Ekonomi Kreatif Aceh belum Maksimal

Pengembangan ekonomi kreatif di Aceh selama ini dinilai belum maksimal, padahal berbagai produk industri

Ekonomi Kreatif Aceh belum Maksimal
TAQWALLAH, Asisten II Setda Aceh

BANDA ACEH - Pengembangan ekonomi kreatif di Aceh selama ini dinilai belum maksimal, padahal berbagai produk industri makanan, kerajinan, seni, dan lainnya yang masuk kelompok ekonomi kreatif di Aceh sudah ada sejak Kerajaan Iskandar Muda. Misalnya mi aceh, ikan keumamah, keukarah, boi, timpan, kerajinan bordir, kupiah, sulam benang mas, kerawang gayo, dan kain sutra. Begitu juga hasil bumi berupa rempah-rempah yang sudah diperdagangan ke berbagai negara, seperti Arab dan Turki.

Asisten II Setda Aceh, Taqwallah, menyampaikan hal ini kepada Serambi seusai membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Transportasi, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Aceh 2018 di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, Rabu (24/10). Rakor ini dilaksanakan Biro Ekonomi Aceh

“Produk industri, kerajinan, makanan khas Aceh, dan hasil bumi yang masuk dalam ekonomi kreatif itu belum dikembangkan secara meluas dan maksimal pada zaman now ini oleh perajin dan pengusaha,” kata Taqwallah.

Adapun untuk menghidupkan ekonomi kreatif bagi perajin dan industri kecil, kata Taqwallah, perlu digebrak lagi serta memberi motivasi kepada para perajin, sehingga pengembangannya ke depan tak hanya di pasar lokal, namun juga ke luar negeri.

Sementara itu, kemarin Taqwallah yang mewakili Plt Gubernur Aceh, membuka kegiatan Aceh Emergency Exercise and Airport Emergency Excercise di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar.

Acara ini diikuti petugas PT Angkasa Pura II, staf Pemerintah Aceh, serta undangan dari intansi teknis dan terkait lainnya. “Mudah-mudahan dengan adanya pelatihan ini, masyarakat dan para pemakai jasa udara semakin terlayani dan merasa puas menikmati fasilitas di Bandara Internasional SIM,” ujar Taqwallah.

Pada kesempatan yang sama, Asisten II Setda Aceh, Taqwallah juga mengatakan rakor ini sebagai evaluasi masing-masing SKPK yang membidangi transportasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif terhadap apa saja yang sudah mereka lakukan, kendala, serta cara mengatasinya. Masalah dialami di masing-masing daerah, kata Taqwallah, ada yang sama dan berbeda.

“Misalnya pelayanan di hotel beberapa daerah juga masih kurang, sehingga menjadi keluhan tamu, seperti handuk kurang bersih, air mandi kurang lancar, kamar bau, dan AC bising serta bocor. Anehnya hal seperti ini dianggap biasa oleh pelayan hotel dan tamu diminta memaklumi kondisi yang terjadi. Pelayanan hotel yang demikian akan membuat ekonomi kreatif di hotel itu jadi mati karena tamu semakin lama semakin menurun,” kata Taqwallah.

Begitu juga untuk pelayanan transportasi, termasuk transportasi wisatawan, kata Taqwallah, konsumen harus diberi pelayanan maksimal, tak terkecuali di bandara, jika ada pesawat terlambat hingga tiga jam, maka perusahaan penerbangan harus memberi makanan kepada penumpang. “Pengembangan ekonomi kreatif itu jangan diartikan semata memproduksi produk atau barang baru, tetapi memberikan pelayanan yang bisa membuat pelanggan terhibur juga bagian dari ekonomi kreatif,” jelasnya. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved