Citizen Reporter

Cara Kinabalu Menarik Pelancong

BEGITU menginjakkan kaki di Kota Kinabalu, serta merta terngiang kembali lagu grup nasyid El Suraya Putri Medan

Cara Kinabalu Menarik Pelancong
BASRI A BAKAR, MSi

OLEH BASRI A BAKAR, MSi, Sekretaris Pusat Forsimas, melaporkan dari Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia

BEGITU menginjakkan kaki di Kota Kinabalu, serta merta terngiang kembali lagu grup nasyid El Suraya Putri Medan yang populer tahun 1960-an yang menggambarkan keindahan alamnya, pantai yang menawan, gunung Kinabalu yang menjulang tinggi, nyiur yang melambai di pantai dan panorama lainnya.

Kota Kinabalu merupakan ibu kota negeri Sabah yang berada di Pulau Kalimantan, bersambung dengan negara Brunei Darussalam yang dapat ditempuh 5-7 jam via laut atau darat.

Saya pertama kali datang ke Sabah dalam sebuah lawatan penting Musyawarah Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Serantau (Forsimas) bersama sepuluh utusan dari Aceh. Acara yang dihadiri oleh utusan beberapa perwakilan negara Asean selama lima hari itu ditempatkan di Pusat Latihan Islam (PLI) Kundasang Ranau, sekitar 100 km dari Kota Kinabalu. Pesisnya di lokasi dengan ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut atau di kaki Gunung Kinabalu yang berhawa sangat sejuk.

Selama di Sabah, saya merasa kagum dengan cara bagaimana Pemerintah Sabah menata negerinya sehingga dapat dijual untuk turis atau pelancong yang berkunjung setiap saat sehingga mendatangkan devisa yang tidak sedikit. Hampir tidak ada tempat yang tidak dijadikan sebagai objek wisata, baik lahan pertanian, pantai, gunung, sungai, dan gedung-gedung, termasuk masjid.

Tempat peternakan sapi perah “Desa Dairy Farm” di Kundasang, misalnya, setiap hari didatangi tidak kurang 2.000 pengunjung datang menikmati pemandangan hamparan luas menghijau yang di dalamnya terdapat lebih dari 600 ekor sapi sedang merumput. Meskipun untuk masuk harus membayar tiket Rp 20.000, namun animo pengunjung tetap tinggi.

Di dalamnya diperlihatkan dan dijual aneka produk seperti susu segar, ice creame, aneka roti berbahan susu, dan lain-lain. Di area seluas 199 ha itu terdapat minimarket, restoran, kandang, tempat pemerahan susu, dan kantor.

Menurut pemandu tempat tersebut, setiap hari ada sekitar 200 ekor sapi siap diperah dengan sistem modern menggunakan mesin perah. Setiap ekor sapi menghasilkan sekitar 25 liter susu/ hari. Para pengunjung selain dapat membeli aneka produk, juga berkesempatan menyaksikan proses pemerahan susu, termasuk dapat melihat bagaimana sapi-sapi dibersihkan badannya dengan mesin pembersih secara bergilir.

Selain itu, Gunung Kinabalu pun menghasilkan income daerah yang luar biasa, karena setiap hari ada pendaki khusus untuk menaklukkan puncaknya. Manajemen pendakian dikelola oleh Jawatan Kinabalu National Park yang menangani hutan dan alam. Gunung Kinabalu tercatat sebagai World Heritage Site oleh Unesco. Perlu diketahui, untuk mendaki Gunung Kinabalu memerlukan izin dari Kinabalu Park Headquarters. Pengelola menetapkan kuota hanya 100 pendaki setiap hari. Sedangkan calon pendaki sangat banyak, bukan hanya warga Malaysia atau negara-negara tetangga saja seperti Indonesia, tapi turis asing dari Eropa atau Amerika pun berbondong-bondong ingin mendaki gunung ini. Tidak aneh, jika permohonan izin pendakian harus dilakukan 6-12 bulan sebelum tanggal pendakian.

Sebagai gambaran, untuk mendaki Gunung Kinabalu dikenakan Climbing Permit RM200 dan asuransi RM7 belum lagi biaya lain yang sewaktu-waktu diperlukan. Jangan risau dengan keamanan, karena pihak pengelola ikut menyediakan helikopter untuk evakuasi pendaki yang sakit atau yang meninggal di puncak. Itu sebabnya untuk meminimalisasi kejadian tersebut, calon pendaki harus dalam keadaan fit dan sehat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved