Opini

Simbiosis Manusia dan Alam

AYAT di atas mengingatkan kita untuk selalu menjaga kelestarian alam semesta beserta isinya dan mengambil hikmah

Simbiosis Manusia dan Alam
Salah satu sudut lokasi banjir bandang Desa Kayu Mbelin, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Agara yang dipenuhi tumpukan sampah dan material banjir bandang, Minggu (16/4). SERAMBI/ASNAWI 

Oleh Abd. Halim Mubary

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum: 41)

AYAT di atas mengingatkan kita untuk selalu menjaga kelestarian alam semesta beserta isinya dan mengambil hikmah yang ada dibaliknya. Fenomena alam berupa gempa, tsunami, likuifaksi, banjir bandang, dan cuaca ekstrem yang kita alami selama ini, bisa jadi merupakan buah dari perilaku kita atau teguran dari Allah atas kelalaian kita dalam merawat alam. Kita terkadang lalai dalam menjaga sebuah amanah.

Allah menciptakan alam ini untuk diberdayagunakan oleh manusia sebagai khalifah di muka bumi, karena hanya manusia yang mampu mengemban amanah tersebut, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab: 72).

Menerima sebuah tanggung jawab besar untuk menjadi pemimpin di muka bumi, tentu pekerjaan teramat berat. Karena manusia selain diberi akal, juga diberikan nafsu oleh Allah. Antara akal dan nafsu seringkali tidak seiring sejalan. Atau dengan kata lain mereka saling bertentangan satu sama lainnya. Jika akal ingin berbuat baik, maka nafsu akan mencegatnya. Demikian juga sebaliknya. Maka Allah akan membalas semua perbuatan mereka selama di dunia. Sebab dari situlah bumi, langit, dan gunung enggan menerima tanggung jawab untuk menjadi khalifah di atas permukaan bumi. Dan jika mereka menyia-nyiakannya, maka Allah juga akan menyiksa mereka (bumi, langit, dan gunung).

Jika manusia hidup di dunia ini hanya untuk memenuhi hawa nafsunya saja, jelas mereka termasuk bagian orang-orang yang mendustakan Allah Swt. Allah juga mengibaratkan manusia akan diuji di dunia. Lulus atau tidak dalam menjalankan ujian tersebut akan dijawab oleh Allah Swt saat hari kiamat nantinya. Di sana, akan ditunjukkan bahwa sebelum hidup di dunia, manusia sudah melakukan perjanjian dengan Allah berupa mengakui keesaan-Nya dan menjalankan amanah yang sudah ditetapkan.

Namun fitrahnya, manusia terkadang sering lupa akan janjinya setelah terlahir ke dunia. Kelak di hari kiamat nanti, manusia akan kembali diingatkan tentang janji tersebut sebagaimana firman-Nya, “Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajak kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan Dia (Allah) telah mengambil janjian (setia)mu, jika kamu adalah orang-orang mukmin.” (QS. al-Hadid: 8).

Manusia terkadang juga suka menganggap alam ini sebagai bahan eksploitasi. Berapa banyak hutan yang dibabat (illegal logging) oleh manusia yang lebih mengedepankan nafsunya, atau penambangan liar yang banyak terjadi di mana-mana, tanpa memperdulikan dampak lingkungan (amdal). Entah sudah seberapa banyak hutan yang digunduli, atau laut dan sungai yang tercemar bahan beracun dari limbah pabrik. Sehingga membuat biota laut rusak dan mati. Saban tahun kita merasakan banjir yang menerjang perkampungan, karena tak ada lagi resapan air, karena hutan digunduli oleh para cukong kayu.

Begitu juga saban kali musim kemarau tiba, tanah-tanah kering kerontang --kebakaran hutan baik di sengaja atau tidak-- menimbulkan kabut asap yang membahayakan kesehatan manusia dan alam lingkungan. Suhu bumi saban tahun naik drastis akibat mencairnya es di kutub utara dan selatan akibat dari pemanasan global (efek rumah kaca). Dampaknya, permukaan air laut naik setiap tahunnya, sehingga garis pantai akan tergerus perlahan-lahan. Bahkan bukan mustahil, dalam kurun waktu tertentu, dampaknya akan bisa menenggelamkan pulau-pulau kecil/sedang di belahan dunia.

Menjaga alam
Sebenarnya Allah menciptakan alam semesta ini begitu sempurna. Air, udara dan tanah beserta makhluk hidup yang ada di dalamnya, khusus diperuntukkan bagi manusia sebagai simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Artinya, manusia harus bersahabat dengan alam--bukan hanya untuk bisa mengeksploitasinya demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Allah telah memperingatkan manusia agar tidak melakukan kerusakan bumi sesudah Allah menciptakannya (QS al-A’raf: 56).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved