Ada Apa dengan Rupiah?

NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan tren pelemahan hingga menembus Rp 15.000

Ada Apa dengan Rupiah?
Petugas menghitung pecahan dolar Amerika di salah satu gerai penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (8/5/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolla AS yang ditransaksikan pada Selasa (8/5/2018) ditutup melemah 51 poin atau 0,36 persen ke level Rp14.052 per dollar AS.(ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN) 

Oleh Nuri Rosmika

NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan tren pelemahan hingga menembus Rp 15.000. Ternyata rupiah tak sendiri, pelemahan mata uang juga dialami serentak berbagai negara di dunia. Rupee, mata uang India, juga terkena dampak penguatan dolar AS. Demikian juga Euro (Uni Eropa) diperdagangkan melemah, terendah sejak 13 bulan terakhir. Kemudian mata uang Afrika Selatan jatuh 10%, terendah sejak dua tahun terakhir. Mata uang Argentina juga ikut melemah. Tak hanya mata uang, bursa keuangan dunia juga mengalami hantaman.

Sejak kepemimpinan politik Presiden Donald Trump, kebijakan AS mengalami perubahan besar, terutama kebijakan ekonomi-perpajakan dengan kebijakan pemotongan pajak sejak tahun lalu. Kebijakan pemotongan pajak ini tentu saja membuat perekonomian menjadi ekspansif hingga tumbuh lebih dari 4%. Selain itu, juga terjadi perubahan positif bagi pasar saham AS yang mencapai rekor tertinggi. Sehingga The Federal Reserve, sebagai bank centralnya AS, mulai menaikkan tingkat suku bunga yang selama satu dekade terakhir dijaga serendah mungkin.

Fakta menguatnya pasar AS, yang disinkronisasikan dengan peningkatan suku bunga, menstimulus investor yang memiliki dana besar untuk menanamkan uangnya di negara Paman Sam itu. Dengan banyaknya permintaan mata uang dolar dari investor global tersebut, menjadikan mata uang dolar AS terapresiasi dan terdepresiasinya mata uang sejumlah negara, terutama negara berkembang. Beberapa negara yang memiliki fondasi ekonomi rentan serta mempunyai kebijakan ekonomi tidak konsisten bahkan sampai mengalami krisis, seperti halnya Turki, Argentina, hingga Venezuela.

Krisis ekonomi di Negara-negara tersebut semakin bardampak pada Indonesia, dengan pelemahan rupiah dan IHSG. Hal ini disebabkan pasar keuangan Indonesia sangat rentan karena bergantung pada modal asing (FDI). Obligasi Indonesia sekitar 40% dipegang investor asing dan pasar saham Nasional sekitar 50% dipegang oleh asing. Bila terjadi gejolak di pasar keuangan dunia, seperti krisis mata uang lira, arus modal asing bisa keluar dengan mudah. Investor akan menukarkan rupiahnya dengan dolar AS karena lebih menarik. Akibatnya, dolar semakin terapresiasi dan rupiah akan makin melemah.

Selain itu, rupiah semakin melemah dengan adanya perang dagang antara AS-Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang membumbung tinggi membuatnya menjadi eksportir besar dengan pangsa pasar di seluruh dunia. Dengan kurs yen yang rendah komoditas barang asal Cina sangat berdaya saing. Apalagi setelah Cina sengaja mendepresiasi mata uangnya, ekspor komoditas dari Cina semakin tinggi yang membuat AS semakin gerah. Pelaku keuangan dunia menyikapi situasi ini dengan lebih memilih aman, berinvestasi dalam dolar, sehingga kursnya semakin terapresiasi.

Pelemahan rupiah dapat menghambat perekonomian serta menambah beban Negara dari sisi impor dan utang luar negeri. Selain itu, momok yang paling menakutkan dari penurunan rupiah adalah lesunya perekonomian, tetapi inflasi malah meningkat sehingga membuat rakyat terjepit.

Sejumlah kebijakan
Untuk mengantisipasinya, pemerintah telah mencoba sejumlah kebijakan, di antaranya: Pertama, menaikkan suku bunga acuan. Diharapkan dengan instrument moneter ini jumlah uang yang beredar akan berkurang sehingga inflasi dapat lebih dikontrol, walaupun akan memperlambat perekonomian nasional, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terbukti langsung menguat setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.

Kedua, menggenjot penerimaan pajak. Diharapkan dengan kebijakan fiskal ini akan menambah pendapatan Negara sehingga sedikit memberi udara segar dari sisi anggaran. Langkah ini akan semakin membuat pertumbuhan ekonomi menjadi kontraktif, tapi ini dinilai dapat menyelamatkan keuangan Negara yang saat ini juga sedang mengalami tekanan dengan naiknya harga minyak dunia. Apalagi kebijakan menaikkan harga BBM dalam negeri urung dilakukan, mengingat hal itu akan menyebabkan inflasi yang lebih dalam.

Ketiga, pembatasan impor. Keputusan ini dinilai sejumlah pihak menjadi cara yang jitu dalam menyikapi pelemahan rupiah. Komoditas yang dapat dibatasi lebih kepada bahan nonpangan, sedangkan impor pangan sulit dibendung, karena ditakutkan kelangkaan penawaran malah akan memacu inflasi. Kebijakan pembatasan impor ini tentu akan menghambat pembangunan infrastruktur yang menjadi skala prioritas pemerintah saat ini. Terhambatnya pembangunan infrastruktur otomatis akan memperlambat perekonomian nasional.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved