Opini

Mengembalikan Kejayaan Migas Aceh

ACEH tidak lagi masuk sebagai daerah utama penghasil minyak dan gas (migas) di Indonesia

Mengembalikan Kejayaan Migas Aceh
PLT Gubernur Aceh, Nova Iriansyah didampingi Wakil Kepala SKK Migas, Sukandar (kiri) menyaksikan penandatanganan berita acara pengambilan sumpah, penandatanganan pakta integritas dan pembukaan program onboarding bagi pegawai BPMA dalam rangka pengalihan manajemen pengelolaan kegiatan usaha hulu migas di Aceh dari SKK migas ke BPMA oleh Plt Kepala BPMA, Azhari Idris di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, tadi malam. 

Oleh Muchlis

ACEH tidak lagi masuk sebagai daerah utama penghasil minyak dan gas (migas) di Indonesia. Produksi migas Aceh kalah jauh dibandingkan dengan Provinsi Riau, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Papua Barat, dan daerah lainnya. Berhentinya LNG Arun akibat turunnya produksi gas di lapangan gas ex Mobil Oil mengakibatkan rendahnya penerimaan pendapatan Aceh dari sektor migas. Kehadiran Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA) diharapkan mengembalikan kejayaan migas Aceh.

Produksi Arun milik Exxon Mobil (sekarang PHE) telah beroperasi hampir 50 tahun lalu mencapai puncaknya pada 1990-1998 menghasilkan gas alam 2-3 bcfd (miliar kaki kubik perhari). Sebagian besar gas Arun diekspor dalam bentuk LNG ke Jepang, Korea dan negara lainnya. Hanya sebagian kecil diperuntukkan bagi industri lokal, seperti pabrik pupuk, kimia dan kertas. Sumber gas Exxon lainnya NSO, SLS selanjutnya Pase diproduksikan pada 2000-an untuk mencukupi kuota ekspor atas berkurangnya produksi gas Arun.

Sementara itu, gas Alur Siwah diproduksikan pada 2018 bersama lapangan gas lainnya dalam wilayah kerja blok A milik Medco. Lalu, sumur gas Kuala Langsa cadangannya lebih 7 triliun kaki kubik (tcf), tetapi gas CO2-nya 80% membuat kompleksitas dari segi teknikal membarengi biaya dalam pengembangannya. Beberapa sumur gas lain ditemukan periode pada 1970-1980an dengan volume puluhan bcf belum dikembangkan.

Penemuan migas
Sejak penemuan gas Arun pada 1971, diikuti Alur Siwah, SLS A, NSO pada 1972, lalu Kuala Langsa pada 1992 (Charles, IPA 1993), tidak ada lagi penemuan lapangan migas massive atau lebih besar daripada 500 miliar kaki kubik (bcf). Hal tersebut disebabkan teknologi eksplorasi seismik belum mutakhir, kompleksnya alam Aceh ditambah rawannya situasi politik Aceh. Sebagai contoh Arun, gas alamnya ditemukan setelah lebih 10 kali pengeboran eksplorasi.

Kemudian, Alur Siwah ditemukan selepas 3 kali pengeboran dengan estimasi volume cadangan berubah-ubah, karena geometri reservoir tidak tergambarkan secara utuh, sehingga dilakukan survei seismik 3D pada 1996. Demikian pula gas Kuala Langsa berlokasi di daerah rawa, transisi antara darat dengan laut. Kompleksitas daerah rawa lebih besar dibandingkan darat atau laut dalam melakukan survei atau akuisisi data seismik.

Aceh saat ini secara agregat hanya menyumbang 1 juta barel minyak per tahun, tertulis dalam laporan perhitungan hasil bagi migas pada 2017. Jauh dari Riau, hanya dari satu blok Rokan saja, produksi migasnya hampir 200 ribu barel perhari.

Menurut laporan kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2017, jumlah tersebut berasal dari dua kabupaten, yaitu Aceh Utara dan Aceh Tamiang (Serambi, 2017). Volume tersebut sangat rendah dibandingkan ketika produksi gas dari lapangan-lapangan gas Blok B, Aceh Utara yang menghasilkan 2.4 bcf gas perhari (ekuivalen 400.000 barel minyak per hari).

Situasi keamanan politik sebagai hambatan dalam melakukan eksplorasi terjadi di era 1980, 1990 hingga 2000-an pun telah berakhir. Ini ditandai oleh perjanjian damai Helsinki antara GAM dan pemerintah Indonesia. Kondusifnya Aceh bisa terlihat dari rasa aman penduduk untuk beraktivitas hingga malam hari, serta ramainya suasana kedai kopi di daerah-daerah yang dulunya rawan.

Berakhirnya konflik di Aceh ditandai melalui mulainya kegiatan-kegiatan migas baru. Beberapa perusahaan melakukan kegiatan survei seismik membarengi pengeboran eksplorasi. Adapun K3S (kontraktor kontrak kerja sama), seperti Zaratex telah melakukan kegiatan tersebut di laut dan darat sekitar Aceh Utara. Dilanjutkan oleh ENI, RENCO, Triangle Pase, dan Repsol/Talisman. Nama terakhir baru saja selesai melakukan akuisisi seismik 3D di offshore Aceh bagian utara, meliputi Aceh Jaya dan Bireuen. Hasil prosesing dan interpretasi survei seismik tersebut selanjutnya menjadi acuan pengeboran eksplorasi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help