Bahasa Singkil Terancam Punah “Mago”

Seperti yang kita ketahui bersama, bahasamerupakan suatu keahlian yang apabila bahasa tersebut sering

Bahasa Singkil Terancam Punah “Mago”

Oleh: Jaminuddin Djalal, Mahasiswa UIN Ar-Raniry Fakultas Hukum dan Syariah ketua Komunitas Ogek Uti Membangun Singkil

Seperti yang kita ketahui bersama, bahasamerupakan suatu keahlian yang apabila bahasa tersebut sering digunakan oleh penuturnya dalam hal apapun, seperti misalnya berbicara, menulis, dan lain sebagainya, maka sudah pasti seseorang itu akan lebih mahir menggunakannya, sebab dalam kesehariannya sudah menjadi kebiasaan tertentu.

Akan tetapi jika bahasa tersebut sangat jarang digunakan atau dituturkan, sudah pasti akan menjadi mala petaka yang amat dahsyat, satu per satu kosa kata dari penggalan bahasa tersebut akan hilang. Lebih lanjut dalam bahasa Singkil disebut Mago.

Hal tersebut jugalah yang penulis lihat selama ini, khusunya pengguna bahasa Singkil yang sudah terlihat masif. Penulis melihat fenomena ini telah menjalar di tanoh Singkil. Hal ini dibuktikan dengan kosa kata-kosa kata bahasa Singkil yang jarang dan bahkan tidak pernah kita dengar lagi dan bahkan lebih parah lagi, yaitu kosa kata diganti dengan bahasa Indonesia.

Mago tuhu “benar-benar punah”. Padahal bahasa menunjukkan suatu identitas, dan ianya amat sangat penting untuk terus dijaga dan dilestarikan. Ada beberapa hal yang menyebabkan hilangnya bahasa Singkil menurut penulis sendiri, yang jika hal ini terus-terusan dibiarkan maka bahasa Singkil akan benar-benar mago.

Namun jika hal ini kita cermati, pelajari, serta kita cegah secara bersama, penulis sangat yakin bahasa Singkil akan tetap eksis seiring perkembangan zaman. Berikut ini 4 hal yang menyebabkan bahasa Singkil akan mago “punah”:

1. Banyaknya orang Singkil (Singkil-Subulussalam) yang lebih memilih berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Singkil dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan Pemko Subulussalam tidak memuat bahasa Singkil kedalam kurikulum pendidikan sekolah-sekolah (SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA).
3. Orang Singkil (Singkil-Subulussalam) malu berbahasa Singkil serta sikap acuh terhadap bahasa sendiri. Oda anak pekhana bak anak menguda sambing, tapi bak pekhtua “Bukan anak muda dan mudi saja, tetapi juga orangtua”.
4. Anak-anak masyarakat Singkil dan Kota Subulussalam tidak diajarkan lagi bahasa Singkil oleh orang tua mereka. Penulis melihat fenomena ini biasanya berlaku bagi generasi 80an keatas. Hal inilah menurut penulis yang sekarang terjadi dalam kehidupan masyarakat Singkil dan Subulussalam yang mayoritas menggunakan bahasa Singkil.

Sikap acuh orang Singkil dalam menggunakan bahasa Singkil ini dikhawatirkan hilangnya bahasa Singkil itu sendiri di permukaan bumi ini. Sangat berbeda dengan orang Singkil yang membentuk komunitas di daerah Aceh Tenggara. Meski mereka sebagai minoritas disana, akan tetapi bahasa Ibu mereka tetap terpelihara, yakni dengan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan orang Singkil yang ada di pedalaman Aceh Utara tetap kental dalam berbahasa Singkil.

Orang Singkil khususnya para remaja yang menyebut dirinya “the next ogek-uti” (sebutan abang dan kakak) saat ini kerap menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Singkil itu sendiri, padahal mereka sama-sama mengerti bahasa Singkil, orang tua mereka pun berasal dari Singkil dan menggunakan bahasa Singkil. Gaul du “gaul ya”.

Penulis menemukan begitu banyak kosa-kata dalam bahasa Singkil yang telah berubah, hal ini pula telah penulis diskusikan dengan beberapa orang tua, abang, serta sahabat yang peka terhadap perubahan kosa-kata ini. Diantaranya yang berubah adalah: mbihin berubah menjadi dapukh/dapur, betik menjadi semangka, kekhbit menjadi mancis, kemesengen menjadi kebakhakhen/ kebakaran dan banyak lagi lainnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help