Opini

Santri Membangun Negeri

KINI bangsa kita sudah 73 tahun merdeka (1945-2018). Jangka waktu yang sangat memungkinkan Negara

Santri Membangun Negeri
PROF Dr Farid Wajdi Ibrahim MA bersama Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Usamah SAg MM, Tgk H Anwar bin Tgk H Usman Kuta Krueng, dan Tgk Mustafa Husein Woyla dalam seminar Hari Santri Nasional di The Pade Hotel, Sabtu (20/10). 

(Refleksi Hari Santri 2018)

Oleh Helmi Abu Bakar El-Langkawi

KINI bangsa kita sudah 73 tahun merdeka (1945-2018). Jangka waktu yang sangat memungkinkan Negara ini untuk terus bangkit dan berbenah diri, walaupun realita dalam masyarakat banyak warga yang belum mendapatkan nikmat kemerdekaaan. Pemerintah pun tidak boleh menutup mata dan harus peka terhadap fenomena tersebut. Ketika kemerdekaan telah diraih, maka tugas kita saat ini mengisi kemerdekaan dengan tindakan dan nilai positif demi kemajuan dan kemakmuran negeri tercinta ini.

Lantas siapa di antara elemen masyarakat yang harus memberikan kontribusi dan peran-sertanya untuk mengisi kemerdekaan? Salah satunya adalah santri sebagai generasi penerus bangsa, bukan dalam pengertian elemen lain harus dikesampingkan, namun mereka merupakan sebagai insan produktif dan sebagai sosok the leader of tomorrow (sang pemimpin masa depan).

Seorang santri di bebankan untuk memiliki dedikasi yang tinggi dalam pengembaraan pengetahuan dan rasa ingin mengetahui yang lebih besar dan harus menjadi pelopor sense of curiosity (rasa keingintahuan yang tinggi) dalam lingkungan. Slogan sense of curiosity dalam pepatah Arab dikenal dengan ungkapan himmatul rizal tasqutu (semangat seorang santri bisa menaklukan sebuah pegunungan).

Dalam menumbuhkan sikap sense of curiosity akan melahirkan iqra’ (membaca) dengan ta’lim yang dikreasikan dengan motivasi. Membaca itu dikonotasikan sebagai ta’lim (belajar). Iqra’ itu pintu gerbang menuju ke samudera ilmu pengetahuan. Iqra’ pun tidak terbatas kepada yang tertulis (iqra’ bil qalam), namun segala perubahan dan fenomena alam yang terjadi juga harus mampu ditelaah dan dicerna yang dikenal dengan iqra’ kauniyah.

Hal ini dijelaskan secara gamblang dengan firman Allah Swt, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Dia telah menciptakanmanusia darisegumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. al-Alaq: 1-5).

Syekh al-Maraghi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah memerintahkan kepada manusia supaya dapat membaca tersebut harus diulang-ulang. Jika tanpa mengulang-ulang dan membiasakan dalam membaca tidak akan memberi kesan dan meresapnya ilmu dalam jiwa. Berulang-ulang perintah Allah Swt dalam pengertian sama dengan berulang-ulang membaca. Dengan demikian membaca itu merupakan satu bakat dari Rasulullah saw.

Dalam tafsir lainnya, seperti Tafsir Al-Azhar, disebutkan bahwa Rasulullah saw bukan orang yang pandai, beliau adalah ummi (tidak biswa menulis dan membaca). Namun Jibril mendesaknya untuk membaca sampai tiga kali dan pada akhirnya Rasulullah saw justru mampu menghafalnya di luar kepala.

Allah Swt sendiri telah menggambarkan sosok tipe santri sense of curiosity tersebut dengan firman-Nya, “Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang santri. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur. Dan yang lainnya berkata: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung. Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi).” (QS. Yusuf: 36).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved