Opini

Santri Menyuarakan Kebenaran

KEBENARAN akan semakin hilang jika semakin sedikit yang menyuarakannya. Ketika suara kebenaran

Santri Menyuarakan Kebenaran
Pawai Peringatan Hari Santri Meriah di Meulaboh 

Oleh Teuku Zulkhairi

KEBENARAN akan semakin hilang jika semakin sedikit yang menyuarakannya. Ketika suara kebenaran semakin sedikit, maka yang akan terjadi adalah merajalelanya kerusakan, ketimpangan dan kehancuran. Kalau kita perhatikan, jika ketimpangan-ketimpangan muncul dan merajelala, bisa dipastikan itu terjadi karena sedikitnya yang menolak dan menentang.

Maka Saidina Ali seperti dikutip Ustaz Abdul Somad berkata, “Aku tak pernah ragu tentang hak dan batil, karena dunia ini dari dulu isinya hak dan batil. Ada Qabil dan ada Habil. Ada Nabi Ibrahim dan ada Namrud. Ada Musa dan ada Fir’aun. Ada Nabi Isa dan ada Herodes. Ada Nabi Muhammad dan ada Abu Lahab. Aku tak mengkhawatirkan itu semua kata Saidina Ali ra. Yang Aku khawatirkan adalah diamnya orang yang benar, sehingga orang yang salah merasa benar.”

Mengatakan kebenaran memang butuh keberanian. Terkadang juga berisiko. Kita bisa menyimak catatan sejarah bagaimana nasib orang-orang yang konsisten berkata benar. Hari ini kita sering membaca dan mengupas pemikiran para ulama di masa silam. Kadangkala kita lupa, bahwa mereka adalah orang-orang yang konsisten menyuarakan kebenaran, meskipun mereka kemudian menderita.

Imam Abu Hanifah misalnya, beliau pernah dicambuk karena berseberangan dengan penguasa. Hal serupa juga dialami para ulama lainnya, seperti Imam Hambali (Ahmad bin Hambal) yang disiksa karena menolak mengakui Alquran sebagai makhluk. Hal serupa juga dialami para ulama besar lainnya seperti Imam Syafi’i, Tsufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas dan banyak ulama lainnya yang tercatat dalam tintas emas sejarah peradaban Islam.

Kisah-kisah mereka menegaskan bahwa kita mesti konsisten mengatakan kebenaran, karena kebenaran itu akan padam jika tidak ada yang memperjuangkan dan bersedia menahan resikonya. Maka pantaslah bila suatu ketika Rasulullah saw suatu ketika bersabda, “Katakan yang benar, meskipun pahit.” Dari hadis ini yang sering dilafal para santri di dayah, seolah-olah mewanti-wanti kita akan pentingnya kita terus berkata benar, apa pun resikonya.

Penyakit materialisme
Dalam dunia yang semakin materialis, kadangkala materialisme mengalahkan nalar. Penyakit materialisme memang dewasa ini kian menggurita menjadi musuh bagi peradaban. Maka kita kembali diingatkan oleh Allah Swt untuk “tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit”.

Allah Swt menawarkan kepada kita suatu perniagaan yang akan memberikan kesuksesan, dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaf: 10-12).

Jadi balasan dari perniagaan yang ditawarkan kepada kita oleh Allah Swt adalah syurga. Lalu adakah yang lebih penting selain syurga? Barangkali, inilah yang dipahami oleh para ulama dahulu sehingga mereka konsisten di atas jalan kebenaran dengan cara terus menyuarakan kebenaran apapun resikonya. Dan oleh sebab itulah nama mereka terus mewangi sepanjang zaman dan menjadi teladan baik bagi generasi muda Islam.

Suatu ketika saya mendengar dan mencatat sejumlah nasihat Tgk. H. Muhammad Yusuf A Wahab (Tu Sop), seorang ulama Aceh yang sangat saya kagumi dan pikiran beliau senantiasa saya catat. Saat itu beliau mengatakan, dunia global saat ni menderita penyakit phobia Islam di berbagai negara. Menurut beliau, hal ini terjadi karena lemahnya arus dakwah yang dilakukan oleh umat Islam. Jauh lebih lemah dari “dakwah” mereka yang phobia terhadap Islam.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved