Opini

Meredam Fitnah

FITNAH menurut bahasa “memperlihatkan asal dari barang tambang”, sedangkan secara terminologi berarti

Meredam Fitnah
KOLASE/SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS
(Insert): Info yang menyebutkan jembatan Peudada ambruk adalah berita hoax. Camat Peudada Cut Husen membuktikan bahwa jembatan tersebut masih normal. 

Oleh Abdul Gani Isa

Bersegeralah kalian melakukan amal saleh, sebelum munculnya fitnah. Fitnah itu bagaikan penggalan malam hari yang gelap. Seseorang beriman di pagi hari, lalu menjadi kafir di sore hari. Dan dia beriman di sore hari, lalu menjadi kafir di pagi hari. Ia menjual agamanya dengan harta benda (kemewahan) dunia.” (HR. Muslim)

FITNAH menurut bahasa “memperlihatkan asal dari barang tambang”, sedangkan secara terminologi berarti memperlihatkan asal, hakikat dan derajat keimanan kepada Allah Swt. Menurut Ibnu Hajar ra, fitnah itu kadang kala datang dengan sesuatu yang tidak disenangi, dan pada sisi lain ia datang dengan kebaikan (QS. al-Anbiya: 35). Menurut kebiasaan (`urf) fitnah itu biasanya sering dipergunakan untuk hal-hal yang tidak disenangi. Oleh karena itu, lafazh fitnah itu dipakai pada hal-hal yang ditimbulkan oleh ujian, segala cobaan, hingga hal-hal yang dibenci.

Kata fitnah dengan segala derivasinya tidak kurang dari 60 kali disebut Alquran, seperti kata fitnah bermakna “azab” (QS. az-Zariyat: 14); “cobaan” (QS. Thaha: 40); “keberpalingan dari ibadah kepada Allah” (QS. at-Taghabun: 15); “pemaksaan untuk tidak kembali kepada agama” (QS. al-Buruj: 10); “kesesatan” (QS. al-Mudassir: 31); “kekufuran” (QS. al-Baqarah: 19); dan bermakna “dosa” (QS. at-Taubah: 49).

Bahaya fitnah
Pada dasarnya orang mukmin itu bersaudara, di sinilah kunci dan nikmatnya hidup sebagai orang beriman. Prilaku dan pribadinya tidak menyusahkan orang lain, lidahnya tidak menyakiti perasaan dan hati orang lain, apalagi yang bersifat fitnah dan adu domba, seperti telah diingatkan oleh Allah Swt, “...dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.” (QS. al-Baqarah: 91).

Fitnah pernah menimpa Rasulullah saw. Beliau difitnah oleh Abdullah bin Ubay dengan berita hoax (bohong), bahwa isteri beliau, Aisyah ra telah berbuat serong dengan Safwan bin Mu’attal. Fitnah itu sempat menggoyahkan rumah tangga beliau dengan Aisyah, yang telah terjalin baik dan mesra. Allah Swt menyelamatkan kehidupan rumah tangga Rasulullah saw dari fitnah tersebut dengan menurunkan wahyu-Nya, yang menegaskan bahwa itu fitnah atau kabar bohong.

Begitu juga nama Ali bin Abi Talib menjadi sumber fitnahan di kalangan khatib dan da’i di zaman Bani Umayyah. Ceramah da’i, khatib hanya mencaci dan memfitnah nama seseorang sahabat Rasul yang sudah dijamin keimanannya dan masuk surga. Untunglah khalifah Umar bin Abdul Aziz menyadari bahwa isi khutbah menjelek-jelekkan nama seseorang, apalagi sudah almarhum sangat dilarang dan memang tidak etis dalam Islam. Beginilah buruknya fitnah itu.

Saking dahsyatnya bencana yang ditimbulkan fitnah, maka pantas Islam sangat hati-hati terhadap fitnah itu. Jutru itu umat Islam sesamanya harus selektif setiap menerima informasi yang bersifat fitnah. Dalam pergaulan, fitnah merupakan perkataan atau ucapan-ucapan yang bermaksud menjelekkan seseorang, sehingga bisa menodai nama baik atau merugikan kehormatannya. Biasanya fitnah itu digunakan orang yang tidak bertanggung jawab dengan maksud-maksud tertentu, yang bisa jadi akibat bisikan setan melalui hawa nafsunya.

Orang seperti ini disebut sebagai orang yang ambisius. Dengan sifat ambisius ini, orang lalu menyebarkan fitnah dapat termakan oleh orang banyak, pasti bakal terjadi peristiwa yang tak diinginkan yang menimpa orang yang difitnah. Oleh karena itu, Allah Swt mengancam orang yang suka melakukan fitnah dengan siksaan yang amat pedih, sebagaimana firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang yang zalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. al-Anfal: 25).

Namun dalam kaitan nasihat Rasulullah saw di awal tulisan ini, fitnah itu bagaikan akan menimpa individu diri orang beriman. Hal ini ditandai dengan pemisalan fitnah sebagai malam yang gelap gulita, malam yang tidak diterangi oleh cahaya apa pun. Berarti fitnah yang bakal menimpa manusia, sekaligus menjadi bencana yang menyesatkan. Jadi hadis yang disebutkan di awal tulisan ini menjadi suatu peringatan, bahwa di suatu masa akan terjadi fitnah besar yang mengharuskan kita untuk waspada agar jangan sampai menjadi korban fitnah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved