Selisik Secarik Batik

AROMA malam (lilin batik) menelusup di udara. Mengeluarkan hawa panas lewat api yang menjilat-jilat wajan di atas kompor

Selisik Secarik Batik
SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
Natasya (20), siswi SMALBS B YPAC Banda Aceh belajar membatik di Rumoh Batik Aceh, Meunasah Manyang PA, Aceh Besar, Kamis (4/10). SERAMBI/HARI MAHARDHIKA 

AROMA malam (lilin batik) menelusup di udara. Mengeluarkan hawa panas lewat api yang menjilat-jilat wajan di atas kompor. Jari tuanya mencelupkan canting ke dalam cairan cokelat pekat. Sebelum akhirnya menggoreskan ke atas kain putih yang sudah diberi motif. Ia terlihat demikian piawai memainkan alat dari tembaga yang sudah diakrabinya sejak kecil. Melestarikan kriya nusantara lewat secarik batik.

Dalam dialeg khas, Oliya M (53) pria asal Cirebon, Jawa Barat, itu menuturkan bahwa dirinya berkenalan dengan batik sejak kecil. Ia mewariskan profesi sebagai pengrajin batik dari leluhurnya. Perjalanan hidup lantas membawanya ke Aceh. Sejak tahun 2007, dirinya dipercaya menjadi Koordinator Rumoh Batik Aceh. Lembaga di bawah Dewan Kesenian Daerah (Dekrasda) itu telah melahirkan rupa-rupa motif khas Aceh dalam sehelai batik. Merawat kekayaan budaya dalam berbusana.

“Kalau yang paling banyak disukai itu motif pinto Aceh, rencong, dan pucok rebong. Malah sekarang di luar motif-motif seperti itu banyak disukai dan diproduksi oleh pengrajin batik dari daerah lain,” beber laki-laki yang akrab disapa Pak Ool ini.

Serambi yang menyambangi Rumoh Batik Aceh, Meunasah Manyang, Aceh Besar, Kamis (4/10), mendapati pengrajin yang tengah berkutat dengan pekerjaannya. Di sini batik dikerjakan dengan dua teknik yaitu batik cap dan batik tulis. Masing-masing menghasilkan karakteristik berbeda, karena dikerjakan dengan cara yang berbeda pula.

Batik cap menggunakan besi bermotif yang pengerjaannya dilakukan dengan cara ditempelkan ke kain. Sedangkan batik tulis menggunakan gambar yang dilukis di atas kertas untuk kemudian polanya dipindahkan ke kain dengan bantuan canting. Lamanya proses pembuatan tergantung pada jumlah warna yang digunakan pada batik. Selain tentu saja cuaca, karena ini menentukan lamanya penjemuran. Teknik, jenis kain, dan jumlah warna inilah yang membedakan kualitas. Untuk membawa pulang 2 meter kain batik (untuk satu stel busana) di Rumoh Bati Aceh, pembeli harus merogoh kocek mulai Rp 200 ribu-Rp 800 ribu.

Menurut Ool, ketekunan dan kesabaran menjadi modal utama bagi pengrajin. Sebelum sampai ke tangan pembeli, kain batik telah melalui serangkaian tahapan mulai dari persiapan bakal kain dengan cara dicuci dan dikeringkan, dicap, pewarnaan, lorot (meluruhkan lilin pada kain), dan penjemurun.

Para buruh yang berjumlah 13 orang itu pun terbagi sesuai tahapan, menurut keahliannya masing-masing. Kebijakan Pemerintah Aceh mengharuskan mengenakan batik etnik Aceh di kalangan PNS yang juga diikuti instansi swasta lainnya membuatnya menjadi busana ‘wajib. Upaya Dekranasda mempromosikan batik Aceh membuat usaha kreatif ini mulai bergaung.

Batik mempunyai sejarah panjang di Indonesia. Sejak abad ke-16 batik mulai dikenal di Pulau Jawa dan kemudian terus berkembang di daerah Indonesia belahan lain. Euforia batik telah mencapai puncak klimaksnya tatkala dikokohkan sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO pada 2009 silam. Sehingga tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Kelegaan dan kebanggaan akan produk dalam negeri yang kemudian mendunia itu menyusup bersama rasa memiliki dari warganya. Batik adalah ekspresi budaya sekaligus seni mahakarya Indonesia.(nurul hayati)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved