Citizen Reporter

Sensasi Hotel di Tengah Hutan Sarawak

LAZIMNYA hotel menyediakan tempat tidur yang nyaman, dilengkapi dengan kuliner

Sensasi Hotel di Tengah Hutan Sarawak
DR. ALIAMIN, MSi.Ak

OLEH DR. ALIAMIN, MSi.Ak, Dosen Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala/Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Kuching, Malaysia

LAZIMNYA hotel menyediakan tempat tidur yang nyaman, dilengkapi dengan kuliner, kolam renang, jasa pijat, dan berbagai fasilitas lainnya yang disediakan untuk tamu yang menginap. Setelah berkunjung ke suatu tempat tujuan, hotellah yang menjadi kenikmatan akhir untuk menghilangkan penat seharian akibat lelah berkeliling ke sana kemari. Jasa yang diberikan oleh hotel kepada tamu tentunya harus dibayar lebih, tergantung fasilitas yang disediakan.

Fasilitas itu biasanya digambarkan dengan simbol “bintang”, bintang satu, dua, sampai dengan bintang lima. Namun uniknya, hotel yang hendak saya reportasekan ini berada di luar mainstrem hotel pada umumnya dan tidak berbintang. Hotel ini berada di tengah hutan, Kuching, Malaysia.

Saya sampai di sini dan menginap berawal dari sebuah rapat kerja di Pontianak, Indonesia. Sebagai salah satu peserta mewakili Pengelola Pascasarjana Akuntansi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang tergabung dalam Asosiasi Program Studi S2 Akuntansi Indonesia (APSSAI) saya ikut dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APSSAI di Pontianak. Raker ini dihadiri 32 orang dari 26 perguruan tinggi negeri (PTN) dan swasta (PTS) seluruh Indonesia. Setelah raker, program berikutnya adalah kerja sama dengan Universiti Malaysia Sarawak (Unimas) di negara jiran, Kuching, Sarawak, Malaysia.

Ke Entikong (perbatasan Indonesia-Malaysia), Kuching dapat ditempuh melalui darat dan udara. Hampir semua peserta menempuh jalan darat, menumpang bus Kuching, enam jam perjalanan. Pintu Imigrasi Malaysia dibuka pukul 5 waktu setempat, sedangkan bus peserta sudah di perbatasan pukul 2 dini hari. Jadinya, perjalanan Pontianak-Kuching kami tempuh dalam masa 12 jam.

Setelah mengikuti International Confrence “The Future of Disruptive Innovation to Strengthen Competitive Advantages in Economics, Management, and Accounting” kami melakukan pertemuan dengan Dekan Faculty Economic and Bussines, Unimas. Dipimpin oleh Prof Dr Zaki Baridwan dan Prof Dr Abdul Halim, dua tokoh akuntansi Indonesia yang presentasi di Unimas. Tujuan kerja sama ini adalah APSSAI memberi peluang kepada mahasiswa Pascasarjana Unimas untuk melanjutkan kuliah magang atau doktoral akuntansi pada pascasarjana di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua yang tergabung dalam APSSAI.

Untuk jenjang magister dan doktor bidang studi akuntansi, Unimas memang masih kurang sehingga PTN dan PTS APSSAI siap bekerja sama demi peningkatan kualitas mahasiswa-mahasiswa Unimas.

Seperti biasa dalam kegiatan akademik, Haryono Biyanto dan Nella Yantiana, Pengelola Pascasarjana Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak, mengagendakan tur wisata Kuching. Salah satu destinasi wisata yang dikunjungi adalah Bako National Park (Taman Nasional Bako). Bako adalah desa nelayan sebagai pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Bako. Dengan tarif RM 200, pulang-pergi, perjalanan ke Taman Nasional Bako dilakukan dengan speedboat dalam waktu 30 menit melalui Sungai Sarawak sampai ke Laut Cina Selatan. Di sepanjang Sungai Sarawak, tamu diingatkan bahwa banyak buaya yang berkeliaran maka berhati-hatilah di dalam perjalanan.

Tiba di pantai taman, pengemudi speedboad menjelaskan tentang ribuan batu sedimen yang tersembul di pinggir pantai. Batuan granit tersebut bentuknya beraneka. Terlihat indah hasil lukisan alam melalui empasan ombak. Di antaranya ada batu yang mirip burung garuda sekaligus seperti ular kobra dalam posisi siap menerkam. Di sisi lain terlihat pula batu senyum (smile stone) seperti menyunggingkan senyum kepada setiap tamu yang berkunjung.

Speedboat yang kami tumpangi bersandar di Taman Nasional Bako setelah keliling mengitari bebatuan lukisan alam dalam berbagai bentuk sekitar 25 menit. Kami kemudian disambut oleh kera macaque, orang Kuching menyebutnya“Bandit Bako”. Di sini juga terdapat kera bekatan (Nasalis larvatus), kera Kalimantan yang hanya ada di Pulau Kalimantan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved