Kekayaan Budaya Lewat Semarak Bordir

SUARA mesin jahit memenuhi udara. Tangan-tangan terampil itu terlihat piawai memainkan simpul-simpul benang

Kekayaan Budaya Lewat Semarak Bordir
SERAMBI/ HARI MAHARDHIKA
Pengrajin souvenir menjahit tas bordir khas Aceh di Gampong Dayah Daboh, Montasik, Aceh Besar, Selasa (9/10). SERAMBI/ HARI MAHARDHIKA 

SUARA mesin jahit memenuhi udara. Tangan-tangan terampil itu terlihat piawai memainkan simpul-simpul benang. Untuk kemudian menerapkannya dalam aneka corak dalam balutan warna-warna menyala. Karena jam terbang pula, mereka bahkan tak lagi perlu memakai pola. Hasil kerajinannya mejeng memenuhi etalase toko-toko suvenir dan diperjualbelikan secara online. Kekayaan wastra nusantara berselera lokal. Bordir, suvenir khas Aceh untuk buah tangan. Ya, buat Anda pelancong kembali dari pelesiran tanpa menenteng oleh-oleh adalah sebuah kesalahan.

Serambi menyambangi Gampong Dayah Daboh, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (9/10). Melihat langsung proses pembuatan aneka kerajinan bordir setempat. Rahmayani (20), dan kakak beradik mewarisi keterampilan bordir dari orang tuanya yang mendirikan ‘Souvenir Cantik’. Di desanya, terdapat 12 kelompok usaha serupa dengan 50-an jumlah pengrajin. Keterampilan tangan ini menjadi pengisi waktu luang bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah, dan menjadi pekerjaan utama bagi para perempuan dewasanya. Keterampilan ini mulai dikenal sejak tahun 1996. Kini produk Montasik itu telah merambah pasar dunia.

“Kami membuat untuk stok dan juga menerima pesanan dengan kualitas lokal untuk oleh-oleh dan juga kualitas internasional untuk pemakaian sendiri,” ujar salah seorang pengrajin, Eva Sofia (30).

Ia menjelaskan, produk yang dibuat berupa aneka model tas dan dompet, hingga sajadah. Harga yang dibanderol mulai Rp 10-Rp 300 ribuan per satuan. Dalam sehari, pengrajin bisa memproduksi 5-10 item, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Untuk bahan baku di antaranya menggunakan busa dan tentu saja aneka benang. Bahan-bahan tersebut dipasok dari Pasar Lambaro, Aceh Besar dan sekitarnya.

Eva menjelaskan, proses pembuatan bordir Aceh dimulai dari membuat pola, memindahkannya ke bahan dasar untuk kemudian membordir. Ditambah finishing berupa pemasangan resleting dan tali. Motif pinto Aceh, pucok reubong, awan diris, dan kerawang Gayo paling banyak diminati. Hadir dalam balutan warna khas Aceh dalam dominasi merah, kuning, hijau, di atas bahan dasar warna hitam nan elegan.

Jika ditelisik, dalam riwayat Aceh warna juga mempunyai makna dan kedudukannya tersendiri. Kuning misalnya, merupakan simbol kebangsawanan dan pada masa Kerajaan Aceh dipakai oleh kalangan raja. Sedangkan hijau merupakan warna yang dikenakan oleh kaum ulama. Ada pun warna hitam digunakan oleh golongan rakyat jelata.

Sementara motif yang digunakan berasal dari kekayaan budaya hasil karya cipta manusia. Yang paling ikonik sekaligus diminati yaitu motif pinto Aceh yang diadaptasi dari rumah adat. Sementara motif pucok reubong, awan diris, dan meulu terilhami dari kekayaan alam Aceh. Diaplikasikan pada bordir yang telah menghiasi busana. Ketika masyarakat mulai jenuh dengan selera pasar yang diproduksi secara massal, sentuhan lokal hadir menawarkan daya tarik tersendiri.(nurul hayati)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved