Beratnya Derita Paras, Bocah Penderita Rubella

KAKI kecilnya goyah saat melangkah. Matanya berputar mencari arah. Kedua tangannya gemetaran

Beratnya Derita Paras, Bocah Penderita Rubella
PARAS Perdana Berutu yang didiagnosis terkena rubella digendong ibunya, di rumah mereka Desa Situbuh-tubuh, Danau Paris, Aceh Singkil, Selasa (16/10).

KAKI kecilnya goyah saat melangkah. Matanya berputar mencari arah. Kedua tangannya gemetaran meraba pegangan saat berjalan menuju teras rumah.

Bocah usia enam tahun itu bernama Paras Perdana Berutu. Dokter mendiagnosis anak ketiga pasangan Fendi Berutu dan Sonot Manik, penduduk Desa Situbuh-tubuh, Danau Paris, Aceh Singkil, itu menderita rubella. Dari dekat tubuh Paras terlihat kurus, nyaris tinggal tulang berbalut kulit.

Paras baru terbangun dari tidurnya saat Serambi tiba di rumah orang tuanya, Selasa (16/10) pukul 09.00 WIB. Ia sepanjang malam terjaga akibat penyakit yang dideritanya sejak lahir. Ia mendampingi kedua orang tuanya yang sedang berada di teras rumah menyambut kedatangan Serambi dan Raja Maringin (Kepala Bidang Keperawatan RSUD Aceh Singkil), dan Putra, Sekretaris Puskesmas Danau Paris.

Melihat sang anak, Sonot Manik segera memeluknya. Hanya beberapa menit berada dalam peluk bunda, Paras pun merengek minta diantar masuk untuk meneruskan tidurnya. Kali ini giliran Fendi yang menggendong Paras ke tempat tidur sambil menyeduhkan sebotol susu. “Kepalanya geleng, masih ngantuk dia,” kata Fendi penuh perhatian.

Sehari-hari kedua orang tua Paras harus bergantian menjaga. Walau fisiknya lemah, Paras tak bisa berdiam diri. Terutama tangannya kerap mencolok bola mata hingga seolah hendak lepas dari kelopaknya. “Bila penyakitnya kambuh tubuhnya kejang, aku sangat cemas,” ujar Fendi menceritakan derita yang dialami anaknya.

Pernah suatu ketika saat ditinggal sendiri di rumah, Paras justru memanjat sehingga televisi di rumah itu terjatuh dan hancur. “Sebetulnya kami tidak bisa terus di rumah. Istri kerja mengajar di sekolah, saya harus kerja. Kalau tidak kerja dari mana kami dapat uang?” keluh Fendi.

Segala upaya pengobatan terus diupayakan kedua orang tua Paras, misalnya di RSUD Aceh Singkil bahkan ke Medan, Sumatera Utara. Sayangnya, kondisi kesehatan Paras yang didiagnosis mengalami gangguan jantung, mata katarak, dan hernia belum menunjukkan kemajuan.

Di Desa Situbuh-tubuh anak yang diduga terkena rubella ada dua orang. Satu lagi Pelita yang usianya seumuran dengan Paras, enam tahun. Bedanya Pelita tidak mengalami kejang-kejang. Namun berdasarkan ciri-cirinya mirip rubella. “Ada dua yang terkena rubella. Satu lagi anak saudara kami juga,” kata Fendi dibenarkan Putra Sekretaris Puskesmas Danau Paris.

Orang tua penderita rubella berharap ada perhatian serius dari pemerintah, dalam membantu pengobatan serta pemberian makanan bergizi. Mengingat mereka cukup kewalahan. Walau diakui selama ini pengobatan bisa menggunakan BPJS dan perhatian dari Dinas Kesehatan Aceh Singkil sudah ada. “Aku tidak mau hanya jadi sorotan, tanpa ada tindak lanjut untuk pengobatan anak aku,” ujar Sonot Manik ibu Paras dengan suara bergetar.

Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Erwin mengatakan, kasus rubella telah lama terjadi dan telah dilaporkan ke provinsi. Pihaknya juga terus berupaya memberikan perhatian kepada penderita. “Memang kondisi pasien rubella sangat memprihatinkan. Butuh biaya sangat besar untuk mengobati,” kata Erwin didampingi Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Nurman Manik.

Vaksin rubella
Bukan tanpa alasan pemerintah menggencarkan kampanye vaksin measles rubella (MR), jika melihat derita anak-anak yang terkena rubella. Sayang pemberian vaksin tersebut memicu polemik di tengah masyarakat, terkait kehalalannya.

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Singkil, Ustad Adlin Syah BA seusai menghadiri rapat paripurna APBK Perubahan 2018 di gedung DPRK setempat, Senin (15/10) kepada Serambi mengatakan, pihaknya masih menunggu fatwa MPU Aceh tentang vaksin MR. “Kami tidak bisa melarang dan membolehkan karena kami tidak memiliki komisi fatwa. Kami dengar sudah ada sidang, tapi keputusaanya belum kami terima,” ujarnya.

Kendati muncul polemik, Aceh Singkil sebetulnya tercatat sebagai kabupaten dengan cakupan vaksin MR tertinggi di Provinsi Aceh. Dari 12 puskesmas di daerah itu Puskesmas Kuta Tinggi merupakan yang tertinggi cakupan pemberian vaksin MR-nya, yakni 94,71 persen berdasarkan data dinas kesehatan setempat, Selasa (16/10).

Kepala Puskesmas Kuta Tinggi. Dokter Henrika mengatakan, cakupan vaksin MR tinggi di wilayahnya berkat kegigihan memberikan penjelasan kepada orang tua anak. “Jika menolak hari ini, besok kami datang lagi beri penjelasan. Biasanya setelah mengerti akan datang sendiri minta divaksin. Kuncinya gigih,” kata Henrik berbagi trik sukses pemberian vaksin measles rubella. (dede rosadi)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved