Salam

Haizir Harus Perbesar Kredit Sektor Produktif

PAGI ini, Senin, 8 Oktober 2018, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT, dalam kapasitasnya

Haizir Harus Perbesar Kredit Sektor Produktif
HAIZIR SULAIMAN

PAGI ini, Senin, 8 Oktober 2018, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT, dalam kapasitasnya selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) PT Bank Aceh Syariah, akan melantik Haizir Sulaiman SH MH sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Bank Aceh Syariah periode 2018-2022 di Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh. Corporate Secretary Bank Aceh Syariah, Amal Hasan, mengatakan, pelantikan itu dilakukan setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap Haizir Sulaiman, menyatakan yang bersangkutan lulus uji tersebut dan layak memimpin Bank Aceh. Hal itu diperkuat dengan Surat Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-141/D.03/2016 tanggal 6 Agustus 2018.

Haizir berhak untuk diuji kepatutan dan kelayakan oleh OJK sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Banda Aceh, 28 Februari 2018. Dalam RUPSLB yang diikuti 100% pemegang saham itu diputuskan Haizir sebagai calon Dirut Bank Aceh Syariah guna diajukan ke OJK Pusat untuk di-fit and proper test. 6 Agustus lalu Surat Keputusan Dewan Komisioner OJK itu pun keluar.

Haizir yang selama ini berstatus Plt Dirut, mulai hari ini resmi menjabat Dirut Bank Aceh menggantikan Busra Abdullah yang meninggal 29 Desember 2017. Haizir sebelumnya juga menjabat Direktur Dana Jasa dan SDI Bank Aceh Syariah. Bahkan sebelum bank ini dikonversi ke syariah, Haizir menjabat Direktur Unit Syariah.

Sebagaimana diketahui, bank ini sudah dikonversi sepenuhnya ke sistem syariah pada 19 September 2016.

Setelah dikonversi menjadi syariah, Bank Aceh tumbuh sangat baik. Bukti yang paling kelihatan ialah market share aset perbankan syariah berhasil menembus angka 5% setelah selama satu dekade konsisten bertahan di bawah 5%.Sampai dengan Mei 2017, market share aset perbankan syariah secara nasional tercatat 5,35%.

Selain itu, penyaluran kreditnya per 31 Desember 2017 mencapai Rp 12,8 triliun. Yang disalurkan ke sektor produktif hanya Rp 1,34 triliun atau baru 10,42 persen dari total kredit yang disalurkannya Rp 12,85 triliun. Sedangkan ke sektor konsumtif Rp 11,51 triliun atau sebesar 89,58%n.

Jadi, sangat wajar kalau Plt Guberur Aceh bersama para bupati dan wali kota dalam RUPS tahun Buku, Senin kemarin, menekankan dan merekomendasi kepada direksi dan komisaris untuk memperbaiki kembali business plan penyaluran kreditnya untuk 2019 dan tahun-tahun berikutnya, yakni dengan memperbesar pagu penyaluran kredit untuk sektor produktif.

Kondisi penyaluran kredit yang demikian itu, menurut Adnan Ganto, hal yang kurang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh, terhadap keberadaan sebuah bank daerah yang diandalkan sebagai agen pembangunan. Ketakutan terjadi kredit macet pada sektor produktif, kata Adnan Ganto, harus dicarikan solusinya yang tepat.

Konversi Bank Aceh mendorong positif perkembangan dan pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia selama 2016-2017. Sejauh ini Bank Aceh Syariah menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik dari sisi aset maupun kenerja keuangan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved