Citizen Reporter

Teraturnya Jadwal Makan Warga Tiongkok

Sehat merupakan hak semua manusia. Untuk memperoleh kesehatan yang prima dibutuhkan usaha, misalnya,

Teraturnya Jadwal Makan Warga Tiongkok
NOVIANA DARUWATI KUSUMA

OLEH NOVIANA DARUWATI KUSUMA, Pelajar Central South University, Changsha, asal Aceh, melaporkan dari Provinsi Hunan, Tiongkok

Sehat merupakan hak semua manusia. Untuk memperoleh kesehatan yang prima dibutuhkan usaha, misalnya, menjaga pola makanan yang sehat, selektif terhadap jenis makanan yang hendak dikonsumsi, tahu kandungan nutrisinya, dan berolahraga secara teratur. Tingkok merupakan negara yang menawarkan hal-hal tersebut.

Rakyat Negeri Tirai Bambu ini bahkan punya jam makan yang sangat teratur. Sarapan biasanya dilakukan pukul 06.00-07.30 karena rata-rata jadwal belajar, ke kantor, atau aktivitas yang lainnya dimulai pukul 08.00. Jadwal makan siangnya pukul 11.00-12.30 karena jam istirahat pada pukul 11.00-14.00. Makan malam biasanya dilakukan pukul 17.00-18.30. Jam itu menunjukkan aktivitas di berbagai instansi, perkantoran, sekolah, dan lain-lainnya telah usai. Jika jam makannya lewat dari jam makan, orang Tiongkok harus merogoh kocek yang tak sedikit untuk makan di luar area tempat mereka bekerja/belajar. Itu karena kantin atau kedai makan yang dekat tempat mereka bekerja/belajar bukanya hanya pada jam-jam tersebut, sedangkan harga makanan di luar umumnya lebih mahal.

Tak hanya itu, untuk menunjang fisik yang sehat, universitas-universitas Tiongkok memberikan fasilitas lapangan olahraga yang terhitung banyaknya. Terlebih di Central South University. Universitas yang terletak di Hunan, Kota Changsha ini menawarkan berbagai jenis olahraga kepada para mahasiswanya. Mulai dari jogging, basket, voli, futsal, sepak bola, pingpong, tenis, berenang, gym, badminton, hingga taijiquan. Bakat atletis setiap mahasiswanya dapat dikembangkan di sini asal mau bergabung dengan komunitas olahraga yang dia kehendaki.

Letak lapangan-lapangan tersebut juga tak terlalu jauh dari tempat tinggal (dormitory) mahasiswa. Hanya sekitar tiga menit dengan berjalan kaki. Apabila ada yang menyukai olahraga asal Tiongkok, seperti halnya taijiquan, maka mahasiswa tersebut harus pergi ke kampus utama. Jarak kampus utama dengan kampus lainnya berkisar satu jam perjalanan naik umum atau bus yang disediakan universitas.

Central South University dibagi atas empat kampus, yakni: Kampus Utama (Main Campus), Kampus Railway (Railway Campus), Kampus Medical (Xiangya Medical Campus), dan Kampus Baru (New Campus). Masing-masing kampus punya peruntukan tersendiri. Kampus Utama, misalnya, merupakan pusatnya kantor-kantor yang bertanggung jawab terhadap mahasiswa dan beberapa jurusan belajar di kampus ini. Kampus Railway, di sini kebanyakan mahasiswa mengambil program short course bahasa Mandarin selama satu tahun dan beberapa jurusan yang berhubungan dengan teknik: teknik sipil, teknik mesin, traffic and transportation engineering, dan masih banyak lainnya. Kampus Medical diperuntukkan bagi mahasiswa yang belajar ilmu kedokteran dan kesehatan. Sedangkan Kampus Baru merupakan ekspansi dari Central South University dan sedang dalam tahap penyelesaian pembangunan.

Central South University ini terletak di bawah kaki Gunung Yuelu. Gunung ini menghubungkan Central South University dengan Hunan University. Pada liburan Mid-Autumn Festival pada 22-24 September 2018, banyak warga dan mahasiswa berduyun-duyun memanfaatkan momen liburan ini untuk mendaki Gunung Yuelu. Jalan menuju gunung pun selain dapat didaki oleh pejalan kaki, juga dapat dilalui oleh kendaraan bermotor, baik beroda dua maupun roda empat.

Apabila ingin mendaki melalui Central South University hanya dapat ditapaki oleh para pejalan kaki. Berbeda halnya jika mengambil jalur dari Hunan University, jalur yang disediakan tidak hanya jalan setapak, tetapi juga jalan beraspal yang cukup dilewati oleh kendaraan bermotor. Kebanyakan dari pelajar Indonesia dan penduduk setempat mendaki pada waktu petang. Di atas Gunung Yuelu dapat kita nikmati secangkir teh merah atau hongcha. Hong yang berarti merah dan cha bermakna teh. Selain itu, dari atas Gunung Yuelu juga tampak gemerlapnya lampu yang indah.

Disuguhi aneka suasana keindahan panorama dan berbagai fasilitas yang diberikan, ternyata tidak melulu berbanding lurus dengan kedatangan orang Indonesia yang baru tiba di Central South University pada awal September lalu. Euforia pelajar Indonesia saat tiba di negeri Cina pertama kali sangat dikejutkan oleh adanya shock culture. Gejolak shock culture pun dapat dirasakan secara jelas. Jarak tempuh dengan berjalan kaki dari satu ruas jalan ke jalan yang lainnya tak bisa dikatakan dekat lagi. Rengekan, keluhan, kegundahan, rasa gelisah, hingga ada yang merasa menyerah ingin kembali ke Indonesia juga pernah dirasakan saat pertama kali menginjak bumi bagian Changsha ini. Selain kota ini merupakan daerah pegunungan yang mempunyai jalan menanjak, jarak dari gedung ke gedung juga harus ditempuh dengan berjalan kaki yang cukup jauh dan menguras kesabaran. Apalagi bila hujan tiba, target kita untuk sampai ke tujuan tepat waktu, bisa meleset. Kecuali bagi mereka yang punya uang lebih, mereka bisa membeli sepeda motor berbaterai untuk dikendarai.

Bahkan untuk makan siang atau makan malam di kantin atau di warung saja, kita biasanya harus berjalan kaki selama 15-20 menit. Nah, biasanya jika sudah terasa kenyang, tapi karena berjalan kakinya lumayan jauh untuk sampai ke asrama, bisa-bisa kita mulai merasa lapar lagi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved