Opini

Menyongsong ‘Hari Oeang’

FILOSOFI nasihat endatu Aceh di atas sangat mendalam; tentang kesungguhan, keuletan, keyakinan

Menyongsong ‘Hari Oeang’
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati(KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA) 

(Komitmen Melanjutkan Reformasi Birokrasi)

Oleh Fajar Sidik

Meunyoe tatem bak useuha dak han kaya udep seunang, meuhan tatem bak useuha pane atra rhoet di manyang. (Hadih Madja)

FILOSOFI nasihat endatu Aceh di atas sangat mendalam; tentang kesungguhan, keuletan, keyakinan dan komitmen dalam menggapai kesuksesan hidup; Tentang cita-cita yang harus diraih dengan kekuatan niat, kekokohan tekad dan konsistensi yang tak putus. Istimroriyah, kontinuitas, nafas perjuangan nan panjang, tentu akan menghabiskan banyak energi, banyak sumber daya, namun tetap dijalani dengan satu tujuan, yakni kesuksesan hidup.

Darah itulah yang selama ini mengalir pada setiap jiwa punggawa Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI. Darah yang senantiasa disuntikkan oleh Menkeu Sri Mulyani Indrawati, di tengah berbagai badai yang menerpa dan menggerus semangat reformasi birokrasi yang digaungkannya. Mungkin saja beliau lelah, tapi proses yang penuh duri tersebut, dilaluinya dengan optimisme.

Tepat pada 30 Oktober 2018 mendatang, genap 72 tahun Kemenkeu mengabdi untuk negeri. Setahun sejak naskah proklamasi dibacakan, sejak uang Hindia Belanda dan Jepang digantikan dengan rupiah. Sejak itulah kiprah dan kontribusi Kemenkeu dimulai. Jika hari ini, masih ada oknum pegawai/pejabat di lingkup Kemenkeu yang tidak mampu menjaga integritasnya, maka yakinlah, hal itu tidak akan menghentikan laju gerbong reformasi birokrasi yang telah ditabuh.

Satu dekade yang lalu, tepatnya sejak diterbitkannya trigger peraturan perundang-undangan bidang keuangan negara, yakni UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, reformasi birokrasi pada Kementerian Keuangan mulai dijalankan.

Perubahan tersebut dimulai dengan penataan organisasi, perbaikan proses bisnis dan penataan sumber daya manusia (SDM). Penataan organisasi dilakukan dengan mempertajam tugas dan fungsi setiap unit, pengelompokkan tugas-tugas yang koheren dan mengeleminisai yang tumpang tindih, hingga modernisasi bidang perbendaharaan, perpajakan, bea cukai, kekayaan negara, dan fungsi-fungsi lainnya.

Terus dikembangkan
Proses bisnis tidak berhenti dikaji dan dikembangkan. Standar Operasional Prosedur (SOP) layanan yang telah disusun secara transparan, cepat dan terukur, terus dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi informatika (TI). Tujuannya tidak lain agar setiap proses pengelolaan keuangan negara yang dijalankan dapat terpantau dengan baik dan memberikan kejelasan waktu layanan pada setiap stakeholder. Jika pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) yang pada awalnya sukses dengan layanan SP2D 1 jam, kini terus berbenah dan siap meluncurkan sistem baru bernama Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI), yang mengintegrasikan secara online seluruh aplikasi dan sistem keuangan.

Penataan SDM dilakukan dengan peningkatan disiplin pegawai, pembangunan assessment center, penyusunan diklat berbasis kompetensi, pelaksanaan merit system hingga penerapan Pengarusutamaan Gender untuk setiap level jabatan. Aspek penataan SDM ini menjadi satu tantangan terberat yang dilakukan jajaran Kementerian Keuangan. Mengubah mindset dari minta dilayani menjadi sebagai birokrat pelayan, tentu membutuhkan komitmen bersama seluruh jajaran Kemenkeu. Dan, masa transisi yang berat ini telah dilalui dengan baik, meskipun tidak mulus.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved