Opini

Dosa Jariyah

DOSA merupakan perbuatan yang melanggar hukum Allah swt dan larangan agama

Dosa Jariyah
google/net

Oleh Adnan

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata, Lauh Mahfuzh.” (QS. Yasin: 12)

DOSA merupakan perbuatan yang melanggar hukum Allah swt dan larangan agama. Pelaku dosa akan dikenakan sanksi (‘uqubah) di dunia dan akhirat jika enggan bertaubat. Taubat menjadi medium penyucian diri (tazkiyatun nufus) dari dosa. Setiap manusia pasti memiliki dosa kecuali para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang-orang yang dipelihara (maksum) oleh Allah Swt dari segala dosa. Sebab, Nabi dan Rasul haruslah manusia pilihan agar menjadi teladan (uswah) bagi umat. Jika pun pernah melakukan kesalahan, sifatnya untuk memberikan iktibar keteladanan kepada umat. Maka berdosa bukanlah perkara aneh bagi manusia. Tapi yang aneh jika manusia berdosa enggan bertaubat.

Lebih lanjut, Imam Nawawi mengurai bahwa bertaubat merupakan kewajiban setiap orang dari segala dosa, baik dosa yang berhubungan dengan Allah Swt maupun sesama manusia (bihaqqin adami). Jika menilik Alquran banyak dijumpai ayat-ayat yang berhubungan dengan perintah bertaubat. Semisal, firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim: 8).

Bahkan, profetik berpesan bahwa Allah swt sangat senang (afraha) terhadap hamba-Nya yang mau bertaubat. Kesenangan itu digambarkan laksana seseorang yang kehilangan unta yang membawa bekal makanan selama berpergian jauh. Tapi, tiba-tiba unta itu kembali berada di sisinya tanpa kekurangan bekal sedikit pun (HR. Bukhari-Muslim). Maka kapan pun seseorang bertaubat akan diterima taubatnya. Pintu taubat akan ditutup tatkala nyawa sampai di kerongkongan dan matahari telah terbit dari barat. Sebab itu, siapapun harus bertaubat kepada Allah Swt, baik dari dosa-dosa yang dilakukan secara personal maupun kolektif. Bertaubat merupakan indikasi seseorang mulia di sisi Allah Swt.

Sebab itu, taubat mestinya menjadi bagian dari hidup manusia beriman. Hanya orang-orang sombong, congkak, angkuh, dan lupa diri yang enggan bertaubat dari dosa, baik dosa yang bersifat pribadi maupun sosial (QS. al-Baqarah: 34). Lebih-lebih bertaubat dari dosa-dosa yang bersifat jariyah. Jika kita mengenal istilah pahala jariyah. Yakni pahala yang terus-menerus mengalir kepada seseorang meski telah meninggal dunia. Ia memperoleh pahala jariyah disebabkan selama hidup di dunia pernah melakukan amalan jariyah. Yakni amalan-amalan yang bersifat tahan lama dan dimanfaatkan berkesinambungan dan berkelanjutan oleh manusia yang masih hidup, semisal wakaf, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh.

Dosa berkelanjutan
Sebaliknya, dosa jariyah merupakan antonim dari pahala jariyah. Yakni dosa yang berkelanjutan dan terus-menerus mengalir kepada seseorang meski telah meninggal dunia. Dosa jariyah diperoleh disebabkan selama hidup pernah meninggalkan kebiasaan buruk, sehingga diikuti oleh orang-orang setelahnya. Sebagaimana firman Allah Swt, “Ucapan mereka menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka disesatkan. Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl: 25). Pelaku dosa jariyah akan memikul dosa-dosa orang-orang setelahnya.

Hal itu menunjukkan bahwa dosa jariyah diperoleh disebabkan seseorang menjadi inisiator atau pencetus kebiasaan buruk. Akibatnya, ia mendapatkan dosa yang berkelanjutan pula karena telah membiasakan sesuatu yang buruk dan maksiat. Sebagaimana pesan profetik, “Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim). Maka berhati-hatilah terhadap perbuatan merusak dan maksiat yang dapat diikuti oleh orang lain. Sebab, meski pelakunya telah tiada ia akan menanggung dosa dari kebiasaan yang ia tinggalkan di dunia.

Lebih lanjut, profetik berpesan, “Barangsiapa yang membuat suatu kebiasaan (tradisi, sunnah) yang baik dalam Islam, maka ia memperoleh pahala dari perbuatan yang ia kerjakan dan perbuatan orang yang menirunya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Dan, barang siapa yang membuat suatu kebiasaan buruk dalam Islam, pun ia akan memperoleh dosa dari perbuatan yang ia kerjakan dan perbuatan orang-orang yang menirunya tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa setiap kebiasaan buruk yang diinisiasi di dunia hingga diikuti oleh orang-orang setelahnya. Maka meski ia telah meninggal dunia akan mendapatkan dosa jariyah.

Bahkan, meski seseorang rajin ibadah dan taat melaksanakan perintah agama. Ia akan memperoleh dosa jariyah dari kebiasaan buruk yang pernah dilakukan selama hidup. Profetik menganggap mereka sebagai orang-orang bangkrut (muflis). Maka suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta benda.” Jawaban ini disanggah oleh baginda Nabi, bahwa orang bangkrut bukanlah orang yang tidak punya dirham dan harta, serta tidak memproleh keuntungan dari aktivitas bisnis.

Akan tetapi, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kezaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si fulan, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si fulan dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizaliminya, sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim).

Ini menunjukkan bahwa sekecil apa pun dosa tanpa ditebus dengan taubat kepada Allah Swt dan permintaan maaf kepada sesama. Maka selama itulah dosa-dosa terus melekat pada diri para pendosa. Apalagi jika dosa yang dikerjakan itu menjadi sebuah kebiasaan, tradisi, dan diikuti oleh orang-orang setelahnya. Pasti dosanya akan dipikul secara berkelanjutan hingga kiamat. Maka berhati-hatilah dalam menyebarkan sebuah kabar, berita, dan informasi yang belum jelas kebenarannya. Karena jika berita itu hoaks, lalu disukai (like) dan dibagikan (share) kepada sesama pengguna jejaring sosial, sehingga para pembaca meyakini kebenaran informasinya. Maka itu pula termasuk dosa jariyah yang akan dipikul, meski telah tiada. Mari!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved