Mengapa Dolar AS ‘Berkuasa’ di Indonesia?

DALAM beberapa bulan terakhir, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) memang menjadi topik yang seru

Mengapa Dolar AS ‘Berkuasa’ di Indonesia?
THINKSTOCKS/Kompas.com
Ilustrasi rupiah dan dollar AS 

Oleh Teuku Munandar

DALAM beberapa bulan terakhir, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) memang menjadi topik yang seru diperbincangkan, baik dalam diskusi formal maupun obrolan di warung kopi. Bahkan tak tertutup kemungkinan ada sebagian masyarakat yang meskipun belum pernah memegang mata uang negaranya Donald Trump tersebut, ikut juga membahas perkembangan nilai tukar dolar yang sudah menembus level Rp 15.000 per dolarnya.

Sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor --sementara kinerja ekspor belum optimal-- fluktuasi nilai tukar dolar AS memang akan senantiasa menghantui stabilitas perekonomian nasional. Impor Indonesia yang lebih tinggi dari nilai ekspor, tercermin dari neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit, atau yang dikenal dengan Current Account Deficit (CAD).

Secara teori, berdasarkan beberapa literatur dapat disimpulkan bahwa neraca transaksi berjalan adalah neraca yang mencatat transaksi yang berasal dari perdagangan barang dan jasa, serta pendapatan yang berasal dari modal yang diinvestasikan di negara lain dalam periode singkat/tertentu. Dalam neraca transaksi berjalan akan terlihat jumlah ekspor dan impor barang/jasa, pendapatan investasi (primary income), serta transfer personal pekerja migran (secondary income) seperti dari Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Dengan demikian, melalui perhitungan neraca transaksi berjalan akan diketahui kondisi ekspor/impor suatu negara. Apabila nilai ekspornya lebih besar dari impor, maka transaksi berjalan berada dalam kondisi surplus, begitu pula sebaliknya. Kondisi transaksi berjalan yang surplus akan mendongkrak jumlah cadangan devisa (cadev) suatu negara. Sementara sebaliknya, bila yang terjadi adalah defisit, maka dapat menguras cadev.

Adapun cadev adalah simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas moneter. Cadangan devisa suatu negara dianggap memadai apabila jumlah cadev yang dimiliki dapat membiayai impor negara tersebut minimal selama tiga bulan. Selain digunakan untuk transaksi internasional, keberadaan cadev juga sangat strategis untuk memberikan sentimen positif dan keyakinan bagi investor saat ingin berinvestasi di suatu negara.

Valuta asing
Pada saat melakukan ekspor, maka kita akan menerima valuta asing dari pihak pembeli (importir) di negara lain yang dalam hal ini umumnya dalam bentuk dolar AS. Sebaliknya bila kita mengimpor barang, maka kita harus menyiapkan valuta asing yang umumnya juga dalam bentuk dolar AS untuk membayar kepada penjual barang/jasa (eksportir) di negara lain. Dengan demikian, bila suatu negara mengalami transaksi berjalan yang defisit, artinya dolar AS yang diterima negara tersebut dari aktivitas ekspornya masih belum mencukupi untuk membiayai impornya.

Kebutuhan akan dolar tersebut dapat mempengaruhi nilai tukar dolar terhadap rupiah. Layaknya suatu barang atau jasa, tingginya permintaan yang tidak diiringi pasokan yang cukup, maka akan menjadikan barang atau jasa tersebut naik harganya. Inilah yang terjadi saat banyak pihak di Indonesia yang membutuhkan dolar, sementara ketersediaan dolar terbatas, sehingga nilai tukar dolar mengalami kenaikan terhadap rupiah.

Lalu bagaimana caranya agar transaksi berjalan Indonesia menjadi surplus, sehingga tidak lagi rentan terhadap gejolak nilai tukar dolar?

Satu caranya adalah melalui peningkatan ekspor dan mengurangi impor. Ekspor harus digenjot sedemikian rupa, baik dalam bentuk barang maupun jasa, agar dollar yang masuk ke Indonesia semakin banyak. Berbagai strategi dapat dilakukan untuk mengoptimalkan ekspor dalam rangka meraup devisa, di antaranya regulasi yang memudahkan eksportir, pemanfaatan sumber daya alam yang lebih baik terutama komoditas ekspor unggulan, serta mendorong sumber penerimaan devisa yang potensial diantaranya dari sektor pariwisata.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved