Opini

Cegah Osteoporosis di Usia Tua

DEWASA itu relatif, tua itu pasti. Begitulah kalimat yang sering kita dengar. Tua merupakan kondisi yang tidak bisa dihindari dan dicegah

Cegah Osteoporosis di Usia Tua
GETTY IMAGES
Ilustrasi 

Oleh Yelli Sustarina

DEWASA itu relatif, tua itu pasti. Begitulah kalimat yang sering kita dengar. Tua merupakan kondisi yang tidak bisa dihindari dan dicegah, karena proses menua berlangsung setiap saat seiring bertambahnya usia. Semakin tua usia seseorang, maka berbagai penyakit pun rentan datang yang menyebabkan terhambatnya untuk melakukan aktivitas keseharian.

Selain penyakit darah tinggi (hipertensi), radang sendi (artritis), darah manis (diabetes mellitus), dan stroke yang menyebabkan kematian utama pada usia tua. Osteoporosis juga penyumbang utama dalam mengurangi produktivitas hidup seseorang. Hal ini dikarenakan osteoporosis dapat membuat tulang menjadi keropos dan rentan retak. Sehingga akan berisiko jatuh, karena tulang tidak mampu lagi menompang berat badan.

Oleh karena itu, United Kingdom’s National Osteoporosis Society pada 1996 memperingati Hari Osteoporosis Sedunia untuk yang pertama kalinya. Kemudian dilanjutkan oleh International Osteoporosis Foundation yang diperingati setiap 20 Oktober. Mereka mengajak pasien penderita osteoporosis dari seluruh dunia untuk kampanye di lebih 90 negara. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran pada semua orang di seluruh dunia terhadap pencegahan dan pengobatan penyakit osteoporosis.

Cintai tulangmu
Sejak 2016 sampai sekarang, tema besar yang diangkat masih sama, yaitu Love Your Bone (Cintai Tulangmu). Posisi tulang yang terbalut oleh otot dan dilapisi kulit membuat kita jarang memperhatikannya. Sehingga jarang sekali seseorang memeriksakan kondisi tulangnya, kecuali mulai muncul keluhan nyeri atau patah tulang. Adanya peringatan Hari Osteoporosis Sedunia ini mengajak kita untuk mencintai tulang dengan memberikan perhatian lebih kepadanya.

Tentu, susah untuk mengetahui tingkat kepadatan tulang yang ada di dalam tubuh. Kita tidak bisa memprediksi atau mengira-ngira kepadatan tulang, karena kepadatan tulang tidak tergantung oleh berat badan seseorang. Kita perlu mengunjungi dokter untuk melakukan tes yang dapat menunjukkan kepadatan tulang, sehingga dapat mendeteksi risiko osteoporosis lebih dini.

Salah satunya yaitu dengan tes DEXA (dual energy x-ray absorptiometry) yang dapat memperkirakan risiko keretakan dan patah tulang dalam jangka waktu 10 tahun ke depan. Pemeriksaan ini tidak membutuhkan waktu lama dan tidak menyebabkan rasa sakit, karena pasien hanya disinar munggunakan mesin pemindai khusus.

Pemeriksaan DEXA sangat dianjurkan bagi mereka yang berusia lebih dari 65 tahun untuk mencegah terjadinya patah tulang. Namun, ada beberapa tanda yang dapat menjadi peringatan supaya dilakukannya tes kepadatan tulang, yaitu: Pertama, rontgen tulang belakang yang menunjukkan adanya patah tulang atau keropos; Kedua, nyeri pada bagian punggung karena kemungkinan patah tulang pada tulang belakang; Ketiga, kehilangan tinggi badan 1cm atau lebih dalam satu tahun, dan; Keempat, total penurunan tinggi badan lebih dari 3cm dari tinggi badan asli.

Selain dengan melakukan tes kepadatan tulang, kita juga bisa mengetahui kondisi kesehatan tulang dengan memperhatikan bagian tubuh berikut: Pertama, kuku yang mudah patah bisa menunjukkan bahwa tubuh kekurangan kalsium dalam tulang karena kuku dan tulang tersusun dari mineral yang sama; Kedua, gigi lepas karena menurunnya kepadatan tulang rahang; Ketiga, genggaman tangan mulai melemah, dan; Keempat, sering merasakan kram atau nyeri otot dan tulang. Bila gejala-gejala seperti ini sudah mulai dirasakan, waspadalah karena kemungkinan besar Anda berisiko mengalami osteoporosis.

Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa tua itu pasti, kerena setiap individu mengalami proses menua. Secara perlahan setiap individu akan kehilangan kemampuan jaringan tubuh untuk memperbaiki diri, mempertahankan struktur, dan fungsi tubuhnya di usia tua. Termasuk juga kehilangan kepadatan tulang yang merupakan bagian utama penopang tubuh.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved