Citizen Reporter

Belajar Memimpin di Monash Australia

“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Inilah yang diamalkan oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA)

Belajar Memimpin di Monash Australia
Dr ALIAMIN MSi.Ak

OLEH Dr ALIAMIN MSi.Ak, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Aceh dan Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Melbourne, Australia

“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Inilah yang diamalkan oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) dalam mengembangkan pendidikan tinggi di Tanah Air. Seperti diketahui, Muhammadiyah mempunyai perguruan tinggi sebanyak 176, mengalahkan jumlah perguruan tinggi negeri 122. Mengeolola PTMA di zaman milenial ini merupakan keharusan dan itu disadari benar oleh Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Belajar tentang kepemimpinanan dalam mengelola PTMA secara modern dalam rangka goes to international tentulah penting.

Untuk itu, Muhammadiyah mengirimkan 25 peserta pelatihan dari PTMA ke Monash University, Australia. Karena menyangkut pimpinan dan calon pemimpin PTMA, tahap pertama Diktilitbang PP Muhammadiyah mengirim rektor, wakil rektor, ketua, dan wakil ketua sekolah tinggi, dan Komite Urusan Internasional di masing-masing PTMA.

Setelah perjalanan sembilan jam dari Banda Aceh ke Melbourne, tibalah kami di Bandara Internasional Tullamarine, Victoria, pukul 6.30 pagi waktu setempat. Tullamarine adalah Bandara modern tersibuk kedua di seluruh Australia. Bandara ini dibuka pada 1970 menggantikan bandara sebelumnya, Essendon. Kami disambut hawa dingin 4 derajat Celcius. Sebagai orang yang tinggal di daerah tropis, suhu 4 derajat itu sangatlah menyiksa dan tetap terasa dingin meskipun akhirnya turun menjadi 9 derajat pada waktu siang.

Karena alasan teknis dan mudahnya kuliner di daerah sekitar, kami ditempatkan di kawasan Dandenong, sekitar 30 menit naik bus ke Monash University. Di tempat ini banyak orang Pakistan, Afganistan, dan Thailand. Kawasan ini banyak menyediakan makanan halal. Di sini pula tampak berkeliaran ibu-ibu dan gadis-gadis berjilbab, layaknya seperti di Aceh.

Kegiatan yang kami lakukan di Monash University adalah Training of Leading and Managing Internalisation in Higher Education (LMIHE) selama lima hari mulai 1 sampai 5 Oktober 2018. LMIHE ini diikuti 25 orang yang berasal dari 17 PTMA. Monash University dipilih oleh Diktilitbang PP Muhammadiyah dengan beberapa alasan. Pertama, menurut Shanghai Rankings’ Global Ranking of Academic Subjects (GRAS) pada 2017, Monash University menduduki ranking 20 top besar di seluruh dunia.

Kedua, didirikan pada tahun 1958, menurut Ranking by Subject 2018, Monash Universtiry dari segi bidang studi rata-rata mempunyai ranking 30 besar di dunia. Di antaranya ranking dua di dunia di bidang studi farmasi dan farmakologi (farmasi dan obat-obatan), ranking 14 di bidang education (pendidikan), ranking 18 nursing (keperawatan), ranking 22 performance art (kinerja seni), dan ranking 23 di bidang accounting and finance (akuntansi dan keuangan).

Ketiga, seperti yang diungkapkan oleh Joe de Pascualem, salah seorang pemateri dalam trainging ini, Monash University mempunyai lebih dari 77.000 mahasiswa dari 170 negara dengan dukungan lebih dari 16.000 staf.

Keempat, Monash University banyak melakukan kerja sama riset dengan berbagai universitas terkenal di dunia, terutama di bidang kesehatan, seni, ekonomi, bisnis, dan keuangan.

Kelima, Monash banyak melakukan kerja sama dengan menerima pemagangan mahasiswa, pertukaran program kegiatan mahasiswa, dan menerima kerja sama internasional di bidang kemahasiswaaan.

Keenam, Monash University mempunyai jaringan internasional dan jaringan alumni lebih dari 350.000 ribu orang di seluruh dunia. Seperti diketahui, alumni terkenal juga banyak terdapat di Indonesia, mulau dari profesional, artis, dosen, dan pejabat. Di antara mereka adalah artis peran terkenal, seperti Alyssa Soebandono dan Prof Boediono, dosen UGM, dan mantan Wapres di era Susilo Bambang Yudhoyono.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help