Aceh Juara Umum Lomba Busana Pengantin Daur Ulang

Pemerintah Aceh yang diwakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh kembali mengukir prestasi

Aceh Juara Umum Lomba Busana Pengantin Daur Ulang
KABID Sejarah dan Nilai Budaya Disbudpar Aceh, Dra Irmayani Ibrahim, mewakili Pemerintah Aceh, menerima piala bergilir yang diserahkan Staf Ahli Kemendagri di TMII Jakarta, Minggu (28/10) atas prestasi juara umum nasional yang diraih Aceh dalam lomba busana pengantin dari bahan daur ulang. 

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh yang diwakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh kembali mengukir prestasi di bidang desain busana pengantin dari bahan daur ulang yang dilaksanakan oleh Anjungan Taman Mini Indonesia Indonedia (TMII) Jakarta.

Kegiatan yang mengusung tema Pergelaran Busana Pengantin Daur Ulang itu dilaksanakan Minggu (28/10/2018).

Dalam event itu, Aceh memborong hampir seluruh kategori yang diperlombakan. “Dari delapan kategori yang diperlomabakan, Aceh memenangi enam di antaranya, sehingga Aceh berhak menjadi juara umum,” lapor Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya DIsbudpar Aceh, Dra Irmayani Ibrahin, kepada Serambi melalui telepon tadi malam.

Menurutnya, cabang-cabang lomba yang dimenangi Aceh adalah desainer terbaik, peraga wanita terbaik, peraga pria terbaik, penyaji terbaik se-Sumatra, dan perancang unggulan terbaik. Atas akumulasi semua prestasi itu Aceh akhirnya dinobatkan sebagai juara umum lomba tersebut untuk tahun 2018.

Piala bergilir yang semula dipegang oleh Provinsi Kalimanatan Selatan, setelah enam tahun menunggu kini kembali ke Aceh.

Tema busana pengantin yang diusung Aceh dalam lomba ini adalah “Kejayaan Samdra Pasai” yang dirancang oleh desainer Aceh berbakat, Cut Puteri Kausaria. Karyanya berhasil membuat decak kagum dewan juri yang di antaranya terdiri atas Samuel Watimena dan Nungky Kusumastuti.

Menurut Irmayani, rancangan yang menang itu menggunakan tutup botol dan sedotan plastik, tapi terlihat glamor saat ditampilkan di Sasono Langen Budoyo TMII.

“Yang membuat rancangan itu menarik adalah grafir tutup botol yang disetting menyerupai mata uang Aceh lengkap dengan nama sultan-sultan Aceh (mirip cap sikurueng),” ujarnya.

Piala untuk pnyaji terbaik se-Suamtera diterima oleh Kepala Anjungan Aceh di TMII, Hj Ir Cut Putri Aliyanur, sedangkan piala bergilir diterima Kabid Sejarah dan Nilai Budaya Disbudpar Aceh, Dra Irmayani Ibrahin, mewakili Pemerintah Aceh. Piala bergilir tersebut diserhakan oleh salah seorang Staf Ahli Kemendagri. (dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved