Opini

Kadin Aceh, Antara Ada dan Tiada

SELAMA tiga periode berturut-turut (15 tahun), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh dipimpin oleh Sdr Firmandez

Kadin Aceh, Antara Ada dan Tiada
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh, Jumat (28/9/2018) malam, menduduki Kantor Kadin Aceh atau Balai Saudagar yang berada di Jalan Makam Pahlawan, Ateuh Pahlawan, Banda Aceh. 

Oleh Alwin Abdullah

SELAMA tiga periode berturut-turut (15 tahun), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh dipimpin oleh Sdr Firmandez. Fantastis! Begitu kuatnya mental dan fisik untuk memimpin sebuah organisasi tempat dan wadah pengusaha dan pedagang yang ada di wilayah Aceh.

Dalam tiga periode kepepimpinannya itu, prestasinya yang menonjol adalah berhasil mendapatkan sepetak tanah dan satu bangunan gedung Kantor Kadin. Yang lain, antara ada dan tiada.

Sedangkan yang bersinggungan dengan pelaku ekonomi daerah Aceh ini, manfaatnya mungkin perlu dipertanyakan. Masyarakat Kadin Aceh memang butuh sebuah kantor dan jangan lupa perjuangan Sdr Firmandez bersama teman-teman berhasil membangun sebuah kantor Kadin Aceh yang representatif, dan patut diapresiasi dengan ucapan terima kasih.

Inovasi baru
Ekonomi berkaitan dengan pengolahan sumber daya yang langka. Alam menentukan kendala utama pada pertumbuhan ekonomi dan pengetahuan,

kita ikut menentukan seberapa baik dalam menghadapi kendala itu. Pengetahuan dapat berfungsi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Memecahkan masalah dengan menunjukkan bagaimana kekuatan ekonomi mengatur kemauan perusahaan untuk menghasilkan ide dan inovasi baru.

Meletakkan dasar dari apa yang sekarang disebut teori pertumbuhan endogen. Teori ini bersifat konseptual dan praktis karena menjelaskan bagaimana ide-ide berbeda dengan barang-barang lain dan membutuhkan kondisi khusus untuk berkembang di pasar. Bukankah perguruan tinggi merupakan gudang segala ilmu pengetahuan, yang memang sangat dibutuhkan oleh manusia?

Sudahkah Kadin Aceh bersama-sama dengan pemerintah, terutama pemerintah kabupaten/kota di Aceh membuat peta komoditi wilayah per kacamatan masing-masing daerah kabupaten/kota tersebut? Ini penting dan sangat dibutuhkan. Dari data-data tersebut nantinya semua pelaku ekonomi daerah ini mudah mendapatkan gambaran komiditi atau potensi setiap wilayah yang ada di Aceh.

Untuk memacu kemajuan sektor Maritim dan pengembangan manufaktur lain, pendidikan tinggi vokasi dan politeknik perlu diperbanyak dan memperkuat lahirnya tenaga ahli dan praktis. Sejumlah bidang baru dimasukkan dalam jurusan yang relevan, seperti teknologi informasi dan komunikasi, serta bisnis pemasaran.

Membebaskan belenggu-belenggu untuk meraih keberanian dan keberhasilan dalam pembaruan, tentu tidak mudah. Apa lagi dalam menghadapi hal-hal yang tidak terlihat seperti tidak singkronisasi antara Kadin Aceh dengan pemerintah daerah. Yang terlihat hanyalah berjalan tanpa arah, di mana masing-masing mempunyai ego tersendiri. Bukankah Kadin Aceh dan pemerintah daerah harus bergandengan tangan, sebagai motor untuk membuka pasar komoditi ke negara-negara yang membutuhkannya? Sudah seharusnya Kadin Aceh bekerja sama dengan lembaga, badan atau dinas-dinas terkait untuk membuka pusat informasi bisnis, sehingga pemilik lahan tidur tidak lagi sebagai penonton.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved