Opini

Sumpah Pemuda dan Generasi Milenial

DALAM sejarah bangsa ini, pemuda memainkan peran penting dan menjadi penggerak kebangkitan

Sumpah Pemuda dan Generasi Milenial
IST
Suasana peringatan 89 Tahun Sumpah Pemuda di Takengon, Aceh Tengah 

Oleh Yusniar

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa.” (Pramoedya Ananta Toer)

DALAM sejarah bangsa ini, pemuda memainkan peran penting dan menjadi penggerak kebangkitan. Contoh nyata bagi bangsa Indonesia adalah peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Peristiwa lain yang menunjukkan betapa besar kekuatan pemuda adalah peristiwa Rengasdengklok, 16 Agustus 1945. Para Pemuda saat itu yang dipimpin Soekarni, Wikana, serta Chairul Saleh menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dengan tujuan agar mempercepat proklamasi Indonesia. Upaya ini akhirnya berhasil, esok harinya, 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Waktu pun berlalu, tetapi kekuatan itu masih sama tatkala kita ingat kembali peristiwa pada 1998. Mahasiswa menuntut dihapuskannya KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Peristiwa 1998 ini juga diiringi dengan berbagai tindakan yang mengakibatkan terjadinya Tragedi Cimanggis, Tragedi Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, serta Tragedi Lampung. Paling fenomenal adalah ketika mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR. Pada akhirnya Presiden Soeharto saat itu melepaskan jabatannya sekaligus menandai berakhirnya Orde Baru menuju Orde Reformasi.

Serangkaian aksi dan gerakan pemuda atau mahasiswa pada masa lalu tentunya didasari rasa cinta terhadap bangsa. Rasa patriotisme yang menggelora itu dibarengi pula oleh persatuan, kecerdasan intelektual, ketajaman berpikir, dan semangat pergerakan. Namun Kini, tahun tahun berlalu, kondisi bangsa telah berubah, 90 tahun pasca-Sumpah Pemuda, kondisi pemuda Indonesia pun berbeda, Menumbuhkan semangat patriotisme dalam diri generasi yang lahir dan tumbuh di lingkungan serba digital saat ini yang disebut generasi milenial memang menjadi tantangan tersendiri.

Sebagaimana kita ketahui, generasi milenial merupakan populasi yang diprediksi akan berkembang hingga 60% dari total populasi di Indonesia pada 2020, di mana 81 juta penduduk Indonesia yang berusia 17-37 tahun dari total penduduk yang lebih dari 255 juta jiwa. Istilah milenial ini dimaksudkan untuk menggambarkan sebuah generasi yang berbeda dari generasi sebelumnya, yaitu generasi yang dibesarkan dengan cara berbeda, dalam keadaan berbeda, dan memiliki tujuan, ambisi, serta motivasi yang berbeda pula.

Berbeda karakter
Beda zaman tentulah berbeda karakter yang terbentuk. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor pendidikan, gaya hidup, teknologi, lingkungan dan sebagainya. Jika dibandingkan mana yang lebih baik antara pemuda zaman dahulu dan pemuda zaman sekarang jelas kita harus membandingkan dengan faktor faktor tersebut di atas. Contohnya, pemuda prakemerdekaan telah menunjukkan jati diri mereka sebagai generasi yang mampu melihat persatuan dan kesatuan bangsa sebagai modal utama untuk mencapai kemerdekaan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa untuk mencapai kemerdekaan, persatuan, dan kesatuan menjadi tujuan utama perjuangan kala itu. Era prakemerdekaan, bangsa Indonesia terhimpit dan tertekan oleh situasi penjajahan. Masa penjajahan menjadi masa suram dan kelam bagi bangsa Indonesia. Seluruh upaya dan perjuangan selalu tertuju kepada kemerdekaan. Cita-cita menuju sebuah kemerdekaan menjadi cita-cita bersama, menjadi semangat bersama pergerakan pemuda dan elemen lainnya di masa pra kemerdekaan.

Era sekarang, pemuda justru telah berada pada era mempertahankan keutuhan bangsa, di mana memiliki tugas yang juga sama beratnya. Kita ketahui, pemuda saat ini dengan mudah tehubung ke seluruh dunia secara online. Mereka memiliki kesempatan luas untuk mendapatkan informasi. Mereka cenderung ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan instan karena terbiasa dengan kemudahan teknologi. Namun perlu kita ingat bahwa mereka adalah generasi yang kreatif. Hal ini dikarenakan kaum milenial tumbuh beriringan dengan hadirnya media sosial yang membuat mereka kecanduan untuk diperhatikan.

Mereka akan sangat menghargai dan termotivasi jika diberikan kesempatan untuk berbicara, berekspresi, dan diakomodasi ide-idenya oleh orang lain. Mereka haus akan ilmu pengetahuan, pengembangan diri dan menyukai berbagi pengalaman. Namun di sisi lain, generasi milenial pun tidak ragu untuk menuangkan kekesalannya terhadap sesuatu ke dalam media sosial. Sehingga muncul istilah “pemuda tempo doeloe berjuang dengan bambu runcing vs pemuda sekarang berjuang dengan sosial media”.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved