Penjual Jajanan Bisa Dipidana

Dinas Kesehatan (Dinkes) Lhokseumawe akan terus memantau dan membina 13 pedagang di Pasar Inpres Kecamatan Banda Sakti

Penjual Jajanan Bisa Dipidana
PETUGAS memeriksa boraks dan formalin di sejumlah pedagang mi di Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang. SERAMBI/M NASIR 

* Jika Gunakan Boraks Sebagai Pengawet Makanan

LHOKSUKON - Dinas Kesehatan (Dinkes) Lhokseumawe akan terus memantau dan membina 13 pedagang di Pasar Inpres Kecamatan Banda Sakti dan Pasar Batuphat, Lhokseumawe yang jajanannya mengandung boraks. Bila setelah pembinaan masih ditemukan boraks pada jajanan mereka, maka Dinkes akan menempuh proses hukum (pidana).

Diberitakan sebelumnya, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh menemukan empat jenis jajanan milik 13 pedagang di Pasar Inpres dan Pasar Batuphat, Lhokseumawe positif mengandung boraks. Masing-masing adalah, kerupuk tempe milik tujuh pedagang, mi kuning milik empat pedagang, serta kerupuk jengek, dan kerupuk ketumbar. Terkait penemuan ini, BBPOM Banda Aceh meminta Pemko Lhokseumawe melalu dinas terkait untuk membina pedagang tersebut agar tidak menggunakan lagi bahan berbahaya bagi kesehatan.

Menyikapi permintaan BBPOM tersebut, Dinkes Lhokseumawe menyanggupi untuk melakukan pembinaan terhadap ke-13 pedagang jajanan itu. “Kita akan melakukan pemantauan secara berskala ke depannya terhadap pedagang tersebut,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Lhokseumawe, Said Alam Zulfikar kepada Serambi, Minggu (29/10).

Dijelaskannya, pemantauan terhadap jajanan bukan hanya terhadap 13 pedagang tersebut, tapi juga terhadap penjual jajanan di sekolah, meskipun sejauh ini belum ada informasi ada jajanan di sekolah yang mengandung bahan berbahaya. “Hal ini kita lakukan untuk memastikan supaya semua jajanan di Lhokseumawe benar-benar sehat. Ini juga sesuai dengan arahan Wali Kota Lhokseumawe,” ujar Said.

Terhadap 13 pedagang tersebut, tegas Kadinkes, pihaknya akan melakukan pengawasan secara inten, dan bakal mengadakan pemeriksaan terhadap empat jajanan tersebut secara dadakan, guna memastikan apakah mereka masih menggunakan boraks atau tidak. “Ke-13 pedagang itu sudah pernah kita datangi untuk kita lakukan pembinaan. Ke depan, kita akan terus kita datangi lagi,” tukasnya.

Ditekankan dia, bila ke depannya petugas masih menemukan boraks pada jajanan ke-13 pedagang tersebut, maka Dinkes Lhokseumawe tak akan segan-segan mengambil langkah hukum. “Kalau sudah kita bina masih diulangi, tentu proses penyelesaian akan dilakukan secara hukum. Tapi, kami berharap itu tidak terjadi,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala BBPOM Banda Aceh, Drs Zulkifli Apt kepada Serambi, kemarin, menerangkan, para pedagang dapat menggunakan air abu atau soda ash pada jajanannya sebagai pengganti boraks atau antibasi. Memang, ungkapnya, jajangan yang menggunakan boraks bisa tahan lama, dibandingkan memakai air abu. “Contohnya, mi yang menggunakan antibasi (boraks) bisa tahan sampai tiga hari, sedangkan mi yang memakai air abu hanya bisa bertahan satu hari. Namun, penggunaan antibasi bisa menyebabkan gangguan kesehatan, berbeda dengan air abu yang lebih aman,” ulasnya.

Oleh sebab itu, dia mengimbau, agar penjual jajanan mulai beralih menggunakan air abu dalam mengawetkan makanannya. “Pedagang silakan berjualan tapi tidak menggunakan antibasi. Boleh gunakan air abu atau soda ash atau istilah kimianya natrium karbonat sebagai pengawet, jangan boraks. Tapi, air abu dengan merek cap gajah dari Medan, saya tidak jamin itu aman,” tukas Kepala BBPOM Aceh.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved