Opini

Mentauhidkan Gen Y-Z dengan Medium TI

MENGOBATI penyakit dengan medium penyebab penyakit itu sendiri, bukanlah hal aneh dalam ilmu pengobatan

Mentauhidkan Gen Y-Z dengan Medium TI
Mobil berbahan bakar air dipajang pada stan Sumatera Utara pada kegiatan Gelar Teknologi Tepat Guna (GTTG) Nasional XVII dan Pekan Inovasi Perkembangan (PIN) Desa/Kelurahan Nasional I Tahun 2015 di Stadion Harapan Bangsa Lhoong Raya, Banda Aceh, Minggu (11/10/2015). Mobil tersebut dirakit khusus menggunakan air sebanyak 75 persen sebagai bahan bakar atau mengubah air menjadi sumber tenaga, selebihnya menggunakan bensin 25 persen. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Marah Halim

MENGOBATI penyakit dengan medium penyebab penyakit itu sendiri, bukanlah hal aneh dalam ilmu pengobatan. Bisa ular, misalnya, bisa diobati dengan bisa ular juga, tetapi tentu dengan menerapkan metode dan teknik yang tepat. 20 Tahun lalu, ketika kita diresahkan pada “serangan” TV swasta dengan berbagai tayangannya, maka ada pakar yang menyarankan bukan menyalahkan perkembangan TV, tetapi mengubah mindset dan prilaku dalam menonton TV. Sang pakar hanya menyarankan agar para orang tua menonton TV “bersama” anak; jangan menonton TV “dengan” anak. Kata “bersama” menunjukkan peran aktif orang tua membimbing anak dengan tayangan TV; sedangkan kata “dengan” menunjukkan sebaliknya.

Demikian halnya dengan menanamkan nilai-nilai ketauhidan bagi generasi Y dan Z. Dominasi teknologi dan informatika (TI) dalam semua aspek kehidupan kita saat tidak semestinya dikhawatirkan akan semakin menjauhkan manusia dari Penciptanya dan semakin menggerus imannya. Justru kita harus berpikir sebaliknya, eksistensi TI harus semakin mempertebal keyakinan kita akan eksistensi Tuhan, Allah Swt, yang dalam kajian tauhid zaman old disebut tauhid rububiyah. TI harus diperalat untuk mempertebal akidah dan medium pendidikan akidah kepada gen Y dan Z.

Tauhid adalah fondasi jiwa, titik start sekaligus titik tujuan dari jiwa. Sebagai titik start, tauhid ibarat rel bagi kereta api dan landasan pacu bagi pesawat terbang. Sebagai titik tujuan, tauhid tauhid adalah kompas atau mercusuar yang membimbing langkah dan gerak manusia agar tidak berjalan menuju arah yang salah. Perubahan sosial (alat, waktu, tempat, dan situasi-kondisi) meniscayakan perubahan pemahaman akidah. Pemahaman tauhid old tersebut kini butuh “now-isasi”. Bukan tauhidnya yang diubah, tetapi pemahaman dan cara memahamkan tauhid (pendidikan tauhid) yang harus diubah, agar tauhid disadari sebagai satu kebutuhan pokok utama dari jiwa manusia.

Memperkenalkan Tuhan
Menurut Djayadi Hanan dalam opininya “Berebut Milenial” di Harian Kompas, ciri generasi milenial adalah generasi yang serba: serba terhubung, serba baru, serba cepat, dan serba instan; dalam konteks pembicaraan tentang pendidikan tauhid ini, tampaknya layak untuk menambah satu serba lagi, yaitu serba nyata (konkret). Memperkenalkan Tuhan kepada generasi milenial tidak cukup dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dibayangkan wujudnya dan karena Tuhan gaib, maka tidak perlu membayangkannya; tugas kita manusia hanya meyakini keberadaannya.

Untuk generasi Baby Boomers dan generasi X, pendekatan keyakinan dengan yang ghaib itu mungkin masih efektif menginternalisasi nilai-nilai tauhid, sehingga efektif juga mengendalikan prilaku. Bagi generasi ini, keyakinan bahwa Allah mengetahui apa saja yang kita lakukan, baik di tempat tertutup sekalipun tidak ada sesiapa yang melihat. Keyakinan ini sudah lebih dari cukup untuk mencegah seseorang dari prilaku seperti mencuri, melanggar, mencopet, menyontek, mengutil, dan sebagainya. Tapi bagi generasi Y dan Z yang lebih cepat matang kecerdasannya karena akses yang cepat terhadap informasi harus digunakan cara-cara yang kreatif, inovatif, dan out of the box.

Satu pendekatan yang perlu diajarkan kepada anak sejak dini adalah kemampuan dan kemauan untuk “mengeksplorasi Tuhan” dengan perantaraan gawainya. Gawai yang ada di tangan anak harus “diperbudak” untuk menjadi medium meneguhkan kekuasaan Allah. Anak bisa diajak merenungkan bagaimana Allah memberi sedikit kemampuan pada manusia untuk membuat alat-alat komunikasi yang nirkabel, memakai pulsa yang tidak terlihat sama sekali. Tetapi bisa diatur kuotanya, bisa berkirim pesan tertulis atau gambar, bisa menyimpan data, dan berbagai kemampuan lainnya yang intinya membuat pekerjaan kita menjadi lebih cepat, lebih tepat, lebih selamat, dan seterusnya.

Kekaguman anak pada gawai harus bisa dialihkan menjadi kekaguman pada Sang Pencipta gawai itu. Ada berapa banyak ilmuwan di berbagai belahan dunia yang masuk Islam karena terpana dengan penemuannya sendiri. Maurice Bucaile, pakar bedah jempolan dari Perancis bersyahadat hanya karena meneliti jasad Fir’aun (Paraoh) di Mesir. Jacques Yves Costeau, oceanografer dan penyelam profesional, juga dari Perancis yang bersyahadat karena menemukan pertemuan “dua lautan”, laut dengan air tawar bertemu tapi tak bercampur satu sama lain. Fenomena yang membuatnya tidak habis pikir. Berikutnya, Fidelma O’leary, pakar saraf yang bertauhid melalui temuannya yang mencengangkan dari sujud dalam shalat. Ternyata sujud membuat darah mengalir ke sel khusus yang ada di otak.

Cara Allah memperkenalkan akidah kepada manusia adalah dengan ajakan atau seruan untuk memperhatikan atau mempelajari benda-benda di langit dan di bumi. Gunung, laut, angin, api, tanah, dan sebagainya adalah media yang digunakan oleh Allah untuk meneguhkan eksistensinya. Sekaligus ajakan dan seruan itu adalah untuk menggali rahasia di balik semua itu. Apa yang ada di gunung, hutan belantara, dalamnya lautan, tata surya, tatanan alam semesta, dan sebagainya adalah bukti eksistensi Allah itu sendiri. Manusia diseru untuk mempelajari eksistensi dan fungsi dari semua itu. Semakin dikaji dan semakin dipelajari dengan berbagai disiplin ilmu, maka semakin mendekatkan

Umat Islam dengan Alquran seharusnya menjadi yang terdepan dalam penguasaan TI, karena semua obyek yang membutuhkan TI diperkenalkan dengan lengkap di dalam Alquran. Misalnya bagaimana Allah menantang manusia untuk mempelajari prilaku burung yang terbang tinggi di udara; secara tidak langsung Allah telah memberi sinyal bahwa penguasaan dirgantara itu mungkin. Demikian halnya dengan penguasaan teknologi informasi yang elemen dasarnya tidak lain adalah zat-zat yang diperkenalkan Allah potensinya untuk diolah seperti api, besi, air, dan angin; tanpa marterial dasar itu tidaklah mungkin manusia menemukan dan menciptakan benda apa pun yang menjadi simbol kemajuan saat ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved