Opini

Pembangunan untuk Siapa?

ISTILAH pembangunan sudah sangat jamak didengar oleh masyarakat dalam berbagai kalangan

Pembangunan untuk Siapa?
IST
Lokasi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Lawe Sikap, Kecamatan Darul Hasanah, Aceh Tenggara. 

Oleh Taufiq Abdul Rahim

ISTILAH pembangunan sudah sangat jamak didengar oleh masyarakat dalam berbagai kalangan, dari kelas bawah sampai atas serta dilakukan sebagai usaha melakukan perubahan dalam kehidupan manusia. Hal ini dipahamami sebagai usaha, tindakan, upaya untuk melaksanakan serta memantapkan aktivitas kehidupan manusia menuju perubahan ke rahan yang lebih baik. Maka itu, di negara-negara berkembang atau dunia ketiga, ini merupakan big push (dorongan kuat) dalam kehidupan masyarakatnya dengan prioritas pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial.

Sejak istilah big push yang dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat ke-33, Harry S Truman (1884-1972) pada 1948, ia mengatakan tanggung jawab negara Barat terhadap dunia ketiga untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan yang berlaku. Truman mendesak negara Barat harus membantu modal dan teknologi, selanjutnya juga membentuk mesin-mesin ekonomi negara dunia ketiga yang terus didorong untuk memberikan transfer modal ekstensif, misalnya dengan memberikan pinjaman modal jangka panjang (20-30 tahun), diharapkan akan mampu mengatasi persoalan kemiskinan di negara-negara tersebut.

Di samping itu, akan semakin meningkatnya “trend” pendapatan dalam hubungannnya dengan pertumbuhan produksi dan ekonomi yang berubah, juga mendorong secara keseluruhan mampu meningkatkan pendapatan per kapita. Secara dilematis negara dunia ketiga akan berhadapan dengan peningkatan utang, ini juga berkaitan dengan keterikatan membayar bunga dan pokoknya ke negara pemberi utang (negara maju) lebih dari yang mereka terima dan kembali dalam bentuk kredit, investasi dan bantuan pembangunan.

Kritikan terhadap tindakan negara-negara tersebut yang melakukan pembangunan melalui pinjaman sebagaimana dikemukakan Thee Kian Wie (1968) bahwa strategi pembangunan di berbagai negara berkembang lebih banyak mengutumakan pertumbuhan ekonomi yang pesat ketimbang mencari pemecahan efektif mengenai masalah ketimpangan pendapatan dan kemiskinan absolut.

Demikian juga Qureshi (1975) menyatakan bahwa, strategi pembangunan yang ditempuh berbagai negara berkembang secara sadar atau tidak sadar bersifat diskriminatoris terhadap golongan penduduk miskin. Sebagai faktor penyebab hal tersebut, proses perencanaan pembangunan tidak dilakukan perkiraan lebih dahulu berkaitan dengan biaya atau kerugian yang diderita ataupun keuntungan yang diperoleh dari berbagai golongan penduduk sebagai akibat suatu program atau proyek pembangunan tertentu.

Semakin kompleks
Dalam kondisi kekinian atau kontemporer, setelah setengah abad fokus pembangunan secara global bicara ketidakadilan dan kemiskinan, ternyata permasalahan kemiskinan dan kesenjangan bukannya semakin berkurang, bahkan semakin kompleks serta kesenjangan antarsektor juga semakin melebar dalam kehidupan nyata. Akan tetapi, saat ini justru penyelesaiannya semakin rumit dan kompleks, yang hanya dimanfaatkan sebagai retorika politik.

Berbicara pembangunan dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas pada era 1980-an, saat ini juga telah bergeser. Analisis kebangkrutan negara kesejahteraan, sebagaimana dikemukakan oleh Keynesian yang diikuti oleh pasar bebas neo-liberalisme dalam kerangka globalisasi dunia, telah membuat permasalahan kemiskinan dan kesenjangan semakin parah.

Secara empirik berbagai hasil penelitian menyampaikan bahwa, kemiskinan absolut di banyak negara dan kesenjangan antarnegara, daerah dan sektor dalam negara semakin melebar. Melihat kondisi seperti ini, menimbulkan pertanyaan yang demikian gencar dalam kehidupan masyarakat; Siapakah yang mengambil manfaat terbesar dari berbagai proyek pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah?

Karena itu, dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta berlakunya perubahan kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya dan peradaban yang serba canggih saat ini, timbul beberapa diskursus serta pertanyaan mendasar, yaitu: Pertama, siapakah yang mendapatkan keuntungan terbesar dari pembangunan dan apakah keuntungan terbesar tersebut menyentuh rasa keadilan? Kedua, bagaimana dan mengapa proyek pembangunan menghasilkan kesejanjangan dan ketidakadilan? Dan, ketiga, bagaimana semestinya kegagalan pembangunan dan ketidakadilan itu diatasi, serta ditanggunggalangi?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved