BI Bahas Pengembangan Sektor Potensial Aceh

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh mengadakan kegiatan diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional

BI Bahas Pengembangan Sektor Potensial Aceh
Zainal Arifin Lubis, Kepala BI Perwakilan Aceh

BANDA ACEH - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh mengadakan kegiatan diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) dan seminar pengembangan sektor potensial Aceh yang berorientasi ekspor dalam rangka mendukung penurunan current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan. Kegiatan yang juga dihadiri perwakilan sejumlah instansi terkait, pimpinan asosiasi, dan pelaku usaha ini berlangsung di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu (31/10).

Kepala BI Aceh Zainal Arifin Lubis menyampaikan bahwa di sisi ekonomi domestik, sejauh ini ketahanan perekonomian Indonesia masih cukup baik dengan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi domestik serta terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Namun, ada satu hal yang menjadi perhatian, yaitu perlunya upaya bersama menurunkan CAD di tengah terbatasnya aliran modal asing yang masuk.

“Inilah yang menjadi pertimbangan kami untuk menjadikan CAD sebagai tema diskusi,” ujarnya.

Dikatakan, sebagai pelaku ekonomi di Aceh, semua memiliki peranan untuk berkontribusi dalam mengurangi CAD Indonesia. Potensi ekonomi yang dimiliki Aceh dapat dioptimalkan untuk meningkatkan ekspor serta mengurangi impor.

Ia menyebutkan beberapa potensi Aceh, antara lain produktivitas padi yang trennya meningkat setiap tahun. Pada tahun 2015 sebesar 50,56 kuintal/ha, namun di tahun 2016 menjadi 51,34 kuintal/ha. Olah karena itulah harus dimanfaatkan dengan baik. Selanjutnya, kualitas kopi Aceh yang memiliki keunggulan dibandingkan daerah lain. “Masih perlu ditingkatkan produktivitasnya untuk memenuhi permintaan pembeli dari mancanegara,” sebut Zainal Arifin Lubis.

Disamping itu, Aceh juga memiliki lahan yang luas dan cocok untuk tanaman kedelai, khususnya di Aceh Timur. Ia menambahkan, Aceh sempat dijadikan salah satu target daerah lumbung kedelai pada program ‘Bangkit Kedelai’ pada 2014 oleh Kementerian Pertanian dengan percepatan tanam kedelai seluas 26.000 hektare.. “Namun hingga saat ini program tersebut belum berjalan sesuai harapan, salah satunya kendala bibit dan minat petani,” katanya. Narasumber yang hadir, antara lain perwakilan dari BI Pusat Juli Budi Winantya, Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto, dan Pengamat Ekonomi, Rustam Effendi.(una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved