Jamaah Masjid Agung Palu Berlinangan Air Mata

Jamaah Jumat di pelataran Masjid Agung Darussalam, Palu tak kuasa menahan air mata sat menyimak khutbah Jumat

Jamaah Masjid Agung Palu Berlinangan Air Mata
Jamaah Jumat di pelataran Masjid Agung Darussalam, Palu tak kuasa menahan air mata sat menyimak khutbah Jumat yang pertama kali pascagempa dan tsunami yang menerjang Kota Palu, Donggala dan Sigi. AFP PHOTO / MOHD RASFAN 

PALU - Jamaah Jumat di pelataran Masjid Agung Darussalam, Palu tak kuasa menahan air mata sat menyimak khutbah Jumat yang pertama kali pascagempa dan tsunami yang menerjang Kota Palu, Donggala dan Sigi.

Jamaah tampak khusyuk dan terenyuh saat Khatib Ustad Abu Irbad berkhutbah mengenai musibah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu pada Jumat (28/9) petang. Banyak jamaah tak kuat membendung air mata kesedihannya saat dai kondang asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan itu bermunajat dan mendoakan korban yang selamat khususnya yang meninggal.

“Ini shalat Jumat pertama saya pasca musibah gempa dan tsunami yang melanda Kota Palu,” kata salah satu jamaah Muhammad, usai menunaikakan ibadah shalat Jumat (5/10). Muhammad mengatakan bencana yang melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi membuat ia beserta keluarga makin dekat dengan Tuhan.

“Pasca gempa dan tsunami, saya makin sadar kalau dunia hanya sementara dan kematian itu sangat dekat sehingga waktu yang diberikan oleh Allah tidak boleh terbuang sia-sia. Harus saya isi dengan ibadah dan banyak berbuat kebaikan,” kata Muhammad.

Muhammad berharap bencana tersebut menjadi momen berharga bagi warga khususnya pemerintah daerah untuk mengintropeksi diri dan tidak lagi mengerjakan perbuatan dosa yang dapat mendatangkan murka Tuhan.

Sementara itu Khatib salat Jumat Ustad Abu Irbad mengingat jamaah bahwa musibah yang melanda tiga daerah tersebut tidak lain karena perbuatan tercela yang dilakukan. “Bencana gempa dan tsunami ini sangatlah menyayat hati. Banyak yang bilang karena fenomena alam biasa. Ada juga yang mengatakan kalau bencana ini karena ini teguran dari leluhur agar sesajian yang diberikan lebih baik lagi,” kata Ustad Abu Irbad.

Ustad Abu Irbad di depan jamaah dan pengungsi wanita menegaskan bahwa musibah yang terjadi bukan disebabkan Allah namun disebabkan ulah manusia. “Bencana yang melanda sebagaimana firman Allah SWT bahwa musibah yang terjadi disebabkan ulah manusia itu sendiri dan perbuatan maksiat. Allah hanya ingin kita kembali. Tujuan Allah agar kita semakin baik. Jangan sekali - kali menyalahkan Allah,” pesan Ustad Abu Irbad.

Diakhir khotbahnya Ustad Abu Irbad yang juga relawan untuk bencana di Palu menekankan kepada warga dan pemerintah daerah agar tidak sekali-kali menggelar acara atau ritual yang berbau syirik atau meminta kepada selain Tuhan.

Sebab kata Ustad Abu Irbad, perbuatan syirik merupakan perbuatan yang cepat mengundang datangnya kemurkaan Allah. “Maka kekufuran dan kesyirikan menjadi penyebab Allah menurunkan musibah. Betapa banyak orang yang tidak baik menjadi baik. Yang tidak salat menjadi salat pasca musibah ini,” ucap Ustad Abu Irbad.

Sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, menyampaikan kepada warga daerah tersebut untuk bersabar dan tabah pascagempa berkekuatan 7,4 Skala Richter. “Warga bersabar dan tabah, serta berserah diri pada Allah. Di balik kesengsaraan ada kemudahan,” ucap Ketua MUI Palu Prof Dr H Zainal Abidin MAg, Jumat.

Pernyataan Prof Zainal Abidin itu sejalan dengan Firman Allah dalam Surah Asy-Syarh Ayat 5 yang berbunyi “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu, ada kemudahan”. Kemudian diulangi lagi dalam ayat 6 surah tersebut berbunyi “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Karena itu, sebut dia, masyarakat harus sabar dan tabah. Karena apapun atau semua yang bergerak di langit dan bumi tidak terlepas dari kehendak, izin dan aturan sang pencipta. “Daun saja yang jatuh, tidak terlepas dari ketentuan Allah,” sebut Rektor pertama IAIN Palu itu.

Sementara itu, sampai Jumat (5/10) ini korban meninggal dunia yang tercatat BNPB berjumlah 1.571 orang, sedangkan untuk korban hilang 162 orang. Sedangkan jumlah pengungsi yang berada di Palu berjumlah 59.450 yang terkumpul di 109 lokasi.(ant/dtc)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved