Opini

Pembusukan Kekuasaan Politik

SECARA umum penulis ingin menjelaskan bahwa setiap kekuasaan yang dibangun lewat persekongkolan politik

Pembusukan Kekuasaan Politik
google/net

(Political Decay)

Oleh Munawar A. Djalil

SECARA umum penulis ingin menjelaskan bahwa setiap kekuasaan yang dibangun lewat persekongkolan politik yang keji, konon selalu berkepentingan mengeksploitir sekecil apa pun elemen-elemen sosial yang mengandung muatan persitegangan satu dengan yang lain, di antara sesama masyarakat bangsa yang dikuasainya. Dalam rangka kepentingan ini, kekuasaan yang bersangkutan akan mendesain sedemikian rupa pengelompokan-pengelompokan sosial di dalam masyarakat menyerupai pembiakan koloni-koloni dalam satu jaringan komplotan (konspirasi).

Diwarnai intrik-intrik politik yang licik, keji dan tersistematis; setiap kelompok sosial akan didorong/dimotivasi untuk saling unjuk keberadaan dan saling berkelahi dengan mengibarkan “bendera” kelompoknya masing-masing di atas dasar semangat primordialisme, kelas sosial. Sentimen “korps” atau pride golongan-golongan tertentu. Tujuan utama rekayasa semacam ini adalah berorientasi mutlak demi melancarkan kekuasaan, di samping sebagai instrumentasi rezim bersangkutan, guna membebaskan diri dari monitor pelacakan moral pertanggungan jawab setiap tindak perbuatannya.

Satu ciri khas kekuasaan seperti tersebut di atas ialah kebiasaannya bertindak menyusun formasi perkomplotan, demi perkomplotan yang berbeda satu sama lain dalam setiap periode waktu tertentu. Artinya, perkomplotan awal yang dibangun ketika kekuasaan itu diberdirikan atau sebelumnya akan sangat berbeda dengan kekuasan itu dijalankan/berlangsung. Dan, merupakan hal yang lazim bilamana rezim itu selalu bertindak “memberangus” perkomplotannya yang baru dalam rangka menghilangkan “jejak” asal usul keberadaannya dan seterusnya.

Sebenarnya sangat mudah untuk memahami mengapa rezim kekuasaan semacam ini cenderung pula memaksakan tafsir, paham atau citra tertentu. Misalnya dengan menciptakan simbol-simbol mengenai kekuasaannya, termasuk dalam memosisikan kesejarahan eksistensi dirinya. Walaupun sebetulnya tafsir, paham atau citra tersebut sering terasa dangkal, tidak substansif, irasional atau ahistoris. Biasanya dunia pendidikan merupakan laboratorium paling banyak dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasinya.

Mekanisme pembusukan
Bagi kekuasaan (rezim) yang terlahir dari produk politik keji tersebut di atas, ada satu hal penting yang perlu di risaukan dan sering diwaspadai; karena dianggap potensial sebagai sumber kegelisahan atau bibit malapetaka terhadap pilar-pilar kelestarian kekuasaan. Yakni terbitnya pencerahan kaum muda yang tumbuh kemudian dan bangkit dengan kesadaran baru yang lebih kritis, tajam, jernih dan objektif dalam menilai kehidupan sosial masyarakat bangsanya.

Oleh karena itu, sangat wajar apabila rejim kekuasaan semacam ini sering pula berupaya maksimal untuk memastikan masuknya kaum muda terintegrasi (atau terkooptasi) dalam jaring perekayasaan dan sarana eksploitatifnya. Jika tidak, maka timbul kesulitan-kesulitan, misalnya, melahirkan gerakan kaum muda yang umumnya berintikan penggugatan dimensi moral dan etika terhadap kekuasaan itu sendiri. Dalam sejarah gerakan semacam ini bukan mustahil berlanjut lebih meluas, membongkar dan merobohkan sendi-sendi stabilitas kekuasaan tersebut.

Itu sebabnya kehidupan kaum muda di era kekuasaan semacam ini sejak dini telah distimulasi (dirangsang) ke arah pembiakan situasi-situasi seperti mengentalnya semangat primordialisme (suku, agama, ras, golongan dan lain-lain). Pemujaan simbol-simbol/gengsi sosial, orogansi titel-titel pendidikan/keprofesian dan sebagainya. Tujuannya adalah agar toleransi dan interaksi sosial di antara kaum muda ini, jangan sampai bereskalasi lintas kelompok/berskala nasional.

Hubungan antara generasi (tua-muda) diwujudkan dengan menciptakan pemahaman relasional yang sifatnya ambivalen (mendua). Di satu sisi, ditanamkan kondisi emosional agar kaum muda patuh dan menaruh penghargaan yang setingginya terhadap generasi terdahulu. Namun pada sisi lainnya substansi (hakikat) kesejarahan yang berintikan nilai dan makna esensial perjuangan generasi terdahulu cenderung dieleminir (dikorupsi), agar tidak terpahami secara utuh oleh kaum muda tersebut.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved