Opini

BBM Mahal, Bioenergi Alternatif Solusinya

PEMERINTAH terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) seiring dengan meningkatnya harga

BBM Mahal, Bioenergi Alternatif Solusinya
KOMPAS / PRIYOMBODO

Oleh Kiman Siregar

PEMERINTAH terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) seiring dengan meningkatnya harga minyak fosil dunia, ditambah semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar USA. Walaupun sebelumnya sempat tersiar berita bahwa harga semua jenis BBM akan mengalami kenaikan, namun akhirnya kenaikan ini baru diterapkan pada Pertamax Series, Dex Series, dan Biosolar Non-PSO.

Harga Pertamax yang sebelumnya Rp 9.500 per liter naik menjadi Rp 10.400 per liter; Pertamax Turbo dari Rp 10.700 menjadi Rp 12.250 per liter; Pertamina Dex dari Rp 10.500 menjadi Rp 11.850 per liter; Dexlite dari Rp 9.000 menjadi Rp 10.500 per liter; dan Biosolar nonsubsidi/Non-PSO dari Rp 7.700 menjadi PSO Rp 9.800 per liter.

Satu faktor pemicunya adalah kerugian Pertamina yang semakin besar jika tidak dilakukan penyesuaian harga, walaupun saya pribadi melihat Pertamina sebagai pengelola dan yang memproduksi energi, kurang tanggap mengantisipasi keadaan energi nasional. Terlebih posisi produksi minyak fosil kita memang sudah defisit dibandingkan dengan kebutuhan nasional.

Apalagi saat ini Indonesia terus bertumbuh dan memang harus bertumbuh untuk memenuhi kebutuhan 260 juta-an rakyat Indonesia. Jika saat ini pertumbuhan kita dipatok sekitar 5,6%, maka seharusnya pertumbuhan ketersediaan energi kita minimal 9%. Kalau dari energi fosil sudah tidak memungkinkan, maka solusinya adalah dari bioenergi, dalam hal ini kelapa sawit.

Mengapa harus bioenergi?
Menurut saya, minimal ada empat alasan mengapa harus bioenergi, yait: Pertama, jenis bahan baku dan potensi pemanfaatannya besar, salah satu sumber utamanya adalah kelapa sawit. Sejak 2006 sampai sekarang, Indonesia tercatat sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia. Pada 2016, produksi CPO kita sebanyak 32 juta ton, kemudian pada 2017 meningkat menjadi 37 juta ton, dengan luas area perkebunan sawit sekitar 11 juta hektare. Dan pada 2018 ini produksi CPO naik lagi mencapai 42 juta ton dengan luas area perkebunan sekiat 14 juta hektare.

Kedua, kebijakan tarif harganya menguntungkan, melalui Permen ESDM No.27 Tahun 2014 diatur tarif khusus untuk harga listrik yang bersumber dari bioenergi sesuai dengan lokasi daerahnya. Ketiga, menyumbang penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), terutama dari penggunaan biodiesel, pemanfaatan limbah padat (biomassa) sebagai bahan bakar pada Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) dan limbah cair juga pada Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg);

Dan, keempat, menampung tenaga kerja, untuk lahan sawit saja yang 14 juta-an hektare dapat menampung tenaga kerja sekitar 28 juta-an orang. Diperkirakan jika kapasitas pabrik biodiesel 12 juta-an kilo liter diaktifkan secara maksimal, maka akan dapat menampung tenaga kerja terdidik minimal 500 ribu orang lagi. Padahal dari data Persatuan Insinyur Indonesia (PII) 2015 terdapat 700.000 insinyur Indonesia.

Sedangkan pada 2020 nanti, diperkirakan jumlah sarjana di Indonesia akan menjadi 6% dari jumlah penduduk atau sekitar 15,9 juta orang. Ini berarti, jika tidak ada inovasi pembukaan lapangan kerja, maka sebagian besar dari mereka akan menganggur. Sementara ada potensi konversi sumber bahan bakar nabati (BBN) ke biodiesel, di mana sumber bahan bakunya juga banyak di Indonesia, seperti kelapa sawit, nyamplung, jarak pagar, dll.

Sejak 2006, Indonesia sudah menjadi net importer BBM, saat ini produksi minyak fosil Indonesia hanya 800 ribu barel per hari (1 barel = 115,63 liter) atau setara 92,5 juta liter per hari. Sedangkan kebutuhan nasional sebesar 1,5 juta barel per hari atau setara 173,4 juta liter per hari. Artinya, ada defisit sebesar 80,9 juta liter per hari atau 700 ribu barel per hari. Konsumsi BBM Nasional cukup besar, satu penyebabnya adalah komposisi pembangkit listrik di Indonesia yang masih banyak bersumber dari bahan bakar fosil, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved