Citizen Reporter

Satu Dolar untuk Sekantong Pakaian

SUDAH sebulan lebih saya lalui kehidupan di Energy, the Land of Lincoln, Southern Illinois, Amerika Serikat

Satu Dolar untuk Sekantong Pakaian
GHINA GHEFFIRA

OLEH GHINA GHEFFIRA, Siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen, sedang mengikuti Program Pertukaran Kennedy Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES)/Bina Antarbudaya, melaporkan dari Southern Illinois, Amerika Serikat

SUDAH sebulan lebih saya lalui kehidupan di Energy, the Land of Lincoln, Southern Illinois, Amerika Serikat (AS). Dengan mengikuti program Kennedy Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) melalui Yayasan Bina Antarbudaya ini saya dapat merasakan bagaimana hidup di AS. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Herrin High School, sebuah sekolah di Kota Energy, Herrin Illinois, dan tinggal bersama host family (keluarga angkat).

Selama satu bulan di AS saya sudah tinggal bersama dua keluarga angkat. Berada di dua host family tentu memiliki kekhasan dan daya tarik masing-masing. Saya tak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bersosialisasi karena sedang berusaha beradaptasi di host family. Mereka banyak membantu saya untuk membuat saya cepat merasa nyaman di AS.

Ketika berpindah ke host family yang kedua, mereka sangat antusias menyambut saya karena mereka belum pernah memiliki anak perempuan. Terlebih lagi dua host brother (saudara angkat) saya merasa sangat senang karena memiliki kakak perempuan untuk pertama kalinya. Nenek mereka juga tinggal bersama di rumah itu. Saya sempat terkejut karena host grandma (nenek angkat) saya terlihat lebih muda dari umurnya. Keluarga angkat saya sangat membantu saya untuk mengenal bagaimana kehidupan di AS dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Host mom (ibu angkat) dan host grandma saya sangat suka berbelanja. Pada hari Rabu, sepulang sekolah, kami diajak mampir ke thrift store yang terletak di Marion. Thrift store adalah toko ritel yang dijalankan oleh organisasi amal untuk mengumpulkan uang (fundrising). Toko ini menjual pakaian-pakaian bekas (second) yang masih layak pakai di mana keuntungan dari penjualan ini akan digunakan untuk charity (amal).

Ketika memasuki toko langsung terlihat rak pakaian yang berjejer rapi. Terdapat berbagai macam ukuran dan warna pakaian di tempat tersebut. Uniknya, peraturan di thrift store hanya ada satu: selama semua pakaian muat dalam satu kantong plastik, harganya tetap $1, tak peduli berapa banyak pakaian yang kita ambil dari rak.

Menurut saya, berbelanja di thrift store ini sangatlah menyenangkan. Baju-baju tersebut tidak terlihat lusuh dan jelek meski barang bekas (used). Bahkan sepatu dan aksesori lainnya terlihat sangat baru dan masih sangat bagus. Banyak orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk membeli banyak baju bagus dengan harga yang sangat rendah. Tentu saja saya sebagai seorang pelajar sangat senang dapat berbelanja di thrift store, karena tak perlu merogoh uang terlalu banyak. Hanya dengan USD1 sudah bisa mendapatkan sekantong plastik baju yang diinginkan, tentu harga tersebut belum termasuk pajak.

Konsep yang diterapkan oleh thrift store ini sangat menarik, karena keuntungan yang didapatkan dari toko ini akan disumbangkan pada kegiatan-kegiatan amal dan sosial. Tentu saja konsep ini dapat diadopsi untuk menggalang dana. Nah, teman-teman di Aceh mungkin dapat menjual pakaian atau barang bekasnya di tempat tertentu, lalu keuntungan yang didapat dari penjualan tersebut disumbangkan kepada korban gempa dan tsunami di Palu, Donggala, atau korban banjir di Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang baru saja terjadi. Penjualannya bisa dilakukan dalam bentuk garage sale, yaitu penjualan barang-barang bekas yang masih layak pakai di garasi atau di halaman depan rumah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved