) siang. Diketahui bahwa semburan itu mengandung kadar karbon dioksida (CO2) 1.883 ppm, metan (CH4) 1,1 - 1,4 ppm, electrical conductivity (EC) 366 uS/cm dan pH 6,8.

Namun, dipastikan kadar gas yang terkandung masih di bawah ambang batas. Badan Standarisasi Nasional sudah menetapkan ambang batas untuk CO2 9.000 ppm, sedangkan untuk CH4 versi American Conference of Government Industrial Hygienist sebesar 10 ppm.

“Merujuk dari data-data ini, kami menyimpulkan kandungan gas ini masih di bawah ambang batas,” kata staf Dinas ESDM Aceh Yusmardani Arya Putra.

Meski begitu warga tetap dimbau tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api, seperti membakar sampah di dekat area semburan. “Untuk sementara jangan membakar sampah di areal itu,” sambungnya.

Tim memprediksi semburan gas itu berasal dari gas dangkal (shallow gas). Menurut informasi yang dikumpulkan di lokasi kejadian, diketahui daerah itu pernah ditemukan beberapa titik semburan serupa. Merujuk kejadian terdahulu, fenomena ini akan berhenti dengan sendirinya.

“Air yang berada pada lumpur berasal dari air hujan. Ini diketahui setelah dilakukan pengukuran EC dan pH. Jadi tidak ada hubungannya dengan formasi sumur minyak,” lanjutnya.

Lubang semburan gas ini berada persis di balik dinding kamar mandi milik Muhammad Zemi (41). Posisi semburan hanya berjarak dua langkah dari sumur bor peninggalan Belanda.  Sebelum mengeluarkan semburan, di titik itu selalu terdengar suara gemuruh yang berasal dari dalam tanah.

Khawatir Amblas
Sang penghuni rumah, Muhammad Zemi berharap investigasi yang dilakukan pemerintah tidak berhenti di sini, karena ia khawatir semburan itu menimbulkan dampak negatif.

“Saya khawatir tanah di bawah lantai sudah amblas. Jangan sampai rumah kami ambruk,” ujarnya, Jumat (5/10). Sejak semburan lumpur keluar dua pekan lalu, kata Zemi, dirinya khawatir setiap malam. Soalnya, hingga kini dia masih menginap di rumah tersebut.

Sebelumnya Pertamina EP Rantau juga sudah datang ke lokasi untuk mengecek. Namun sejauh ini belum disimpulkan apakah kepala sumur itu benar peninggalan Belanda. Sama halnya dengan Dinas ESDM, Pertamina juga mengimbau masyarakat tidak membakar sampah di dekat semburan. (mad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved