Opini

‘Revolusi Korupsi 4.0’ di Aceh

BELAKANGAN ini telinga kita cukup akrab dengan istilah “Revolusi Industri 4.0”

‘Revolusi Korupsi 4.0’ di Aceh
SERAMBINEWS.COM/M NASIR YUSUF
Dr Muhd. Najib Muhammad Yasin ketika memberikan materi pada seminar internasional bertajuk Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan bisnis digital di STIES Banda Aceh. 

Oleh Suhaimi

BELAKANGAN ini telinga kita cukup akrab dengan istilah “Revolusi Industri 4.0”. Segala tentangnya menjadi menarik dibicarakan dan ia terlihat penting, sepenting pembenahan moral yang harus segera dilakukan di Aceh. Lantas, apa sebenarnya istilah yang mirip kode komputasi ini? Revolusi industri adalah segala sesuatu tentang pembaruan di dunia industri yang sudah terjadi sejak dulu.

Istilah “Revolusi Industri 4.0” diangkat oleh Profesor Klaus Schwab, seorang ekonom Jerman yang juga pendiri World Economic Forum (WEF) pada acara Hannover Fair 8 April 2013 lalu. Klaus Schwab menyebut “Revolusi Industri 4.0” secara fundamental berbeda dengan revolusi industri edisi sebelumnya.

Selain membawa banyak perubahan, inti dari “Revolusi Industri 4.0” adalah membuat batas antara dunia digital, fisik, dan biologis semakin tipis, bahkan pada titik dan derajat tertentu batas tersebut hilang sama sekali. Klaus Schwab menutup penjabarannya tentang “Revolusi Industri 4.0” sebagai era di mana kecerdasan manusia bersaing tipis dengan kecerdasan buatan.

Korupsi menyeluruh
Lalu, apa hubungan “Revolusi Industri 4.0” dengan kasus korupsi di Aceh? Jika dunia sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut era “Revolusi Industri 4.0”, maka Aceh sedang berkubang dengan mata rantai korupsi. Di saat negara-negara lain sibuk bersaing memajukan dunia tekonologi dengan menggandeng robotik sebagai poros utama, Aceh justru sedang berevolusi di dunia per-korupsi-an. Pelan-pelan praktik korupsi direvolusi, dibenahi dan dilancarkan di segala lini lalu diterapkan secara menyeluruh.

Ini unik sekaligus menggelikan, tentu saja. Di Aceh, praktik korupsi tumbuh subur dan dipupuk di berbagai bidang. Dari ujung utara sampai ke pantai barat kasus korupsi layaknya piala bergilir yang diperebutkan dan harus dirasa oleh segenap lapisan masyarakat. Semboyan “korupsilah kamu, selagi kamu bisa dan berkuasa” menjadi sangat rasional dan sesuatu yang tak absurd diucapkan. Statistik kasus korupsi di Aceh sangat beragam dan bikin garuk-garuk kepala.

Hampir tak ada satu bidang pun bebas dari korupsi. Semua dinas dan instansi pemerintahan adalah ladang gambut yang telah dibajak dan siap ditanami berbagai bibit-bibit korupsi. Yang lebih miris dari semuanya adalah kenyataan bahwa kasus korupsi belakangan marak terjadi di instansi pendidikan. Alih-alih mendidik masyarakat untuk tidak bercita-cita menjadi koruptor, dinas pendidikan justru menjadi tempat paling ringkih dan mudah diserang hama korupsi.

Belum kelar kasus korupsi yang menimpa abdi negara di bawah Dinas Pendidikan Aceh Barat dalam operasi tangkap tangan (OTT) kasus dugaan pungutan liar (pungli), kasus tangkap tangan lainnya terjadi di lingkungan Dinas Pendididkan Aceh Utara. Jika pada kasus OTT di Aceh Barat Tim Saber Pungli menyita uang sebagai barang bukti (BB) dari tangan tersangka sebesar Rp 157,6 juta, maka pada kasus OTT di Aceh Utara Tim Saber Pungli menyita barang bukti Rp 7,5 juta (Serambi, 19/9/2018).

Selain di dunia pendidikan, kasus-kasus korupsi Aceh juga merambah ranah lain. Baru-baru ini kasus pengadaan ternak fiktif (juga termasuk korupsi) terbongkar di Lhokseumawe. Tak tanggung-tanggung uang negara sebesar Rp 8,168 miliar lenyap dalam kasus yang sudah terendap sejak 2014 itu (Serambi, 26/9/2018).

Kemudian, kasus korupsi juga menyasar bidang pembangunan pemukiman transmigrasi di Ketubong Tunong, Gampong Blang Lango, Kecamatan Seunagan Timur, Nagan Raya. Kasus yang melibatkan orang-orang besar di Dinas Sosial Nagan Raya itu membuat negara mengalami kerugian Rp 500 juta dari total pagu Rp 3,8 miliar yang berasal dari APBN 2015 (Serambi, 22/9/2018).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved