Pelari Electric Jakarta Marathon Ada yang Meninggal, Dokter Bolehkan Joging, Tapi Melarang Lari

masyarakat sebaiknya tidak menjadikan lari sebagai olahraga utama. Masalah sendi lutut hingga jantung bisa muncul karenanya.

Pelari Electric Jakarta Marathon Ada yang Meninggal, Dokter Bolehkan Joging, Tapi Melarang Lari
Reader'sdigest
maraton 

SERAMBINEWS.COM - Kabar duka datang dari ajang lari Jakarta Marathon'>Electric Jakarta Marathon pagi ini, Minggu (28/10/2018).

Salah seorang peserta untuk jarak tempuh 5 kilometer berinisial AH (55) meninggal dunia di tengah perlintasan.

"Iya, tadi di kilometer 3, enggak tahu (kenapa) tiba-tiba jatuh. Bapak ikut yang 5K," ujar Cut, istri korban, di RS TNI Angkatan Laut Mintohardjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Minggu pagi, seperti dilansir dari kompas.com.

Kabar duka ini kembali membuat pernyataan dr Samuel Oetoro pada November 2017 mengemuka yang diulas dalam artikel berjudul "Joging Boleh, Lari Jangan, Apa Sebenarnya Maksud Para Dokter?".

Dokter nutrisi terkemuka itu mengungkapkan, lebih baik jalan cepat dan joging daripada lari.

Ia mengungkapkan, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan lari sebagai olahraga utama. Masalah sendi lutut hingga jantung bisa muncul karenanya.

Lari dengan intensitas tinggi seperti menempuh jarak 10 km dalam 1 jam—lebih tidak dianjurkan lagi.

Baca: Dikabarkan Akan Nikahi Maia Estianty, Ini 9 Potret Masa Muda Irwan Mussry yang Tajir Melintir

Dikonfirmasi Kompas.com pada Senin (13/11/2017), Samuel tetap mengungkapkan hal yang sama.

"Lari intensitas tinggi itu larinya cepat, kalau joging, kan, lari kecil. Itu masih oke, tapi yang terbaik adalah jalan cepat," ujar dr Samuel melalui sambungan telepon, Senin (13/11/2017).

Itu tidak hanya berlaku bagi orang dengan penyakit tertentu, seperti diabetes dan jantung, tetapi bagi semua orang.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved