Opini

Menyikapi Takdir

UMAT Islam yakin sekali bahwa semua yang terjadi di atas bumi, baik yang berkenaan dengan manusia

Menyikapi Takdir
Kondisi bangunan RS Anutapura yang rusak akibat gempa di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9/2018).(ANTARA FOTO/BNPB/) 

Oleh Al Yasa‘ Abubakar

UMAT Islam yakin sekali bahwa semua yang terjadi di atas bumi, baik yang berkenaan dengan manusia ataupun dengan alam, adalah ketentuan dan keputusan Allah Swt yang tidak dapat diubah. Konon, ketika Umar bin Khathab ra menjadi khalifah, seorang tamu datang ke Madinah untuk menemuinya. Tamu itu turun dari unta dan menemui Khalifah Umar di dalam masjid. Tetapi unta yang ditungganginya tadi, dibiarkan begitu saja tanpa mengikatnya.

Melihat hal itu, Umar bertanya kenapa dia membiarkan untanya tanpa diikat. Tamu tadi menjawab, bahwa dia menyerahkan urusan unta ini kepada Allah. Kalau Allah menghendaki agar unta tersebut tetap untuk dia, maka unta itu tentu tidak akan ke mana-mana. Tetapi kalau Allah menghendaki unta itu hilang, maka dia akan menerimanya sebagai takdir dan dia rela.

Mendengar jawaban tersebut, Umar bertanya lagi; Apakah kalau kamu mengikat unta itu lalu unta itu tidak pergi ke mana-mana, kamu anggap sebagai bukan takdir Allah? Tamu ini dengan lugu menjawab, ya hal itu takdir Allah juga, semua yang terjadi adalah takdir Allah Swt.

Lalu Umar berkata, kalau begitu kenapa kamu memilih perbuatan yang mungkin akan berakibat buruk dan nanti kalau hal yang buruk terjadi kamu melimpahkannya kepada Allah. Sementara sebetulnya ada perbuatan lain yang dapat kamu pilih, yang kuat dugaan akan berdampak baik buat kamu, yang juga merupakan takdir Allah.

Khalifah Umar melanjutkan; kamu tidak dapat lari (keluar) dari takdir Allah. Apa pun pekerjaan yang kamu ambil (pilih), semuanya merupakan takdir Allah Swt. Untuk itu, kamu mesti berbaik sangka kepada Allah. Jangan menyalahkan Allah, karena kamu salah memilih.

Sepengetahuan penulis secara sederhana, takdir dapat dinyatakan sebagai ketentuan Allah tentang segala sesuatu di atas alam yang pasti akan terjadi, termasuk nasib dan perjalanan hidup manusia, baik sebagai pribadi ataupun sebagai kelompok. Tidak ada orang, kelompok atau bangsa yang dapat lari dari takdir Allah.

Tak dapat dihindari
Apa pun yang terjadi di atas alam, dan peristiwa apa pun yang menimpa seseorang atau bangsa, semuanya merupakan takdir Allah yang tidak dapat dihindari. Namun pernyataan ini masih belum selesai, perlu dilanjutkan dengan tambahan frasa yang perlu digaris bawahi dan direnungkan lebih dalam; bahwa tidak ada orang yang dapat mengetahui takdir Allah sebelum hal tersebut betul-betul terjadi.

Jadi kalau ada orang yang mengaku dapat membaca takdir, maka hal itu tidak boleh dipercayai, dianggap keliru karena melawan wahyu, bahkan dapat menyebabkan syirik di dalam Islam. Karena alasan inilah, para ulama mencela tukang ramal dan ahli nujum, karena dia dianggap menyaingi Allah, mengaku dapat mengetahui takdir yang menurut keyakinan Islam merupakan ilmu Allah Swt secara mutlak.

Menghadapi takdir dengan dua ciri di atas (semua yang terjadi adalah takdir dan tidak dapat diketahui sebelum terjadi), Allah Swt memberikan dua alat kepada manusia. Pertama sekali, peraturan yang relatif ajeg untuk mengatur alam dan masyarakat manusia, yang dalam Alquran disebut sunnatullah, yang sering diterjemahkan dengan istilah hukum alam. Tidak ada perubahan pada sunnatullah (QS. al-Isra’: 77, al-Ahzab: 62, al-Fathir: 43, dan al-Fath: 23). Kita dapat menyebut sunatullah sebagai takdir Allah mengenai berbagai fenomena yang tidak akan berubah.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved