Salam

Posisi Pesantren Memang Harus Kuat dan Konkrit

Rapat Paripurna DPR-RI, Selasa (16/10), menyetujui Rancangan Undang-undang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan sebagai RUU

Posisi Pesantren Memang Harus Kuat dan Konkrit
Asrama santri sebagai pengganti rangkang/pondok yang terbakar di Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Gampong Blang Poroh, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan sudah selesai dibangun dan siap digunakan. Foto direkam Kamis (3/2). IST 

Rapat Paripurna DPR-RI, Selasa (16/10), menyetujui Rancangan Undang-undang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan sebagai RUU usul inisiatif DPR untuk nantinya dibahas menjadi Undang-undang (UU). Ketika nanti RUU ini menjadi UU, maka pendidikan pesantren dan keagamaan memiliki dasar hukum kuat dalam pelaksanaannya, sehingga perhatian negara khususnya dalam aspek anggaran akan semakin besar.

“Anggaran yang besar itu untuk kepentingan mutu, pembangunan sarana prasarana yang layak, dan jaminan kualitas kurikulum. Begitu juga dalam menjaga tradisi pesantren yang dibimbing kiai atau ustaz dan tentunya jaminan kesejahteraan terhadap ustaz atau guru,” kata anggota DPR RI dapil Aceh, Anwar Idris.

Langkah selanjutnya adalah berharap pemerintah dapat segera merespon RUU usul inisiatif ini hingga bisa sama-sama dibahas agar akhirnya bisa disahkan menjadi UU. “Sebagai pengusul awal sejak 2013, Fraksi PPP sudah meminta masukan dari para pimpinan pondok pesantren, dayah, lembaga diniyah, para pakar, dan ulama untuk bahan penyusunan naskah akademik. Tentu draf RUU ini masih banyak kekurangan, sehingga perlu penyempurnaan,” kata Anwar.

Kita sependapat dengan pengusul RUU itu, sebab memang sudah sepatutnya negara memberi perhatian lebih kepada pesantren mengingat lembaga pendidikan ini sudah berdiri sebelum kemerdekaan. Bahkan, pesantren/dayah/madrasah diniyah merupakan bagian penting dari bangsa ini dalam memperjuangkan kemerdekaan. Hal ini dibuktikan dengan fakta sejarah bagaimana ulama dan santri berjuang melawan dan mengusir penjajah, mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk karakter yang bermoral, sekaligus sebagai lembaga pengembangan ilmu dan pengetahuan Islam (tafaqquh fiddin).

Saat ini saja, lebih empat juta santri belajar di sekitar 29 ribu pondok pesantren atau dayah. Mereka dididik dan dilatih oleh sekitar 323 ribu ustaz/guru. Lalu, sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren jangan sekadar mampu bertahan menghadapi tantangan zaman, tetapi juga berkembang pesat.

Sesungguhnya, masyarakat merindukan sistem pendidikan berasrama memberikan yang menyajikan kurikulum kehidupan bagi peserta didik secara utuh dan menyeluruh. Mereka tidak hanya dididik untuk belajar menguasai ilmu (sains), tetapi juga belajar bersikap dan berkarakter positif sekaligus berlatih hidup bersama dan mengaktualisasikan diri.

Makanya, pengelolaan pendidikan Islam harus berbasis sistem dan standar mutu yang jelas dan terukur, mulai dari standar kompetensi lulusan, standar isi, proses, pengelolaan, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, hingga standar penilaian. Jika semua standar itu dipenuhi dan dijalankan dengan baik sekaligus ditopang anggaran memadai, mimpi hadirnya layanan dan produk pendidikan dayah berkualitas unggul itu akan segera menjadi kenyataan. Justru itulah, kita berharap UU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan akan berproses secara lancar. Aamiin!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved