Cold Storage Masih belum Difungsikan
Dua bangunan milik Pemko Banda Aceh, cold storage (ruang pendingin ikan) dan pasar ikan
* Bangunannya Mulai Rusak
BANDA ACEH - Dua bangunan milik Pemko Banda Aceh, cold storage (ruang pendingin ikan) dan pasar ikan yang berlokasi di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaradja Lampulo hingga kini belum juga difungsikan. Kini bangunan kedua fasilitas tersebut bahkan mulai mengalami kerusakan.
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, T Hendra Budiansyah, Selasa (23/10) meninjau bangunan milik Pemko Banda Aceh itu. Dia mengaku prihatin dengan kondisi gedung yang dibangun pascatsunami sekitar tahun 2012-2013 lalu. “Kalau terus dibiarkan dan tanpa dirawat, kerusakannya akan semakin parah,” katanya kepada Serambi, di PPS Kutaradja Lampulo.
Hendra menambahkan, gedung cold storage yang terletak di samping gedung pabrik tepung ikan milik Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, sudah pernah direhab. Padahal, gedung itu sendiri belum pernah difungsikan. Kini, bangunan tersebut kembali mengalami kerusakan. Kerusakan tidak saja terlihat dibanguan atap yang sengnya rusak akibat diterbangkan angin, beberapa pintu bagian belakang yang terbuat dari alumunium juga terlihat jebol.
“Di sekeliling gedung juga sudah ditumbuhi rumput dan ilalang setinggi lutut orang dewasa,” jelas T Hendra Budiansyah sambil menambahkan bahwa pengoperasional gedung cold storage itu terkendala air.
Karenanya Hendra meminta Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman untuk mengambil langkah strategis agar operasional gedung cold storage bisa segera dilakukan. Apalagi, kata Wakil Ketua DPRK itu nelayan di PPS Kutaradja Lampulo berharap ruang pendingin itu bisa segera berfungsi, sehingga hasil tangkapan nelayan bisa disimpan.
Selain cold storage, kata Hendra, masih ada fasilitas umum milik Pemko Banda Aceh yang belum juga difungsikan, yaitu pasar ikan moderen yang terletak di lintasan jalan ke Makam Syiah Kuala, padahal satu unit--dari dua unit--sudah selesai. Kini beberapa bagian gedung juga sudah mulai rusak, terutama toiletnya sudah sumbat, dan keramik bangku tempat penjualan ikan dan lantainya sudah terkelupas.
Sementara itu, Kepala Dinas Pasar Pemko Banda Aceh, T Iwan Kesuma mengatakan, pihaknya akan berembuk kembali dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh untuk mencari solusi pengoperasionalan pasar ikan moderen tersebut.
Untuk tahun 2018 ini, katanya, Pemko belum menganggarkan biaya untuk pengoperasian pasar ikan itu, karena masih ada beberapa fasilitas lainnya yang belum tersedia seperti air bersih dan jaringan listrik di gedung pertama. Sedangkan gedung kedua, bangku tempat penjualan daging ayam, dading sapi, kios jual bumbu-bumbuan dan sayurnya belum dibuat, karena kekurangan anggaran.
Selaian itu, lanjut Iwan, jumlah bangku tempat berjualan juga belum cukup. Untuk mengoperasionalkannya secara penuh, masih perlu beberapa kios-kios kecil lagi di sekitar pasar ikan baru PPS Kutaradja Lampulo itu.
“Jumlah pedagang ikan dan pasar sayur dan bumbu-bumbuan yang mau dipindahkan sebanyak 600 orang, sementara tempat yang tersedia hanya mampu menampung 60 persen. Untuk itu, sampai kini gedung itu belum difungsikan. Kita sedang berembuk kembali dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh hari Rabu (24/10) ini,” ujar Iwan.(her)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/wakil-ketua-dprk-banda-aceh-t-hendra-budiansyah_20181024_093943.jpg)