Salam

Berbenahlah BPKS, Jangan Alergi Kritik

Sorotan tajam dewan pengawas (Dewas) terhadap kinerja Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang

Berbenahlah BPKS, Jangan Alergi Kritik
KETUA Tim Percepatan Wisata Bahari Indonesia, Prof Dr Indroyono Soesilo, bersama Staf Ahli Gubernur Aceh, Wakil Wali Kota Sabang, Suradji Junus, dan Kepala BPKS, Sayid Fadhil, serta perwakilan Yachter menabuh rapai sebagai tanda dibukanya Sabang Marine Festival 2018 

Sorotan tajam dewan pengawas (Dewas) terhadap kinerja Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) ternyata berbuntut panjang. Bukan saja direspons dengan penuh semangat oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah selaku Ketua Dewan Kawasan Sabang (DKS), tapi juga direspons sebagai “bola lambung” oleh pihak LSM.

Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian bahkan memanfaatkan bola lambung itu untuk melancarkan smes tajam ke kubu BPKS. Ia minta Plt Gubernur untuk memecat Dr Sayid Fadhil dari Kepala BPKS karena dinilai tidak mampu memimpin BPKS setelah mencuatnya berbagai masalah internal di badan tersebut.

Sebagaimana diwartakan Serambi Indonesia, Minggu (28/10) kemarin, Alfian memandang penting Plt Gubernur Aceh segera bertindak agar berbagai persoalan di BPKS tidak berlarut-larut. Menurutnya, jangan sampai BPKS menjadi tempat mencari keuntungan bagi pihak tertentu yang tak memiliki visi, misi, dan program untuk memajukan BPKS dan Sabang.

Apa yang disampaikan Koordinator MaTA tersebut tidak lantas menjadi masukan utama bagi Plt Gubernur Aceh untuk segera bertindak, katakanlah, misalnya, mencopot Sayid Fadhil dari jabatannya. Bagaimanapun, seorang Ketua Dewan Kawasan Sabang tentulah lebih mendengarkan hasil temuan dan rekomendasi Dewas dibanding tuntutan LSM dalam menentukan sikap akhirnya terhadap jabatan Sayid Fadhil.

Akan tetapi, kritik dan rekomendasi pihak MaTA tersebut tak pantas pula diabaikan begitu saja oleh Sayid Fadhil. Tak boleh dianggap angin lalu. Ia harus disikapi sebagai kritik konstruktif yang justru bermanfaat bagi Sayid Fadhil dan jajarannya untuk segera membenahi persoalan-persoalan internal yang siapa tahu timbul akibat mismanajemen atau performa kepemimpinan yang tidak prima alias terkesan ‘one man show’, seperti diisyaratkan Dewas BPKS.

Intinya, jadikanlah teguran Dewan Pengawas BPKS dan kritik Koordinator MaTA itu sebagai momentum untuk berbenah dan jangan alergi terhadap kritik. Apalagi jika sampai berasumsi bahwa semua masalah akan selesai dan citra lembaga mendadak jadi baik hanya dengan menggelar sebuah konferensi pers.

Memberi keterangan kepada insan pers memang penting sebagai bentuk klarifikasi kepada publik melalui pena jurnalis. Tapi ketahuilah bahwa hal itu tak akan menyelesaikan masalah. Itu hanyalah sebatas pencitraan atau cara berkelit dari situasi sulit.

Langkah ‘gentleman’ yang harus ditunjukkan Kepala BPKS adalah berterima kasih kepada dewan pengawas dan kalangan LSM yang sudah memberi masukan. Kritik harus dianggap sama pentingnya dengan saran. Dan seorang Sayid Fadhil yang punya pengalaman kerja di sekitar 23 tempat harus merasa terhormat ditegur, karena itu berarti ia diperhatikan oleh Dewas, DKS, dan MaTA yang mewakili suara masyarakat.

Mulai hari ini kurangi perjalanan ke luar Aceh agar tak lagi dituding boros tanpa hasil. Lalu hentikan berbuat yang aneh-aneh. Misalnya, seperti temuan terbaru Dewas saat sidak pekan lalu bahwa pada proyek di Balohan lima kali dalam sebulan pejabat pembuat komitmen (PPK)-nya diganti, kecuali kalau niatnya memang ingin masuk rekor MURI.

Mumpung hari kerja tahun ini masih ada 47 hari lagi, optimalkanlah kinerja BPKS untuk menggenjot realisasi program dan anggaran yang masih di bawah 40 persen. Terakhir, berjiwa besarlah terhadap kritik dan segera perbaiki segala kesalahan. Atau tunggu saja saat pencopotan tiba.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved