Opini

Politik Persatuan

BANYAK ayat Alquran yang menekankan pentingnya persatuan. Satu di antaranya seperti kita tutip di atas

Politik Persatuan
Mufti Besar Ukraina, Sheikh Akhmed Tamim (kanan) berbincang dengan Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) yang baru terpilih, Tgk Hasanoel Bashry HG (dua kanan) dan mantan Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Tgk Nuruzzahri atau Waled NU (kanan) usai acara Zikir Akbar, Istighasah dan Tausyiah di Dayah Thalibul Huda, Desa Bayu-Lamcot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Minggu (1/12). SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Nuruzzahri (Waled Samalanga)

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)

BANYAK ayat Alquran yang menekankan pentingnya persatuan. Satu di antaranya seperti kita tutip di atas. Syekh Sya’rawi (seorang ulama besar Mesir) dalam menafsirkan ayat tersebut, mengatakan bahwa masyarakat Arab pra-Islam selalu menjadi korban tipu-daya kaum kafir Quraisy, terutama suku Aus dan Khazraj yang selalu diadu-domba untuk saling bermusuhan, dan pada akhirnya saling berperang.

Terdapat tiga alasan; mengapa kaum kafir Quraisy kerap menjadi dalang perselisihan: Pertama, kafir Quraisy pemegang roda perekonomian, mereka leluasa melakukan praktik riba dalam transaksi pinjaman; Kedua, tampuk keilmuan dan intelektual dikuasi oleh mereka, dan; Ketiga, orang kafir Quraisy dikenal ahli dalam taktik peperangan dan politik propaganda.

Tiga alasan tersebut membuat mereka merdeka mengadu suku Aus dan Khazraj, sehingga sulit untuk bersatu. Dan mereka meraup keuntungan dengan terjualnya senjata di pasar-pasar. Ketika dakwah Islam membasahi daratan kota Mekkah yang gersang, satu persatu kekuatan mereka dihancurkan.

Menurut Sya’rawi, ada tiga strategi dakwah Islam dalam menguasai kaum kafir Quraisy, yaitu: Pertama, mempersatukan suku Aus dan Khazraj, dengan demikian roda perekonomian dikuasai umat Islam. Umat Islam mulai lebih banyak menginvestasi uang karena pengeluaran membelanjakan senjata untuk perang antar suku sudah berhenti;

Kedua, Islam datang membawa al-Kitab (Alquran) sebagai sumber pengetahuan. Dengan demikian tingkat buta huruf di kalangan bangsa Arab menurun, dan; Ketiga, menguasai taktik perang, terutama kekalahan telak kaum kafir Quraisy di Perang Badar.

Sulit bersatu
Uraian di atas secara eksplisit dapat dipahami bahwa faktor-faktor yang membuat bangsa Arab pra-Islam sulit bersatu ada pada defisit ekonomi, pengetahuan yang tertinggal, dan tidak memahami taktik perang.

Menurut hemat penulis, yang sangat berperan dari ketiganya adalah pengetahuan yang rendah. Karena bagaimanapun miskinnya sebuah komunitas manusia, jika memiliki tingkat intelektual yang tinggi sangat sulit untuk diadu. Sebaliknya, realitas yang tidak dapat disembunyikan terjadi pada masyarakat dengan peradaban megah dan modern sangat mudah tersulut emosi, lalu berakhir pada bunuh-membunuh karena faktor ekonomi.

Wawasan keilmuan yang lemah juga dapat melahirkan manusia beragama dengan fondasi persatuan yang rapuh. Mereka sangat mudah digoyang dengan isu-isu hoax yang mengatasnamakan agamanya. Tidak perlu melakukan tahqiq wa tadqiq (cek-ricek) terhadap berita yang datang kepadanya. Hal ini disebabkan semangat beragama tidak ditopang dengan fondasi keilmuan yang kuat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved