Pengasuh Budaya Serambi Raih Penghargaan Sastra

Pengarang ternama Aceh yang juga pengasuh halaman Budaya Serambi Indonesia, Azhari Aiyub

Pengasuh Budaya Serambi Raih Penghargaan Sastra
IST
Azhari Aiyub 

JAKARTA - Pengarang ternama Aceh yang juga pengasuh halaman Budaya Serambi Indonesia, Azhari Aiyub, memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa ke-18 untuk novelnya berjudul “Kura-kura Berjanggut,” kategori prosa. Kusala merupakan salah satu penghargaan sastra bergengsi di Indonesia.

Kemenangan “Kura-Kura Berjanggut” diumumkan Rabu (10/10) malam di Jakarta setelah melalui seleksi sangat ketat. Novel setebal hampir 1.000 halaman itu ditulis Azhari sejak 2006 yang mengangkat kisah suasana negeri Lamuri abad 17.

Novel ini menceritakan tentang komplotan bajak laut yang menata rencana rapi membunuh Sultan Nuruddin di Lamuri. Nuruddin dianggap telah melakukan makar dan membunuh Sultan terdahulu untuk menduduki tahtanya. Suasana kota pelabuhan dan persinggahan kapal-kapal asing menjadi bagian tak terpisahkan dari novel yang menggetarkan ini. Digenapkan dengan intrik para pengawal istana, upacara adu gajah yang tragik, serta pertempuran-pertempuran hebat di laut.

Dibuka oleh dua budak perempuan Abesy turun dari lambung kapal di Bandar Lamuri pada paruh kedua abad ke-16. Sebelum mereka tiba di pasar untuk dilelang, seorang pangeran Lamuri mencegat dan membeli keduanya. Kelak anak lelaki dari seorang budak perempuan kulit hitam itu, tampil merebut kekuasaan dengan jalan darah yang dikenal sebagai Pembasmian Merica. Dinasti lama runtuh, demikian juga kongsi dagang Ikan Pari Hitam, penguasa sesungguhnya kawasan selat selama dua abad sebelumnya. Kongsi ini kemudian ikut menyokong persaudaraan rahasia Kura-kura Berjanggut yang punya misi tunggal: menghabisi Anak Haram.

Kura-kura Berjanggut, novel perdana Azhari Aiyub, mengantarkan imajinasi ke dalam petualangan-petualangan menakjubkan yang melibatkan pertempuran di laut, muslihat di antara para pengkhianat, adu gajah sampai mati, dan berbagai peristiwa tragis lainnya.

Kura-kura Berjanggut diterbitkan Banana pada April 2018, langsung merebut perhatian penikmat sastra dan krikitus sastra Indonesia. Azhari Aiyub, si lincah dari Lamjame Aceh Besar, sebelumnya telah menerbitkan dua kumpulan cerpen; Perempuan Pala (2004) dan The Garden of Delights and Other Tales(2015).

Perempuan Pala telah diterjemahkan ke dalam dua bahasa; Inggris dan Prancis. A zhari Aiyub pada 2003 lalu memenangkan juara pertama sayembara menulis cerpen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kemudian pada 2005 meraih penghargaan Free Word Award dari Poets of All Nation Belanda.

Selain menulis novel, Azhari juga menulis puisi dan esai. Puisinya “Ibuku Bersayap Merah” ditulis setelah peristiwa tsunami Aceh 2014. Azhari lahir 5 Oktober 1981, dari keluarga sederhana. Ayahnya almarhum M Ayub Ibrahim (44), adalah tukang kayu, dan ibunya, almarhumah Halimah (40), ibu rumah tangga biasa. Anak pertama dari dua saudara ini pernah kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Unsyiah, tetapi tak selesai

Mendirikan Tikar Pandan, bersama kolega-kolega cemerlangnya, Reza Idria, Fozan Santa, dan mengembangkan iklim diskusi dan mengajar sekolah menulis Do Karim. Komunitas Tikar Pandan, salah satu komunitas yang mewarnai perjalanan Aceh di era konflik dan pasca konflik dan tsunami Aceh. (fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved