Banjir Hentikan Aktivitas Sekolah di Aceh Barat dan Nagan

Banjir yang melanda Aceh Barat dan Nagan Raya dilaporkan telah merendam puluhan desa dan melumpuhkan

Banjir Hentikan Aktivitas Sekolah di Aceh Barat dan Nagan
ist
Hujan deras yang melanda kawasan Aceh Jaya dan sekitarnya sejak Senin (15/10/2018) mengakibatkan sejumlah wilayah di Aceh Jaya terendam banjir, Selasa (16/10/2018). 

* Jembatan Manee Ditangani Darurat

MEULABOH - Banjir yang melanda Aceh Barat dan Nagan Raya dilaporkan telah merendam puluhan desa dan melumpuhkan aktvitas belajar mengajar.

Di Aceh Barat, hingga Rabu sore kemarin, ketinggian air masih mencapai 10 hingga 50 cm pada kawasan-kawasan tertentu di 10 kecamatan meliputi Bubon, Samatiga, Johan Pahlawan, Woyla Timur, Woyla, Arongan Lambalek, Woyla Barat, Kaway XVI, Pante Cereumen, dan Meureubo.

Masyarakat yang terdampak dilaporkan mencapai 3.303 kepala keluarga (KK) atau sekitar 11.250 jiwa. Tim BPBD dan Dinsos dilaporkan sudah dikerahkan ke lokasi, namun sejumlah pejabat atau para petinggi di kabupaten itu terkesan kurang respons dengan bencana yang sedang dihadapi masyarakat. Penyaluran bantuan masa panik untuk korban juga belum merata.

Sekolah yang terpaksa diliburkan karena direndam banjir, antara lain berlokasi di Kecamatan Samatiga, Arongan Lambalek, Bubon, dan Woyla Barat. Laporan sementara warga yang mengungsi adalah di Desa Cot Amun, Kecamatan Samatiga ke kantor desa. Sedangkan desa lain yang rumah mereka juga terendam mengungsi ke rumah famili.

Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, Maimun yang ditanyai Serambi mengatakan banjir yang melanda Aceh Barat kali ini tergolong tinggi. Ini terjadi setelah hujan lebat dalam beberapa hari terakhir.

Dampak banjir yang sudah dilaporkan ke BPBD adalah dua rumah di Desa Keuramat, Kaway XVI yang rusak berat dan ringan karena amblas ke dasar sungai Krueng Meureubo.

Nagan Raya
Dari Nagan Raya dilaporkan, banjir masih merendam puluhan desa dan ribuan rumah dalam tiga kecamatan yaitu Tripa Makmur, Darul Makmur, dan Tadu Raya dengan ketinggian air berkisar 10 hingga 60 cm.

Proses belajar mengajar juga terganggu karena lingkungan dan gedung sekolah terendam seperti di Kecamatan Tripa Makmur, Kuala, dan Darul Makmur. Banjir juga telah mengikis tebing sungai di Desa Geulanggang Gajah, Kecamatan Darul Makmur yang saat ini tinggal satu meter lagi dengan badan jalan utama.

“Air sudah mulai surut di sekolah kami namun proses belajar mengajar belum bisa berlangsung karena harus membersihkan lumpur di semua lantai ruangan sekolah,” kata Kepala SDN Tarung Ijo, Kecamatan Darul Makmur, Said Umar kepada Serambi, Rabu (17/10).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved