Opini

Hutan dan Banjir

SETIAP kali musim hujan tiba, penduduk di kawasan yang biasa menjadi langganan banjir selalu merasa was-was

Hutan dan Banjir
Mongabay Indonesia / Junaidi Hanafiah
Hutan yang berubah menjadi perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Tamiang. 

Oleh Saminuddin B. Tou

SETIAP kali musim hujan tiba, penduduk di kawasan yang biasa menjadi langganan banjir selalu merasa was-was. Mereka khawatir banjir akan menimbulkan kerusakan atau kerugian, baik rumah, barang-barang, usaha, ternak ataupun hasil pertaniannya. Bahkan ada kalanya juga menimbulkan korban jiwa, terutama banjir yang disertai dengan tanah longsor.

Kalau sudah terjadi banjir biasanya orang akan mengaitkannya dengan hutan. Orang akan menuding bahwa banjir, seperti halnya juga dengan kekeringan, disebabkan oleh hutan yang rusak. Masyarakat menduga bahwa terjadinya banjir yang menggenangi daerah hilir, pasti akibat dari terjadinya penebangan pohon atau perusakan hutan yang dilakukan di hulu yang menjadi daerah aliran sungai (DAS).

Apakah anggapan itu memang merupakan kebenaran berdasarkan hasil kajian ilmiah ataukah hanya mitos? Mitos adalah sesuatu yang dipercaya begitu saja, tanpa didasarkan pada hasil kajian ilmiah. Ini adalah akibat dari menerima informasi yang kurang proporsional. Sebenarnya mitos deforestasi terhadap perubahan tata air berkaitan dengan karakteristik deforestasi, kondisi iklim, dan biofisiografi.

Penebangan pohon oleh orang awam sering disamakan dengan deforestasi. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Penebangan pohon itu dikatakan deforestasi apabila mengkonversi hutan secara permanen menjadi berbagai bentuk penggunaan lahan bukan hutan, misalnya dari bertutupan hutan menjadi lahan permukiman, perkebunan atau pertanian. Apabila penebangan itu hanya mengakibatkan berkurangnya jumlah pohon saja dan penurunan kualitas hutan itu bersifat sementara, maka itu disebut degradasi hutan.

Dampak deforestasi
Pada kondisi tertentu baik deforestasi maupun degradasi hutan dapat menimbulkan dampak positif ataupun dampak negatif terhadap tata air (hidrologi). Apakah ada deforestasi yang berdampak positif terhadap terhadap tata air? Ya, ada, tergantung perspektif yang digunakan. Itulah sebabnya deforestasi tidak bisa digeneralisir begitu saja sebagai penyebab terjadinya banjir. Sayangnya, kekeliruan tentang dampak deforestasi dan juga reboisasi terhadap tata air sudah terlanjur menjadi mitos masyarakat.

Jika dikaitkan dengan perubahan tata air hutan, ternyata deforestasi tidak selalu sama dengan pengertian “perusakan”, dan reboisasi tidak selalu sama dengan “perbaikan”. Dalam kasus tertentu, deforestasi diketahui meningkatkan debit sungai dan reboisasi justru berakibat menurunkan debit sungai di musim kemarau. Ini terjadi karena hutan memiliki konsumsi air yang lebih tinggi daripada penutupan nonhutan. Deforestasi akan mengurangi konsumsi air yang tinggi dari pohon.

Pada kasus yang lain, adanya deforestasi akan menyebabkan peresapan air akan berkurang dan air larian (run off) akan naik, sehingga volume air simpanan dalam tanah menurun. Ini akan menurunkan kapasitas mata air bahkan dapat mengering di musim kemarau. Debit air sungai juga berubah. Sungai berubah dari sungai perenial menjadi sungai periodik. Kondisi inilah yang memberi kesan berkurangnya hutan akibat deforestasi mengurangi aliran air. Walaupun sebenarnya jumlah aliran total air lebih besar, tetapi aliran itu terpusat pada musim hujan.

Konversi hutan menjadi bentuk penggunaan lahan yang lain akan memberikan dampak lingkungan yang bersifat spesifik. Misalnya, hutan yang dikonvesi menjadi kebun kelapa sawit, tidak sama dampaknya dengan hutan tanaman industri, kebun karet, kebun kopi, atau kebun campuran. Begitu juga jika misalnya, hutan dikonversi menjadi tanaman jagung atau nilam. Belum lagi akibat dari adanya perbedaan kondisi fisiknya, seperti kelerengan, jenis tanah, tipe hujannya, dan sebagainya. Jadi ada berbagai faktor yang mempengaruhi sehingga dampak penebangan pohon terhadap tata air bisa menjadi berbeda-beda.

Hal ini pulalah yang menyebabkan banyak penelitian terhadap dampak konversi hutan terhadap karakteristik tata air hasilnya sering berbeda, bahkan terkadang berlawanan satu sama lain. Kontroversial itu terjadi akibat kurangnya diberikan penjelasan yang lengkap terkait dengan penelitian itu. Sementara orang awam menerima begitu saja kesimpulan yang disampaikan, tanpa memahami secara cermat dan menyeluruh keterkaitan proses yang terjadi di alam.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved