Awak Becak dan Taksi Protes Trans-K

Sejumlah awak becak dan sopir taksi di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, memprotes operasional angkutan

Awak Becak dan Taksi Protes Trans-K
KADISHUB Kota Banda Aceh, Drs Muzakir Tulot (tiga kanan) sedang mendengar keluhan dari awak becak dan para sopir angkutan umum Pelabuhan Ulee Lheue yang memprotes Trans Koetaradja yang selama ini dinilai telah melanggar ketentuan saat memasuki Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Rabu (10/10). 

* Mangkal di Pelabuhan tak Sesuai Jadwal

BANDA ACEH - Sejumlah awak becak dan sopir taksi di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, memprotes operasional angkutan massal Trans Koetaradja (Trans-K) di Koridor 2B Kompleks pelabuhan penyeberangan itu yang dinilai telah melanggar ketentuan. Bahkan protes di Pelabuhan Uleelheue, Rabu (10/10) siang itu, hampir berujung bentrok.

Namun, hal itu cepat ditengahi oleh petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banda Aceh yang cepat menuju lokasi. “Hari ini (kemarin-red) puncak kekecewaan kami. Karena itu kami minta Kepala UPTD Trans Koetaradja agar merespon serta peka terhadap permasalahan ini,” ujar Faisal, seorang awak becak pelabuhan.

Menurut dia angkutan Trans-K itu selama ini dinilai telah melanggar ketentuan. Misalnya mangkal lebih lima menit dan berada di sana sudah tidak sesuai jadwal, sehingga berdampak penumpukan bus di awal dan akhir perjalanan. “Kalau kondisi ini terus dibiarkan, tidak tertutup kemungkinan akan timbul gejolak,” tegas Faisal.

Ia menjelaskan selama hadirnya transportasi online saja, sudah cukup menjadi beban, dilema serta persoalan bagi pihaknya dalam berkompotiter. Namun, ungkapnya selama ini Pelabuhan Uleelheue, masih tetap menjadi kawasan ‘terlarang’ dimasuki atau mengambil penumpang dari dalam.

Hal itu lanjutnya memang sudah menjadi aturan yang ditetapkan dari pusat. “Meski itu menjadi persoalan, tapi bagaimana pun transportasi online itu mungkin sudah mengikuti zamannnya. Hingga sejauh ini mereka hargai, tidak ngambil penumpang dan ngetime dalam pelabuhan serta di luar pelabuhan dalam radius yang sudah ditentukan,” ujarnya.

Persoalan baru saat ini sambung Nasrul, sopir Trans-K di samping berhenti lama, para sopir Trans-K juga menunggu penumpang, sudah layaknya angkutan biasa. “Kondisi ini sudah menzalimi kami, sehingga kami minta Kepala UPTD angkutan massal Trans Koetaradja segera bersikap, sebelum masalah ini berdampak terhadap hal-hal yang tidak kita harapkan,” tambahnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Banda Aceh, Drs Muzakir Tulot MSi, yang dimintai pendapatnya oleh Serambi, Rabu (10/10), merespon protes awak becak dan taksi Pelabuhan Ulee Lheue itu, pihaknya telah menyurati kepala UPTD Trans Koetaradja.

“Tadi (kemarin-red) ada saya dan ikut memfasilitasi dan mendinginkan suasana. Harapan kami masalah ini selesai tanpa permasalahan,” ungkap Muzakir Tulot.

Ia menjelaskan pihaknya sudah pernah menyrati Kadishub Aceh serta tembusannya kepada Kepala UPTD Trans Koetaradja, 20 September 2018. “Surat itu lebih kepada penekanan kami pada hasil monitoring yang kami lakukan serta keluhan pengemudi angkutan umum yang beroperasi di Pelabuhan Uleelheue, bahwa ada didapati Trans Koetaradja beroperasi dalam kawasan pelabuhan dan berhenti serta mangkal lebih 5 menit. Itu jelas melanggar ketentuan,” ungkap Muzakir.

Karena itu agar semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik, pihaknya berharap kepada kepala UPTD Trans-K agar memberi teguran dan arahan kepada pengemudi bus Trans-K untuk tidak berhenti dan mangkal lebih dari 5 menit di Halte Pelabuhan Uleelheue. “Apa yang kami lakukan untuk kebaikan semua dan menghindari terjadi bentrok dengan pengemudi angkuat umum yang selama ini mangkal di Pelabuhan,” pungkas Muzakir Tulot. (mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved